DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
pelarian


__ADS_3

Anak jenius adalah berkah yang luar biasa baik untuk orang tua maupun anak itu sendiri. Namun jika salah dalam pengasihan dan pengarahan maka justru akan membentuk personal yang nantinya akan memilih jalan di kegelapan dibandingkan bersinar terang di langit. Beruntung sekali Quon Rei Smith Harley, mendapatkan orang tua yang begitu menyayanginya dan membimbingnya ke arah yang benar. Atau kalau tidak dengan kemampuan anak ini sudah pasti akan menakutkan jika salah pengarahan.


Quon sangat jenius dalam pola pikirnya. Setiap situasi yang dihadapinya benar-benar dia pikirkan untuk baik dan buruknya demi bisa meminimalisir dampak dari pilihannya. Termasuk apa yang dia pilih saat ini, di situasi dimana dia diculik oleh paman yang mengaku sebagai daddy kandungnya. Quon harus memikirkan cara dimana dia bisa kabur bersama sang adik dan kembali pada orang tua mereka.


Selama lima hari berada di rumah ini, Quon banyak. bertanya-tanya tentang jalanan desa dan juga memancing bibi yang bekerja di rumahnya untuk menceritakan semua kegiatan yang bibi itu lakukan di luar rumah. Quon pun menyimpulkan bahwa tak jauh dari sini adalah kota. Dengan begitu berarti dia bisa membawa adiknya ke kota untuk meminta bantuan disana.


Quon sudah membuat rencana yang matang tentang pelarian ini. Dia dan Quella akan memanfaatkan mobil yang biasa membawa bibi ke pasar. Mereka akan menumpang mobil itu secara diam-diam tanpa ada yang mengetahuinya. Lagi Quon juga sudah menghafal betul jam-jam para pengawal bergantian dan juga berkeliling. Dan besok pagi mereka akan melancarkan rencana mereka untuk bisa kabur dari sini, di mulai malam ini mereka akan bertindak.


Jam sebelas malam biasanya bibi akan masuk ke kamar mereka dan mengecek apakah mereka sudah terlelap atau belum. Setelah itu hingga pagi pukul enam barulah akan ada yang masuk ke kamarnya. Jika itu bukan bibi pelayanan berarti uncle Rouge mereka yang masuk ke kamar.


Jam dua pagi, Quon membangunkan Quella untuk segera bergegas turun dan masuk ke dalam mobil yang biasa besok akan dibawa ke pasar oleh bibi dan seorang pengawal. Quon dan Quella bersembunyi di balik belakang mobil itu, mereka menutupi tubuh mereka dengan sebuah terpal yang memang selalu ada di bagian bak mobil itu.


" Quon... Aku takut.... " ujar Quella saat menuruni tangga menuju ke garasi.


" Sssstttt..... Jangan berisik nanti ada yang dengar. " bisik Quon dengan jari telunjuk di depan bibirnya. Quella pun mengangguk dan terus menggenggam erat tangan Quon.


Benar seperti perkiraan bocah jenius ini, jam dua malam tidak ada penjaga yang berkeliling karena mereka masuk pos untuk istirahat. Nanti tepat jam 3 barulah akan ada yang berkeliling kembali, tapi setahu Quon tidak akan ada yang mengecek area garasi. Quon dan Quella kini tengah berbaring bertutupkan sebuah terpal berwarna hitam. Keduanya secara sengaja juga mengganti pakaian mereka dengan warna serba hitam agar bisa berkamuflase dengan terpal.


" Quella dengar kan aku... Jika kita ketahuan maka kita selamanya tidak akan bertemu daddy dan mommy lagi. Jadi aku minta kau jangan rewel minta minum susu dan lain sebagainya. Tahan sampai besok kita sampai ke kota dan kita bisa segera pulang. Kau mengerti kan? " Quon memperingati sang adik. Sifat Quella berbanding terbalik dengan Quon, jadi jika si kakak tenang maka si adik adalah kebalikannya.


" Iya.. Aku akan menurut pada mu asal kita kembali pada daddy dan mommy. Tapi Quon bagaimana dengan kelinci kita? " tanya Quella polos.

__ADS_1


" Kita kan beli yang baru dan meletakkannya di mansion grandpa.. Oke? "


" Hm... " Quella mengangguk mantap.


