
Apa yang dinantikan semua orang akhirnya benar-benar keluar dari ruangan operasi Marisha. Dokter yang menangani Marisha baru saja keluar, belum sempat menghela nafas langsung dikerubuti semua orang yang ada di luar ruangan itu. Tentu dokter ini paham dengan kekhawatiran semua keluarga pasien, dan memaklumi itu semua.
" Maaf dok.. Bagaimana putri saya? " tanya papa Theo maju paling depan karena merasa di adalah memang ayah bagi Marisha meski itu hanya menantunya.
" Kondisi pasien sudah stabil kita lihat malam ini dulu, jika malam ini bila dilewati maka masa kritis juga bisa dilewati. Kami akan meletakan pasien di ruang ICU terlebih dahulu. Dan apakah bisa salam satu perwakilan dari keluarga ikut saya ke ruangan? Saya ingin menjelaskan dengan detail kondisi pasien.. " tanya dokter. Tidak mungkin sekitar sepuluh orang ini masuk ke ruangannya semua.
" Kalau berdua boleh dok.. Karena saya kakak pasien.. " Dettus maju.
" Saya suami pasien.. " Rouge juga maju. Mereka berdua saling menatap sinis satu sama lain. Sepertinya tugas Marisha akan berat karena kakak dan suaminya tidak bisa diajak akur.
" Ooohh.. Tentu saja boleh.. Mari ikut saya.. " dokter tadi langsung menghentikan aura permusuhan dari kedua orang yang mengaku paling dekat dengah pasien.
Begitu memasuki ruangan tanpa dipersilahkan Rouge langsung duduk di kursi yang biasanya digunakan untuk pasien saat sedang periksa. Dettus pun mengikuti, yang tidak sopan pertama kalo bukan dia jadi dia biasa saja dengan hal itu. Dokter pun berbalik dan duduk sambil membawa berkas pemeriksaan awal Marisha hingga operasi yang memakan waktu hampir empat jam itu selesai.
" Saya akan menjelaskan dengan istilah awam saja karena jika dengan istilah kedokteran anda pasti tidak begitu memahami... " dokter itu tersenyum.
" Pasien mengalami cidera yang paling parah di bagian pinggul ke bawah. Saya dengar pasien melindungi putra kecilnya yang dia gendong saat kejadian, jadi karena itu cidera lebih banyak di bagian pinggul ke bawah. Ada beberapa cidera di bagian kepala tapi tidak separah di bagian pinggul nya. Disini saya bisa mengatakan karena cidera itu, bagian ginjal pasien salah satunya tidak lagi bisa berfungsi dengan baik, jadi beliau harus meneruskan hidupnya hanya dengan satu ginjal.. "
Degh...
__ADS_1
Dada kedua pria di depan dokter itu merasa seperti diremas-remas, begitu menyakitkan. Hidup dengan satu ginjal tidaklah gampang, resiko terburuk adalah ginjal itu juga gagal berfungi bisa-bisa Marisha akan menjalani sisa hidupnya dengan cuci darah jika tidak menemukan donor ginjal. Rasanya ini terlalu berat jika Marisha yang mengalami, apa dia akan bisa menerima ini semua ketika dia terbangun nanti.
" Maaf saya paham betul ini berat bagi keluarga pasien dan tentunya pasien. Tapi disini saya menjelaskan hal ini pada anda selalu keluarga agar anda bisa ikut membantu kami tenaga medis menjaga dan mengawasi pasien saat tidak berada di jangkauan pengawasan kami nanti.. " ujar ibu dokter ini.
" Pinggul mengalami beberapa patah tulang dan di bagian tulang paha ada mengalami retak, sehingga untuk sementara waktu pasien tidak akan bisa menggunakan kakinya, hanya sebentar saja. Karena beruntung sekali meski bagian bawah yang dihantam mobil, untuknya tulang belakang pasien tidak terkena dampaknya. Mukjizat Allah bekerja pada pasien yang melindungi putra kecilnya.. "
Benar,, daripada menyalahkan takdir dan menyalahkan diri sendiri lebih baik bersyukur setidaknya Marisha tidak harus menjalani hidup dengan bergantung pada kursi roda. Meski dengan ginjal satu itu berat tapi setidaknya Marisha masih bisa beraktifitas meski tidak boleh yang berat-berat.
