DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
Feeling seorang ayah


__ADS_3

Milan, Italia sejak semalam berlangsung badai salju yang cukup lama. Semua aktifitas kota dihentikan kantor-kantor merumahkan semua karyawannya dengan status bekerja di rumah. Hanya rumah sakit dan juga klinik kesehatan yang masih buka.


Di mansion milik Tuan Matheo,, terlihat setiap penghuninya memilih bermalas-malasan dari pada melakukan kegiatan. Cuaca begitu dingin, membuat mereka semua memilih bergelung di dalam selimut di kamar masing-masing. Mansion ini hanya terlihat beberapa maid yang melakukan tugas mereka untuk membersihkan bagian-bagian mansion, dan juga memasak untuk penghuni mansion ini.


Marisha sedang membuatkan coklat panas kesukaan suami, untuk menghangatkan tubuh mereka di pagi yang dingin ini. Jangan ditanya sedang apa Rouge, yang jelas pria itu masih nyaman tidur memeluk guling di dalam kamarnya.


" Sayang,,, bangun... Aku buatkan kamu coklat panas... " ucap Marisha membangunkan sangat suami.


Rouve bergegas bangkit dari rebahannya saat mendengar istrinya membuatkan minuman hangat untuknya.. " Hei... di mansion ini ada banyak maid. Kenapa kau yang membuat coklat panas? Kehamilan mu sudah sebesar itu, jangan melakukan kegiatan yang berat... " omel Rouge.


" Hihihihi.... Sayang aku nggak apa,, masak yang nglayani suami aku itu maid sih.. Kan aku yang istri kamu... " ujar Marisha membela diri sendiri.


" Huft.... Pokoknya yang utama harus hati-hati ya... Aku nggak mau kejadian buruk menimpa kalian... " Marisha meleleh diperlakukan Rouge seperti ini.


Dulu jangankan perhatian, mau Marisha morning sickness seperti apapun Rouge sama sekali tidak peduli. Tapi kini, setiap detail yang menyangkut Marisha dan calon baby mereka, Rouge menjadi yang paling kepo dan protective.


Marisha tentu bahagia karena sudah berhasil memiliki Rouge sepenuhnya. Marisha sudah benar-benar bisa menggeser posisi Geya yang selama ini menjadi Ratu di hidup Rouge. Tapi semenjak kehamilan Marisha mulai bisa merespon daddy nya, sejak saat itu pula Rouge berubah menjadi yang paling perhatian.


" Thanks sweetheart,, minuman ibu menghangatkan tubuh ku.. " ucap Rouge menyerahkan cangkir coklat panas yang sudah tinggal setengah.


" Sama-sama sayang... " Marisha maju untuk mengecup bibir Rouge.


" Hm... Pagi-pagi sudah menggoda, kamu lagi pengen main yang hangat-hangat ya.. " Rouge memainkan alisnya naik turun.

__ADS_1


" Ish... Pagi-pagi sudah mesum aja kamu itu... " Marisha memukul pelan lengan suaminya yang justru kembali bergelung dalam selimut.


Rouge sebenarnya sejak kemarin begitu gelisah entah karena apa dia sendiri kurang tahu. Perasaannya menggambarkan rasa bahagia, sedih kecewa dan terharu disaat yang bersamaan, tapi Rouge tidak sedang dalam suasana hari seperti itu sebelumnya.


Ingin mengatakan pada sang istri, Rouge takut jika istrinya ini kembali berpikir macam-macam tentang Geya. Hal yang sama terjadi beberapa bulan yang lalu, hingga Marisha sampai pindah rumah ke rumah keluarganya. Rouge sampai dihajar papa Theo karena masalah itu.


Haruskah Rouge menceritakan masalah ini pada saudaranya, tapi mengingat hubungannya dengan Roseline yang buruk sejak perginya Geya, membuat dirinya mengurungkan niat itu. Rouge masih bergelung di dalam selimut sampai tiba-tiba saja dia mendengar suara tangisan bayi..


" Ada apa ini? Kenapa aku mendengar suara seperti ini seperti semalam? " batin Rouge kebingungan.


Semalam ketika Rouge tidur, dirinya juga mendengar suara tangisan bayi yang saling bersahutan, tapi setelah mengelilingi mansion pun Rouge tidak menemukan asal suara itu. Rouge bahkan menggeledah kamar Romero kalau-kalau adiknya yang playboy itu menyembunyikan sesuatu darinya.


