
Seminggu sudah Geya menjadi pianis di yayasan Kasih Ibu. Dan selama seminggu itu semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Geya menikmati hari-harinya di yayasan, bersama dengan anak panti dan juga para penghuni panti jompo. Melihat mereka semua membuat Geya mensyukuri hidupnya, karena baginya ada hidup yang lebih menderita jika dibandingkan dengan dirinya. Setidaknya dia masih punya keluarga yang mendukungnya, sedangkan mereka yang tinggal di panti ini bahkan tidak memiliki keluarga.
Pagi ini seperti biasa Geya sedang duduk di meja makan menantikan Thalita selesai memasak sarapan mereka. Semalam Geya sengaja request ingin sarapan dengan menu nasi goreng seafood. Ini merupakan salah satu bentuk ngidamnya Geya.
Ting..... Tong....
Geya terkejut karena sepagi ini sudah ada yang membunyikan bel rumahnya. Apalagi selama ini memang jarang ada yang membunyikan belum rumahnya selain pengirim makanan yang memang dia pesan.
" Kak, apa kau memesan sesuatu? " tanya Geya.
" Tidak... Kau duduk saja di sini, aku melihat keluar sebentar. " Thalita meninggalkan dapur menuju ke pintu rumah yang dia dan Geya tempati.
" Selamat pagi, benar ini kediaman Miss.... Geya? " tanya seorang pria yang sepertinya adalah pengantar barang.
" Benar, ada yang bisa kami bantu? " tanya Thalita heran.
" Ini ada kiriman untuk Miss Geya. Apa Miss Geyanya ada? Saya membutuhkan tanda tangan beliau sebagai bukti paket ini sudah diterima.. " ujar pria pengantar barang itu.
" Boleh jika saya yang mewakilkan untuk tanda tangan? " tanya Thalita yang tidak ingin merepotkan Geya hanya untuk menerima paket.
" Tentu saja nona, silahkan sertakan juga nama anda.. " pria pengantar itu menyerahkan ponselnya agar Thalita bisa melakukan sign electronic.
" Terima kasih nona... "
" Terima kasih juga, pak.. "
Thalita membawa paket itu masuk sambil kedua tangannya menggoyang-goyangkan paket itu. Doa harus memastikan paket itu aman sebelum dirinya memberikan paket tersebut pada Geya.
" Siapa yang mengirim paket ya? Kalau tuan muda kenapa tidak ada pemberitahuan dulu? " tanya Thalita bingung.
" Siapa kak? " Geya bertanya dengan sedikit berteriak dari dapur saat mendengar langkah Thalita mendekat.
" Ge, kau pesan paket? " Thalita mencoba memastikan.
__ADS_1
" Tidak... Kenapa? "
" Ini ada paket untuk mu, tapi tidak ada nama pengirimnya. " sesal Thalita tidak bertanya pada pengantar barang tadi.
" Kita buka sama-sama saja kalau begitu.. "
Geya mengambil paket yang dibawa oleh Thalita menggoyangkan nya sebentar, lalu dia mulai membuka paket tersebut. Kening Geya berkerut kalau mendapati sebuah kertas memo dengan tulisan tangan entah siapa di sana.
Good morning, baby girl,
Aku berharap kau mendapatkan hari yang ini dah hari ini. Aku punya sesuatu yang aku yakin kau akan menyukainya. Semoga bisa menjadi teman hati indah mu...
your secret admirer
Kening Geya berkerut ketika membaca memo kecil yang ada di luar kotak yang entah apa isinya. Dia sempat berpikir kira-kira siapa yang mengirim ini untuknya, pasalnya jika itu Galen, dia tidak akan membuat memo seperti ini. Mencoba berpikir keras namun satu nama pun tidak bisa terlintas dibenak Geya. Akhirnya dia memilih untuk membuka kotak yang ada di depannya itu..
" Waoooowwww.. it's beautiful. " puji Geya ketika melihat aksesoris gelang yang berbentuk unik terbuat dari batu berlian.
" Tapi aku rasa ini berlebihan, siapa ya yang kira-kira mengirim ini untuk ku? " tanyanya heran.
