
Hati wanita mana yang tidak hancur ketika pria yang menjadi dunianya justru menjadikan wanita lain sebagai dunianya. Raga bersama namun hati tidak pernah sampai padanya, semua hanya semu, bahagia yang semu, cinta yang semu. Menjadi wanita paling bahagia di depan semua orang, namun menjadi wanita paling menderita ketika semua orang menutup mata.
Marisha menutup matanya karena air matanya yang terus mengalir tanpa bisa dia bendung. Harapannya mengikat hati pria yang dia cintai, justru menjadikannya antogonis dalam hidup pria itu. Kini mungkinkah semuanya adalah karma yang harus dia jalani karena telah merampas kebahagian wanita lain. Tapi,, benarkan hidupnya harus tidak adil seperti ini?
Hari ini seharusnya merupakan hari yang menggembirakan karena calon anak keduanya telah lahir. Namun, sepertinya semesta sedang berusaha untuk menghalangi kebahagiaannya karena ternyata, bayi yang dilahirkan Marisha, bayi berjenis kelamin laki-laki yang memiliki wajah begitu tampan, divonis tunanetra....
" Adilkah ini? Aku selalu dan selalu mengalami hal yang membuat ku tidak bahagia. Ibu ku meninggal dunia, ayah ku menikahi wanita ja**** , suami ku mencintai wanita lain, kini anak ku.... anak ku.... huhuhu.... " Marisha menangis tersedu-sedu di dalam kamar inapnya tanpa putranya.
Karena vonis mengalami buta sejak lahir, putra Marisha dan Rouge pun harus menjalani berbagai macam pemeriksaan agar dapat diketahui dengan jelas penyebab kebutaan pada putra pasangan ini.
Para dokter terutama dokter kandungan cukup terkejut mendengar vonis untuk putra Marisha dan Rouge karena dalam pemeriksaan selama ini tidak diketahui hal tersebut. Mungkinkah terjadi perubahan genetika ketika awal pembentukan bayi, atau adanya faktor luar yang menjadi penyebabnya, sekarang ini sedang diperiksa oleh gabungan beberapa dokter.
Rouge sejak tadi terus berada di depan ruangan tempat dimana putranya diperiksa. Rasanya hati Rouge seperti ditikam benda tajam begitu mengetahui vonis dari putranya. Rouge pun mulai menyalahkan Marisha yang tidak bisa menjaga kehamilan nya. Karena sejujurnya Rouge sudah begitu bahagia ketika dokter kandungan Marisha mengatakan bahwa calon anak mereka adalah putra.
" Oge... " panggil Galen mendekat.
Rouge menatap kosong ke arah datangnya saudara sepupunya. Tidak ada yang terucap dari mulutnya, dia hanya diam dengan raut wajah yang kentara sekali sedih. Sejujurnya keluarga Geya masih marah pada Rouge tentang masalah empat tahun yang lalu, tapi melihat Rouge seperti ini pun mereka tidak tega untuk membenci.
" Yang sabar... Mungkin ada rencana Tuhan untuk putra kalian nantinya.. " Galen berusaha menghibur Rouge.
" Rencana untuk menghukum kami, itu mungkin rencananya.. " sarkas Rouge.
" Tidak ada anak yang lahir ke dunia sebagai hukuman untuk orang tuanya. Semua anak yang lahir adalah berkah yang Tuhan berikan. Jangan menganggap apa yang menjadi kesayangan Tuhan sebagai petaka dalam hidup mu. " Galen menegur pola pikir Rouge yang sedikit keterlaluan itu.
__ADS_1
Galen yang notabene pernah menikahi dengan wanita yang hamil dengan pria lain, dijadikan sebagai suami pengganti karena saat itu istrinya telah mencintai pria beristri, sama sekali tidak pernah membenci wanita itu dan juga anak yang dilahirkannya. Galen memberi nama pada anak laki-laki itu, dan menyayanginya, merawat dan membesarkannya dengan tulus seperti anaknya sendiri.
Melihat Rouge menjadikan putranya sebagai sebuah hukuman untuk keluarga itu, adalah sebuah pemikiran yang menurutnya tu keterlaluan. Jika saja Rouge dan Marisha mengizinkan, Galen sungguh dengan senang hati mengadopsi putra mereka. Itu jika Rouge dan Marisha malu memiliki seorang anak tunanetra.
Galen sungguh ingin mengutarakan niatnya itu, namun harus Galen simpan dalam hati ketika kedua orang tua Rouge datang. Sepertinya papa Matheo dan mama Vinda baru mengetahui kabar lahirnya cucu mereka itu.
