
Pengakuan yang dibuat Lucas tentu saja membuat keluarga de Niels diliputi kabut tebal seperti sedang melakukan pemakaman. Sungguh kejadian saat itu, saat dimana mommy Noura yang terkena lemparan baru dari Dealona dan akhirnya daddy Joaquin bertindak dengan membuat hancur bisnis milik Dealona. Namun setelah itu seolah tidak peduli, daddy Joaquin memang sama sekali tidak menanyakan ataupun mencari tahu tentang Dealona dan Viktor lagi. Pasangan ini memiliki anak pun, daddy Joaquin sama sekali tidak tahu.
Mungkin benar apa yang dikatakan Lucas, bahwa mereka terlalu arogan karena saat itu memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Bahkan kelompok mafia yang daddy Jaoquin bentuk menjadi kelompok mafia baru yang memiliki kekuasaan diatas kelompok mafia lama. Namun justru karena saat itu mereka berada di puncak, sisi arogan mereka keluar dan mengakibatkan sesuatu yang buruk telah terjadi.
Daddy Joaquin adalah orang yang terakhir tahu tentang cerita sebenarnya karena memang ditutupi agar kesehatan jantungnya tidak memburuk. Lihatlah karena dia tahu sekarang ini daddy Joaquin bahkan hanya termenung diam tidak melakukan apapun selain duduk di kursi menghadap jendela kamarnya. Masa-masa kelam yang dia kubur tiba-tiba saja keluar hingga akhirnya menjadi sesal dan membangkitkan rasa trauma nya dulu.
" Apakah ini yang namanya kutukan? Dan ternyata aku tidak ada bedanya dengan orang itu, meski aku tidak melakukan dengan sengaja.. " gumam daddy Joaquin miris.
Saat usianya masih belia dia menjadi korban penganiayaan oleh pamannya sendiri yang juga membunuh kedua orang tuanya. Merebut semua yang Joaquin muda miliki, bahkan karena penganiayaan itu, kaki Joaquin muda lumpuh total selama bertahun-tahun. Lalu sekarang, karena sifat arogannya, daddy Joaquin melakukan apa yang pernah pamannya lakukan, menjadi seseorang yang menghancurkan hidup dan keluarga anak lainnya..
Ucapan bibinya saat itu telah menjadi nyata. Kutukan yang dilontarkan bibinya telah benar-benar terjadi bahkan jauh sebelum daddy Joaquin mengetahuinya.
" Lihat saja suatu saat nanti.. Darah kalian yang sama akan membawa kalian pada takdir yang sama. Hari itu, dimana kau akan menjadi seperti paman mu sendiri, dan aku akan tertawa bahagia... "
Begitulah seingat daddy Joaquin saat bisnis keluarga pamannya hancur di depan matanya. Benarkah bibinya yang hanya manusia itu bisa memberikan kutukan?
__ADS_1
...************...
Langit pagi ini begitu cerah, secerah harapan yang akan dibangun seorang wanita cantik yang tengah merias wajahnya di depan cermin karena ini hari pertamanya melepas semua beban dalam hidupnya dan berjuang demi hidup baru yang telah dia putuskan.
Marisha, hari ini akan melayangkan surat gugatan cerai pada Rouge. Kemudian dengan apa yang doa kumpulkan selama ini akan dia jadikan sebagai pegangan hidup untuk membawa kedua buah hatinya pergi ke negara lainnya, yang jelas jauh dari Milan. Toh ada mereka ataupun tidak ada keluarga suaminya tidak peduli amat, jadi lebih baik selagi anak-anaknya masih kecil, selagi ingatan mereka belumlah sebaik anak yang sudah beranjak dewasa, Marisha berniat membawa mereka pergi sejauh mungkin memulai hidup baru. Hanya bertiga, dirinya dan kedua buah hatinya.
