
Sehari sebelum Twins Q menghilang
Marisha dan Rouge tengah duduk di dalam ruangan kerja Rouge yang ada di mansion Matheo, dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca. Marisha tengah memangku Jade, memandang wajah Rouge yang terlihat tengah marah karena sesuatu hal yang Marisha tahu apa alasannya.
Marisha telah menyetujui untuk bekerja sama dengan pria misterius yang mendukungnya selama ini. Cepat atau lambat, ekor rumahnya akan terlihat, jadi sebelum semuanya menyadari hal itu, Marisha harus lebih dulu melakukan pengamanan, demi Marellyn dan juga Jade, kedua buah hatinya.
Marisha diminta untuk mempengaruhi Rouge tentang jati diri sebenarnya Twins Q. Marisha harus membuat Rouge membawa pergi twins menjauh dari kedua orang tuanya. Memberikan beban kenal yang besar pada Geya yang telah diketahui saat ini tengah berjuang melahirkan anak keduanya bersama dengan Claude.
" Apa maksud mu bicara seperti itu? Sungguh tidak seperti diri mu yang beberapa hari lalu marah karena aku lebih memperhatikan Geya dan kedua anaknya dibandingkan dengan mu... " tanya Rouge sedikit curiga dengan perubahan sikap Marisha.
" Tidak kah kau merasa bahwa mereka berdua mirip dengan mu? Sungguh jika mereka adalah anak mu aku rela mengasuh mereka seperti anak ku sendiri asalkan kau tidak menceraikan ku... Aku juga akan membantu mu mendapatkan mereka berdua.. " Marisha berusaha untuk mempengaruhi Rouge.
" Tapi Geya mengatakan itu bukan anak ku, jika dia mengatakan seperti itu... "
" Jelas dia tidak akan mengatakan jika mereka anak mu karena takut kau mengambil mereka dari sisinya. Pernikahan Claude dan Geya sama sekali tidak bersamaan dengan kehamilan Geya. Geya lebih dulu mengandung setelah itu baru menikah dengan Claude.. " ujar Marisha memotong ucapan Rouge.
Mendengar ucapan masuk akal dari Marisha, sungguh Rouge merasa bahwa semua kecurigaan nya selama ini menjadi benar adanya karena ucapan Marisha barusan. Jika benar begitu, berarti benar twins adalah anaknya, karena itu dia bisa merasakan ikatan seperti ketika dia merasakannya pada Marellyn dan Jade. Karna twins adalah anaknya dengan Geya.
" Jika benar begitu apakah hanya itu yang kau inginkan? Aku yakin bukan hanya tidak ingin berceraikan tujuan mu membantu ku? " Rouge tersenyum sinis.
" Jangan menikahi Geya dan tidak menceraikan ku adalah syarat yang aku ajukan. Silahkan kau pikirkan lebih dahulu, tapi tanpa bantuan ku aku yakin kau tidak akan bisa membawa pergi kedua anak itu tanpa ada yang menyadarinya... " Marisha menyeringai.
__ADS_1
Sungguh amat disayangkan jika pada akhirnya keduanya hanya sebatas seperti ini saja. Bagaimana bisa keduanya tetap bersama hanya karena apa yang disebut dengan kesepakatan tanpa ada cinta di dalamnya. Benarkah keduanya harus berakhir seperti ini, sama-sama mengikat namun tidak memiliki dasar cinta. Sampai kapan?
Marisha merasakan miris sekali hidupnya, ketika cintanya harus dia gadaikan dengan kejahatan untuk tetap bersama dengan pria yang dia cintai. Marisha telah menodai cintanya terhadap Rouge hanya demi bisa terus memaksa pria itu berada di sisinya. Dengan menjadi jahat, Marisha rela asalkan bisa mendapatkan ayah dari anak-anak nya. Kedua anaknya tidak akan kehilangan sosok ayah untuk selamanya.
" Aku setuju... Kau atur semuanya aku ingin besok ketika semua orang terpaku pada masalah perayaan kelahiran anak Geya, kita akan membawa pergi kedua anak ku... " titah Rouge.
" Hm... Perlukah kau melakukan tes DNA untuk itu? " pancing Marisha.