" Sayang kenapa kamu disini? Mana Marisha? " tanya mama Vinda.
" Marisha di kamar rawat nya ma... Aku disini nungguin anak aku masih diperiksa... " jawab Rouge terlihat sedih.
" Cucu mama kenapa Oge? Cucu mama sakit? " mama Vinda sudah panik mendengar cucunya diperiksa.
" Anak Oge divonis menginap kebutaan sejak lahir ma... Jadi makanya diperiksa.. " Roselin menyela. Nada bicaranya terlihat begitu sinis seolah menyindir Rouge.
Semua yang ada di depan ruang pemeriksaan putra Rouge dan Marisha ini menunduk dengan raut wajah yang sedih. Merasa sayang jika anak yang baru lahir, bahkan belum mengerti indahnya dunia harus mengalami kejadian seperti ini.
Tak jauh dari keluarga de Niels yang berkumpul, Marisha yang duduk di kursi roda karena pasca melahirkan, juga ikut menangisi nasib putra kecilnya. Kenapa harus putranya yang mengalami ini semua, disaat dirinya menjadikan putranya sebagai alasan untuk mempertahankan rumah tangganya yang sudah retak, namun justru ini kenyataan yang musti dia tanggung.
Merasa hati sudah tidak mampu lagi tetap berdiri di ujung lorong ini, Marisha meminta perawat yang menemaninya untuk kembali ke ruangannya. Tepat di persimpangan jalan, antara ruang VVIP tempatnya dirawat dengan ruang VVIP tempat daddy Joaquin dirawat. Marisha melihat sosok yang tidak kenal, sosok yang tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa pamit. Membuatnya terjebak dalam perasaan Rouge yang belum usai dengan sosok itu.
" Anak ku.... Putra ku... Dia cacat,, dia buta,, bahkan sebelum dia tahu indahnya dunia dia justru harus mengalami ini semua. Sekarang kau puas Ge? Puas kau karena menempatkan aku dalam situasi yang seperti ini... " Marisha berada di depan pintu kamar daddy Joaquin dan tanpa sengaja mendengar Geya menanyakan tentang anaknya.
Marisha menatap tajam Geya yang justru terlihat tersenyum menatap balik Marisha. Geya yang sudah bisa melepaskan masa lalunya, tidak lagi terbebani ketika menatap orang-orang dalam masa lalunya. Namun Marisha justru menatap Geya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
" Maaf... Tapi seharusnya anda bicara dengan sopan.. " Claude maju berdiri tepat di depan Geya. Merasa tidak Terima ketika ada orang lain yang memojokkan Geya seperti ini.
" Anda tidak ada urusan dengan saya karena itu anda seharusnya minggir. Urusan saya adalah dengan wanita yang ada di belakang anda.... "
" Dan yang kau sebut wanita itu adalah istri ku... " hilang sudah kesopanan Claude.
Marisha terkejut mendengar ucapan pria yang mengaku suami Geya. Lebih terkejut lagi ketika dia melihat ada dua anak kembar yang memiliki wajah mirip dengan Geya. Namun entah mengapa Marisha merasa kedua anak itu memiliki sedikit kemiripan dengan suaminya jika dilihat dari matanya. Meski warna mata keduanya berwarna biru terang seperti Geya.
Marisha mulai menduga-duga, sesuatu yang dulu dia enyahkan dari pikirannya karena berpikir itu tidak mungkin. Namun kini dirinya jadi ketakutan jika sampai suaminya bisa menemukan kemiripan dari wajah anak kembar itu. Marisha begitu tertekan hingga dia hampir saja terjatuh dari kursi rodanya, beruntung lengan Rouge menahannya.
" Sha, kamu nggak apa? " tanya Rouge. Namun istrinya ini tetap diam, dengan tatapan mengarah ke depan. Dengan perlahan Rouge memutar kepalanya hingga akhirnya matanya menatap dunianya. Dunia yang telah menghilang empat tahun yang lalu dalam diam.
" Gege... "
...*******...
...Aku hari ini pengen bilang khusus Terima kasih yang like dan komen... Bener-bener seneng banget ketika aku baca komen dari readers...
...Nah seterusnya ini akan pasti suasananya tegang terus karena Rouge udah ketemu sama Geya. ...
...Bisa nggak ya Rouge membawa Geya kembali ke dalam dunia nya... ...
...Yang penasaran pokoknya wajib terus mengikuti kisah Geya dan Claude ini ya.. ...
__ADS_1
...😍😍😍🥰🥰🥰😘...