" Entah aku juga tidak tahu. Tapi kalau ini dari keluarga ku, aku rasa tidak... My secret admirer??? "
Tidak mau pusing memikirkan sesuatu yang tidak jelas dan pasti, Geya memilih menyimpan barang-barang itu di dalam tas miliknya. Mungkin dia akan mencari tahu di yayasan nanti, mungkin saja yang mengirimkan gelang dan bonek anjing kecil ini adalah orang yayasan.
Geya berangkat bersama Thalita dengan berjalan kaki. Ritual yang selalu Geya lakukan untuk menjaga badan dan kesehatannya. Berjalan sepuluh menit di pagi hari adalah hal yang baik untuk kandungannya, karena itulah dia tidak mengeluh sama sekali meski harus pergi pulang ke yayasan dengan berjalan kaki.
Sesampainya di yayasan, Geya kembali dikejutkan dengan kiriman bunga untuk nya. Anehnya bunga itu adalah bunga mawar dengan warna-warninya, sesuatu yang begitu disukai oleh Geya. Apalagi di bunga itu juga ada sebuah memo yang kurang lebih isinya seperti apa yang Geya baca tadi pagi.
" Siapa ya kira-kira? " gumam Geya bertanya-tanya.
Tak mau pusing, Geya pun mengabaikan hadiah-hadiah yang tidak dia ketahui siapa pengirimnya. Geya hanya bersyukur masih ada yang bisa membuat hari-harinya jadi berwarna.
" Ge... " sapa kepala yayasan.
__ADS_1
" Bu Ela, selamat pagi.. " sapa Geya.
" Selamat pagi Ge.. Bisa ikut ke ruangan saya sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan.. " ajak ibu Camela.
" Boleh bu,.. " Geya menyanggupi.
Di dalam ruangan kepala yayasan yang bernuansa klasik dengan perpaduan warna coklat tua dan muda, juga ada aksen putih gadingnya, terlihat Ibu Camela tengah mencari sesuatu.
" Akhirnya ketemu juga... " seru ibu Camela merasa lega.
" Apa bu? " tanya Geya sedikit bingung.
" Ini adalah undangan untuk ulang tahun perusahan Smith Ekspedisi.. Kau diminta untuk datang ke sana dan memainkan piano. Mereka mengundang mu untuk mengisi acara di sana. " ujar ibu Camela menyerahkan sebuah kertas undangan.
" Tapi kenapa saya bu? Saya bahkan tidak mengenal pemilik perusahaan itu. " tanya Geya heran.
" Mereka melihat mu saat kau bermain piano di ulang tahun Cecil. Lalu mereka tertarik pada mu dan meminta mu untuk menjadi pengisi acara di acara ulang tahun perusahaan mereka.. " terang ibu Camela.
" Begitu kah? " Geya membuka undangan yang diserahkan oleh ibu Camela padanya. Tertulis di sana alamat, waktu dan nama yang diundang, dan benar ada nama Geya tertulis disana.
" Masih satu minggu lagi, jadi kau bisa mempersiapkan diri.. " ibu Camela berusaha menyemangati.
" Baik bu, aku akan datang mengisi acara di sana... " setelah dipikir-pikir memang tidak ada salahnya jika dirinya datang. Hitung-hitung untuk mengusir kebosanan.
Geya bergegas menuju kelas musik yang lima menit lagi akan dimulai. Kelas kali ini dia akan mengajarkan anak-anak panti untuk mengenal huruf balok dan juga mempraktekkannya dengan menggunakan piano. Geya begitu bersemangat melakukannya, karena memang dia punya basic seni yang kental. Bukan hanya melukis, tapi Geya juga bisa menggunakan beberapa alat musik, salah satunya adalah piano.
" Miss Geya? " panggil seorang pria yang berdiri di depan kelas tempat Geya mengajar.
" Ya? " Geya terkejut melihat ada seorang pria yang kini berdiri tepat di depannya.
" Maaf menganggu, tapi ini untuk anda.. " pria itu menyerahkan sebuah kotak dimana di atasnya ada sebuah memo.
for the most beautiful women in the world,
__ADS_1
Aku menantikan penampilan mu nona cantik...