Rouge pun turun dari ranjangnya lekas ke bawah ingin melihat apakah ada seseorang yang membawa bayi ke mansionnya. Tapi sampai di bawah, dia hanya melihat mama Vinda, sang istie dan juga Roseline sedang berbincang bersama sembari meminum minuman hangat..


" Hoho.. Akhirnya pangeran tidur bangun juga... " cibir Roseline.


" Dih... Sorry ya,,, aku ini anak gadis rajin dengan segala pesona,, tidak seperti pangeran tidur... " Roseline tidak mau kalah.


" Kalian berdua ini sudah berdebatnya, mama sampai heran kalian ketika sudah besar kok kayak kucing sama anjing padahal di perut dulu anteng. " canda mam Vinda.


" Di perut mama waktu itu sempit jadinya kamu anteng, lain sekarang luas jadinya kami melampiaskan rasa yang terpendam selama beberapa bulan di perut mama... " kelakar Roseline.


Mama Vinda sampai terpingkal mendengar kelakaran dari sang putri. Rasanya benar juga jika seperti itu, karena mungkin perutnya saat itu terlalu sempit untuk bayi kembarnya bersalto. Mama Vinda sampai tidak berhenti tertawa saking pikirannya memikirkan hal-hal yang tidak-tidak.

__ADS_1


" Kalian denger suara bayi nangis nggak? " tanya Rouge mengambil duduk di samping sang istri.


" Dih menghayal... Belum waktunya kamu ngayal ada suara tangisan bayi di mansion ini Oge.. Setidaknya tunggu 5 bulan lagi, baru ada suara tangisan bayi,, keponakan ku.. " Roseline nyolot.


" Tapi aku dari semalam itu denger bayi nangis lho, kan nggak mungkin bayi tetangga... " Rouge kekeh mempertahankan pendapatnya.


" Nggak ada Oge.. Mungkin kamu ini saking nggak sabarnya pengen cepet itu baby kecil lahir, jadi terngiang-ngiang... " ledek mama Vinda diiringi gelak tawa Roseline.


" Emang dulu papa kek gitu ma? " Rouge masih belum bisa menerima bahwa dirinya ini berhalusinasi.


" Nggak... Dulu waktu hamil kalian itu papa lagi sibuk ngurus usaha daddy Joaquin. Papa jarang pulang,, jadi lebih sering mama di mansion lama sendirian sama maid dan pengawal... " ucap mama Vinda mengenang masa lalu.


" Pas hamil Romero? " lagi tanya Rouge..


" Ck.. nanya mulu... Denger ya, tiap pasangan itu beda-beda yang dirasa. Mungkin itu salah satu ngidamnya baby kalian biar papanya itu lebih perhatian... Gitu... " terang Roseline sok tahu.


Rouge mencebik karena kesal saudara kembarnya ini sok tahu. Nikah aja belum, apalagi hamil, tapi sok nya itu mengalahkan orang-orang yang udah nikah aja. Rouge pun memilih ke dapur untuk mengisi perut karena berdebat itu menguras tenaganya sehingga dia lapar sekarang ini.


Marisha sebenarnya merasa ada yang janggal dengan apa yang Rouge rasakan saat ini. Pasalnya dia tidak merasa ngidam sama sekali tapi kenapa Rouge kekeh mengatakan bahwa mendengar suara bayi menangis. Perasaan Marisha juga tiba-tiba tidak enak karena apa yang Rouge rasakan.


Marisha merenung sebentar, merasa bahwa sesuatu yang diluar kendalinya telah terjadi. Pikirannya melayang ke malam dimana di bertemu dengan Geya di lorong kamar hotel Rouge dengan pakaian yang berantakan. Bahkan saat itu Geya sama sekali tidak menyapa nya, dan yang paling mengejutkan adalah Marisha menemukan Rouge tidur di ranjang dengan keadaan polos..


" Mungkinkah? " gumam Marisha mulai was-was.

__ADS_1


Sekarang Marisha mulai berpikir jika saja mungkin malam itu telah terjadi sesuatu dengan Rouge dan Geya. Kepergian Geya yang tepat satu bulan dari kejadian itu membuat Marisha berpikir jangan-jangan Geya memiliki rahasia yang Marisha sendiri tahu mengarahkan kemana.


" Jangan-jangan Gege pergi karena hamil,, tapi Rouge memilih menikahi aku. Jika benar begitu berarti.... " batin Marisha menduga-duga.


__ADS_2