" Dan satu lagi tuan.. Saya informasikan bahwa kandungan pasien terpaksa kami angkat karena rahim pasien robek karena tulang punggul yang mendesak ke arah rahim. Saya berharap suami dari pasien bisa memahami tentang hal tersebut.. " dokter tadi mengakhiri penjelasannya.
Baik Rouge maupun Dettus keluar ruangan dengan tubuh yang lemah tidak berdaya. Seberapa sakit yang Marisha rasakan, andai mereka bisa ikut merasakan dan berbagi sehingga tidak perlu hanya Marisha yang kesakitan.
Rouge menguatkan hati dan tekadnya, dia akan tetap mendampingi Marisha sampai kapan pun meski akhirnya mereka akan bercerai. Ini sebagai. bentuk pertanggung jawabannya pada Marisha yang rela mengalami ini semua demi putra mereka. Marisha pasti menolak itu semua, Rouge tahu dan dia akan tetap berusaha meyakinkan Marisha untuk menerima niatnya.
" Apa yang akan kau lakukan? Dia sudah menggugat cerai dirimu tadi pagi.. " tanya Dettus memang sedikit penawaran.
" Aku akan tetap mendampingi nya, apapun yang terjadi aku akan di sampingnya.. " jawab Rouge mantap.
" Tapi jika keberadaan mu di sampingnya hanya menyakiti dirinya apa yang akan kau lakukan? " Rouge menatap Dettus dengan tatapan tajam namun melembut seketika karena tahu maksud pria ini.
__ADS_1
" Jika secara terang-terangan tidak bisa maka aku akan melakukannya secara diam-diam. Memberi dukungan tidak harus selalu diketahui oleh orang yang bersangkutan.. " Rouge berucap dengan tegas dan yakin.
" Andai sejak awal kau bisa setegas ini, apa yang Marisha alami tidak akan sepahit itu... Kau adalah seorang pria, sudah jelas kau harus tegas pada apa yang kau jalani dan pilih. Sehingga orang yang mengikuti mu tidak akan bimbang seperti apa yang dialami Marisha. " Rouge membenarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Dettus. Memang ini sebagian besar karena salahnya, Rouge juga tidak ingin marah, ataupun mengamuk, karena ini semua adalah salahnya.
Kedua orang ini kembali menghampiri keluarga mereka yang ternyata sudah pindah ke kamar rawat Marellyn yang tadi pingsan dan Jade yang perlu pengawasan intensif takut jika ada gejala yang muncul belakangan akibat kecelakaan tadi. Karena biasanya gejala tidak langsung muncul saat itu juga, dan itulah yang paling harus diwaspadai.
Rouge menatap tubuh kecil Marellyn dengan perasaan penuh rasa bersalah. Putri kecilnya ini semakin kurus dari terakhir kali dia lihat sebelum dia menculik twins. Lama sekali bukan, dan selama itu Rouge seolah tidak peduli pada putri kecil yang dulu selalu dia manjakan karena begitu mirip sifatnya dengan Geya.
Tangan Rouge terulur menyentuh pipi little princess nya yang sekarang tirus. Bibir Rouge bergetar maju ke depan untuk mengecup pelan dahi putrinya. Hatinya hancur melihat kesayangannya seperti ini. Air mata Rouge luruh seketika saat melihat mata putrinya terbuka, bahkan senyum merekah menghiasi wajah cantik putrinya.
" Akhirnya daddy pulang... " Ucap Marellyn lirih. Rouge langsung memeluk putri kecilnya ini dan menangis meraung mengutarakan betapa besar penyesalan dan kesalahan yang dia perbuat pada putri kecilnya ini..
...**********...
...Hai semua... Maaf ya aku kasih dua bab hari ini khusus untuk Rouge sama Marisha. 😁😁...
...Biar semua pada tahu dulu ya gimana cerita versi keduanya.. ...
...Dan satu lagi aku mau menyampaikan yang karya baru aku kemarin itu sampulnya diubah yang lebih baik sama noveltoon. langsung aja simak di akun aku ya.. ...
__ADS_1
...Selamat membaca...