" Tidak perlu... Mereka anak ku,, aku yakin itu.. "
Marisha tersenyum juga menangis secara bersamaan. Pikirnya terlalu jauh hingga bisa menjadikan posisi Geya dalam hati Rouge menjadi miliknya, namun nyatanya semua itu hanyalah anggannya saja. Itu tetap selamanya akan menjadi milik Geya, bukan dirinya atau wanita manapun di dunia ini.
...*********...
" Ma,, sebentar lagi ma.. Dua keluarga yang telah mendorong mu untuk jatuh ke jurang kematian, akan dengan mudah saling mendorong ke pintu kematian. Dendam kita sudah selangkah lebih dekat ma... " gumamnya tidak bisa menutupi rasa senangnya.
" Toby,, tidak sia-sia anak itu harus terluka karena menyelinap ke tempat musuh... Aku harus memberinya bonus yang besar karena kesuksesan ini... " ujar pria misterius itu tertawa senang.
Dia bergegas keluar dari ruangannya untuk menginstruksikan kepada beberapa anak buahnya yang akan membantu proses eksekusi yang akan dilaksanakan besok. Semangat pria misterius ini begitu membara karena dia sedikit lagi akan bisa mencapai tujuannya.
" Kita lihat... Seberapa kuat kalian bertahan dari badai yang akan aku hadiahkan untuk kalian... " batin pria misterius itu menyeringai....
__ADS_1
...*********...
Kembali ke masa sekarang, semua orang di mansion de Niels masih belum menemukan titik terang keberadaan dari twins dan juga Rouge. Yang paling membuat pusing kepala adalah keterangan Roseline yang mengatakan bahwa Marisha berada di mansion Matheo seorang diri tanpa Rouge. Dengan begini sudah pasti bahwa putra papa Theo itu sedang berada di suatu tempat lain bersama dengan twins.
Geya sendiri kondisinya sudah drop, tadi sempat bangun kemudian dia harus pingsan lagi begitu mengetahui siapa yang membawa anak kembarnya. Geya sungguh sudah tidak mampu berpikir jernih karena hilangnya twins Q secara mendadak seperti ini. Claude dengan setia memantau kondisi istrinya meski dia tidak menemani karena harus mencari keberadaan anak kembarnya.
Claude duduk di sebuah kursi yang di depannya terdapat sekitar lima belas layar LCD yang menampilkan rekaman CCTV di jalanan yang mengarah keluar dan masuk ke mansion utama de Niels. Hingga sepuluh menit pertama, Claude masih belum menemukan petunjuk apapun. Tidak ada yang mencurigakan dari apa yang terlihat di CCTV sampai matanya tertuju pada satu titik.
" Sial... CCTV ini sudah dibajak... "
BRAKK
Claude membanting kursi yang dia duduki tadi. Emosi sudah sampai ke ubun-ubun dan menunggu untuk meletus begitu saja jika dia tidak lagi bisa menahannya. Sialnya selama sepuluh menit tadi dia tidak tahu bahwa sudah masuk perangkap musuh karena CCTV itu sudah dibajak sehingga hanya memutar 2 menit video yang terus diulang.
Claude mencengkeram erat meja yang ada di depannya, dia sudah kepalang marah saat ini. Ingin sekali dia menembak kepala siapa saja orang yang akan mengganggunya. Pikirannya bercabang antara istri dan juga kedua anaknya. Bagaimana dia bisa menemukan sebuah cara untuk bisa memancing keberadaan Rouge..
" Galen apa jika aku berlaku kasar pada keluarga mu kau akan memusuhi ku? " celetuk Claude membuat beberapa orang di sana sedikit terkejut.
" Brother,, what do you mean? " tanya Galen mulai was-was.
" Aku bersumpah pada Geya bahwa aku tidak akan pernah menyentuh Rouge meski seberapa besar sakit yang Rouge toreh untuknya. Tapi kini dia sudah berani melanggar batas kesabaran ku... Bolehkah, jika aku menghajarnya bahkan menghilangkan nyawanya? " Claude terlihat begitu putus asa. Galen terdiam tidak berani berucap karena yang dihadapinya adalah seorang pria yang tengah putus ada kehilangan anaknya.
__ADS_1