
Suasana langsung hening seketika dan hanya terdengar sering ponsel milik Ghadi yang berbunyi karena telepon dari Galen. Ghadi menatap orang-orang yang tadi tengah ribut, kemudian meletakan jari telunjuk nya di depan bibirnya, seolah mengatakan untuk mereka diam saja. Sedang tangan yang satunya langsung mengangkat telepon dari Galen dan langsung menekan tombol loudspeaker.
" Aku menemukan filenya.. Empat belas yang lalu kan? Tapi tepatnya kapan? " suara Galen terdengar bertanya dari sana.
" Ehm.. Kapan ya? " tanya Ghadi mencoba berpikir.
" Tanggalnya aku tidak ingat, tapi saat itu ada pesta di clubs milikmu.. Yang aku ingat saat itu ada masalah dimana seharusnya pesta itu berlangsung tanpa alkohol, tapi berubah menjadi pesta alkohol.. Aku dan Pome mabuk, tapi tidak parah.. " Rouge langsung mendekat.
" Oke.. Aku ingat tanggalnya.. Setahu ku memang hari itu ada masalah dan aku memecat beberapa pegawai ku karena masalah itu.. Tunggu satu menit, akan aku kirimkan video nya.. " Galen mematikan panggilannya.
Kemampuan otak Galen dalam mengingat sesuatu memang tidak perlu diragukan lagi. Dia bisa mengingat dengan jelas meski itu adalah kejadian waktu dia masih kecil, karena Galen adalah orang yang memiliki kemampuan mengabadikan setiap momen di dalam hidupnya. Otaknya sangat jenis sehingga bisa menyimpan gambaran kejadian yang dilihat Galen, kemudian menjadikannya seperti sebuah album.
" Tidak salah meminta bantuannya.. Otaknya luar biasa.. " Ghadi terkekeh.
" Hm.... Jika dia menjadi orang jahat, maka semua negara di dunia ini akan kewalahan untuk menanganinya.. " ujar Claude menimpali ucapan Ghadi.
Satu menit berlalu, dan ponsel Ghadi kembali berbunyi nada singkat pertanda ada pesan masuk. Ghadi keluar dari ruangan itu meminta pada pegawainya untuk membawakan laptop miliknya ke ruangan ini. Mereka akan menonton kilas balik kejadian yang sebenarnya empat belas tahun yang lalu.
Mereka duduk berjajar, di tengah ada Ghadi tepat di depan laptop. Samping kiri ada Roige dan Marisha, sedangkan di samping kanannya ada Nator dan Claude. Mereka sama-sama menonton rekaman CCTV yang sudah diputarkan oleh Ghadi sesuai jam saat peristiwa itu terjadi.
__ADS_1
Dalam rekaman CCTV itu terlihat Rouge memapah Pomela diikuti oleh Marisha di belakangnya. Kemudian sampai di mobil, Marisha masuk ke ponti belakang lebih dulu, entah apa yang dilakukan tidak begitu terlihat. Barulah Rouge memapah Pomela masuk di kursi penumpang samping kursi pengemudi. Rouge memutari mobil dengan cara berjalan yang masih tegap, menandakan dirinya tidak terlalu mabuk.
Belum mobil itu meninggalkan parkiran, nampak seorang pria dewasa datang menghampiri mobil Rouge dan mengetik kaca pintu samping kemudi. Tidak lama setelahnya Pomela turun dan mengikuti pria itu pergi. Mobil Rouge pun meninggalkan parkiran setelah Pomela turun.
Nator mengulang beberapa kali video itu, guna memastikan dengan benar apa yang dia lihat itu. Apakah ini benar, atau sebuah rekayasa. Tapi jika itu rekayasa, kenapa Galen bisa membuatnya secepat itu.
" Kau bilang harus melihat beberapa video untuk menemukan video aslinya. Lalu kenapa ini cuma ada satu video? " tanya Nator.
" Dia sudah menyatukan semuanya. Di dalam database yang dimiliki Galen, punya sistem tersendiri sehingga dia yang melihat, semua rekaman CCTV sudah menyatu berupa film. Sistem keamanan di mansion pribadinya juga begitu.. " jawab Ghadi menerangkan.
" Tapi,, tidak kah kalian merasa wajah pria itu tidak asing, meski tidak jelas.. Tapi aku rasa dia itu orang yang kita kenal.. " lanjut Ghadi mengucapkan firasatnya.