Pagi sudah tiba, twins masih berada di atas bak mobil yang sebentar lagi akan membawa mereka ke pasar. Tapi ditunggu sejak tadi, belum juga mobil ini berangkat. Quon sudah ketakutan jika rencana ini akan gagal. Mungkinkah bibi pelayan itu menengok ke kamar mereka dan melihat mereka berdua tidak ada, atau mereka tidak ke pasar hari ini, atau apakah uncle Rouge sudah datang dan mengetahui semuanya.


Quon menggigiti kukunya karena rasa takut yang menderanya. Rasanya dia ingin sekali melompat turun dari mobil dan melihat apa yang sebenarnya terjadi tapi dia tidak berani melakukannya. Sehebat apapun dirinya dengan otak jenius nya, tapi tidak bisa menutupi bahwa dia hanya anak berusia tiga tahun lebih. Akalnya jelas tidak lebih baik dari orang yang lebih tua darinya.


" Sial... Kenapa lama sekali? Apa sudah ketahuan...? " batik Quon frustasi.


" Aku tidak memiliki rencana lain karena terlalu bersemangat dan buru-buru. Apakah akan gagal semua rencanaku dan berakhir nantinya aku dan Quella akan bersama orang ini selamanya? " batin Quon takut-takut.


" Aduh aku telat bangun... Tuan akan datang jam 7 nanti sedangkan ini sudah jam setengah 6. Aku harus bergegas ke pasar... Hei ayo cepet antarkan aku.. " ujar bibi pelayan sangat panik.


" Kenapa terlambat bi? " tanya seorang pengawal.


" Aku kesiangan bangun.. Sudah ayo pergi,, nanti tuan keburu datang!! "


Mobil mulai bergerak,, Quon langsung bernafas lega karena rencananya benar-benar sudah berhasil. Semoga saja di kota nanti akan ada yang bisa mereka mintai tolong untuk membawa mansion grandpa mereka di Milan.


Sekitar tiga puluh menit, mobil sampai di pasar yang biasa tempat bibi berbelanja. Ketika Quon mendengar pintu depan mobil sudah ditutup, Quon lekas membangunkan Quella untuk segera turun dari mobil. Namun ketika semuanya sudah tinggal eksekusi, Quon di kejutkan dengan tempat yang mereka datangi ini. Sangat jauh dari kata mampu untuk membawa mereka ke kota.

__ADS_1


Rasanya Quon sudah ingin menangis merasakan beban berat ini. Tapi ketika Quella menggenggam tangannya, membuat dirinya tiba-tiba merasa tenang dan kembali optimis akan bisa kembali ke orang tua mereka.


" Ayo kita tanya orang Quon... Dan hati-hati kalau ada orang jahat.. " ujar Quella menggandeng tangan saudara kembarnya.


" Hm... Jangan pernah lepaskan tangan ku Quella, apapun yang terjadi jangan kau lepaskan... " Quella mengangguk.


" Tuhan.. Semoga kau mendengar doa ku,, semoga aku bisa sampai ke mansion grandpa dengan selamat... " Quon memanjatkan doa di dalam hatinya.


Quon bertanya pada beberapa orang dewasa yang ada di depan pasar. Tapi ternyata tidak semudah apa yang dia bayangkan kemarin saat merencanakan pelarian ini. Beberapa orang dewasa bahkan membentak mereka berdua dan ada yang mendorong hingga Quon dan Quella terjatuh.


Rasanya sakit sekali, keduanya mulai hampir putus asa ketika kemudian seorang pria tua menghampiri mereka dan bertanya kenapa mereka bisa ada disini..


" Kenapa kalian sendirian disini? Kemana orang tua kalian? Apa kalian tersesat? " tanya pria tua itu.


Quon dan Quella saling tatap, mereka seperti tengah berbicara lewat tatapan mata mereka. Keduanya merasa bahwa kakek ini adalah orang baik. Keduanya pun mengatakan niat mereka dan kakek itu terkejut mendengar cerita dua anak kecil itu. Meski ragu, tapi si kakek pun akhirnya menyanggupi untuk mengantar mereka.


Namun sesuatu terjadi,, ketika twins hendak naik ke mobil tua milik kakek tadi, beberapa orang terlihat meneriaki nama mereka dan berlari mendekat. Panik membuat Quon menarik tangan Quella dan berlari tidak tentu arah...


BBBBRRRRAAAAAKKKKK...


" Quon.... "

__ADS_1


__ADS_2