Jujur saja Marisha selama ini tidak bodoh, dia membeli beberapa saham di perusahaan yang berpotensi di masa depan dengan uang simpanannya. Setelah sekian lama, kini dia tinggal menuai apa yang dia tabur, tanpa bekerja sekalipun dia akan tetap mendapatkan penghasilan dari saham miliknya.. Marisha juga berencana untuk membuka usaha di negara tempat tinggalnya lagi. Menerima nasib hidupnya yang tidak akan pernah sebaik Geya. Yah mungkin dia di kehidupan yang lalu adalah seorang penyelamat Dunia, karena iri Geya bisa bahagia sekarang. Pikiran konyol itulah yang bisa membuat Marisha bangkit.
" Sha.. Sudah selesai? " Dettus melongok melihat ke kamar Marisha yang memang pintunya tidak dikunci.
" Hm.. Kita berangkat sekarang agar tidak kemalaman sampai di Milan.. "
Keduanya lekas keluar dan segera masuk ke mobil, dan perjalanan menuju kota Milan untuk menggugat cerai Rouge pun dimulai. Tanpa tahu saja apa yang sedang pria itu lakukan saat ini.
Rouge masih duduk di bangku bartender sejak semalam. Bahkan di sekitarnya sudah banyak sekali botol minuman keras yang tercecer karena banyak juga yang dia minum sejak sore kemarin hingga pagi menjelang siang ini. Pemilik club itu bahkan sampai menutup club miliknya ini karena adanya Rouge di dalamnya.
__ADS_1
" Ck... " pemilik club datang dan langsung berdecak kesal melihat kekacauan yang diciptakan Rouge.
" Buang saja pria brengsek itu dan segera bereskan kekacauan ini!!! " perintah nya tidak bisa diganggu gugat.
" Sialan kau Oge.. Aku pasti akan membuat mu membayar ini semua.. Enak saja jika aku kau suruh bersedekah pada mu.. " gumam pemilik club itu langsung menghubungi saudara Rouge dan asisten Rouge untuk menjemput pria menyedihkan ini.
Pemilik club lantas pergi dari sana menuju ke ruangan nya untuk melihat sebanyak apa kerugian dia karena Rouge. Jelas dia akan benar-benar menghitung dan menagih nya pada Rouge. Mengingat dia harus menutup Club miliknya karena Rouge yang mengamuk dan memesan semua botol minuman keras itu, membuat dirinya kesal setengah mati.
" Sekalian saja jangan pernah bangun lagi.. Hidupmu hanya bisa menyusahkan ku saja.. Belum masalah berita itu terselesaikan kau sudah membuat club pribadi milik ku merugi.. " gerutu bos Heaven Ares itu di dalam lift menuju ke ruangannya di lantai sepuluh.
Di lantai tiga tempat dimana Rouge berada, yang bertugas menjemputnya adalah adik bungsunya Romero. Begitu datang Romero sangat terkejut melihat ulah sang kakak. Romero menggelengkan kepalanya lekas memapah tubuh kakaknya keluar dari tempat itu sebelum pemiliknya menyerahkan bill kekacauan kakaknya ini pada dirinya.
" Haish... Kenapa kau berat sekali sih..? " kesal Romero membanting tubuh Rouge ke kursi belakang mobilnya. Bahkan diperlakukan begitu saja Rouge tidak bangun berarti benar-benar mabuk berat pria ini.
" Siap-siap saja kau mendapatkan amukan dari singa tidur itu karena telah membuat properti pribadinya kau buat kacau berantakan begini. " gumam Romero langsung membawa mobilnya menuju ke mansion Matheo.
__ADS_1
" Kenapa kau jadi pria gagal total begini kak.. Padahal dulu kau terlihat paling terarah diantara kita semua anggota generasi kedua de Niels. Tuhan memang Mahatahu dan Mahakuasa. Lihat diri mu, menjadi pria tidak berguna sekarang ini.. " gumam Romero dengan sesekali melihat Rouge dari kaca spion tengah.