Ghadi mencoba mengetik di ponsel miliknya kemudian dia meletakan ponselnya di atas meja dan setelahnya dia berpose menunggu. Tentu saja tingkahnya itu membuat Rouge heran, disaat genting seperti ini dia masih melawak. Hendak menegur Ghadi, tapi suara Nator memecahkan keheningan di antara mereka.
" Aku tidak asing dengan wajah itu, sepertinya dia bukan orang biasa.. Tapi lama sudah aku tidak pernah melihat wajah itu berkeliaran.. " ucap Nator.
" Hm.. Aku rasa juga begitu,, sudah lama tidak melihat wajah-wajah seperti itu. " Ghadi membenarkan.
" Sudah jangan asal tebak.. Kita tunggu saja,, kau bertanya pada Galen kan? " ujar Claude memastikan tebakannya.
__ADS_1
" Hahahahaha. Benar sekali.. Pada siapa lagi kita bertanya jika bukan padanya. Jika aku merasa kenal, berarti Galen juga kenal. Mudah baginya mencari tahu, karena dia memegang seluruh kendali di JN.. " Ghadi nyengir karena ketahuan rencananya. Padahal dia sudah sok cool tadi.
Marisha geleng kepala menyaksikan kekonyolan saudara sepupu suaminya itu. Disaat genting begitu masih saja bisa tertawa. Belum lagi jika diingat, pria ini memang sudah seperti ini sejak dia masih kecil dulu. Marisha jadi tertawa geli mengingat Ghadi yang selalu membuat Geya kesal karena tingkah nya. Marisha merindukan masa itu, ketika mereka masih bersekolah.
Suara di dalam ruangan itu hanya didominasi oleh Ghadi dan Claude, selain kedua orang itu, yang lainnya terlihat diam, sibuk dengan pikiran sendiri. Tidak masalah, yang penting tidak ada baku hantam. Karena meski Rouge terlihat berbadan lebih kecil dari Nator, tapi jangan disepelekan. Dia menjadi CEO JM SD corp, jadi tidak mungkin kemampuannya hanya biasa-biasa saja.
Detik demi detik berlalu, baru lima belas menit tapi sudah seperti berjam-jam mereka menunggu balasan dari Galen. Apakah pria itu sedang sibuk dan tidak menerima pesan dari Ghadi, atau kan pria itu tengah sibuk mencari tahu siapa pria itu. Semua orang mulai berpikir kearah situ, tapi tiba-tiba ponsel Ghadi berbunyi lagi.
Ghadi membukanya terlebih dulu sebelum menunjukan pada yang lain. Tapi sungguh Ghadi tidak menyangka apa yang dibacanya kali ini. Raut wajah Ghadi tidak lagi bisa dibaca, bahkan semuanya penasaran tapi tidak berani menyela. Hingga terdengar helaan nafas dari Ghadi setelah selesai membaca pesannya.
" Pria itu adalah anak seorang pengusaha. Ayahnya memiliki banyak outlet mini market, sedangkan ibunya adalah seorang desainer.. Sayangnya pria ini meninggal dunia tepat satu bulan setelah kejadian di clubs Galen.. Lihatlah sendiri.. " ucap Ghadi dengan wajah serius dan nada suara yang tak kalah serius.
" Dia... " Marisha menunjuk foto yang ada di ponsel Ghadi, " Benar itulah pria yang dekat dengan Pome saat itu. Pria itu menyatakan ketertarikan nya pada Pome ketika aku, Geya dan Pome pergi ke sebuah cafe di wilayah utara kota Milan.. " Marisha membenarkan.
Nator mengambil ponsel milik Ghadi dari tangan Rouge. Dia membaca informasi tentang pria itu, memang benar pria itu sudah meninggal di usia yang masih sangat muda, dua puluh tujuh tahun. Penyebab kematiannya adalah kecelakaan beruntun, dan mobil yang dia kendarai adalah salah satu korban dari truk yang kehilangan kendali.
Tak...
Ponsel Ghadi terjatuh di meja karena tangan Nator yang bergetar saat memegangnya. Tubuh Nator menegang, tidak percaya apa dia lihat ini benar atau tidak. Tapi pria itu mirip sekali dengan satu nama yang dikenal olehnya.
__ADS_1
" Veasha.. " gumam Nator.