DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
akan segera sadar


__ADS_3

Suasana di salah satu ruangan yang ada di mansion Lucas terasa begitu menegangkan. Kedua pria yang sudah berusia di atas kepala empat itu nampak tengah membicarakan masalah serius sekali, sampai-sampai tidak ada yang diizinkan mengganggu mereka untuk beberapa waktu ke depan. Keduanya duduk saling berhadapan, dan keduanya saling berbincang mendiskusikan sebuah masalah yang menjadi misteri akhir-akhir ini.


Lucas mengingat kejadian empat tahun lalu dimana Rouge dijebak dan berakhir Geya menjadi korban. Lucas hanya tahu bahwa ada yang menjebak Rouge tapi siapa bos yang memerintahkan, dia sama sekali tidak tahu. Lebih tepatnya Lucas tidak mau tahu, bagaimana pun tujuan mereka sama sehingga Lucas hanya mengawasi dari jauh saja. Hal itulah yang membuat dia tidak bisa menyelamatkan Geya dari sebab akibat permasalahan ini.


" Tapi kau ingat siapa orang yang mencampurkan minuman itu kan? Dimana orangnya? " tanya Claude langsung tanpa basa basi. Mungkin orang ini bisa menjadi petunjuk dari masalah yang menimpa Marisha.


" Tepatnya sekarang dimana aku tidak tahu, tapi orang itu ada di Austria. Dia dulunya adalah pegawai di hotel ku, kemudian karena peristiwa itu dia mengundurkan diri. Nanti biar Tony kirimkan identitas pria itu pada mu, kau bisa minta anak buah mu untuk mencarinya. " jawab Lucas jujur, karena dia tidak ada niatan lagi untuk balas dendam pada keluarga de Niels.


" Oke.. " Claude mengangguk. Satu petunjuk sudah di depan mata, tinggal bagaimana nanti dia bisa mendapatkannya saja.


" Saran ku pakai orang-orang yang berada di bawah pengawasan Lucifer de Niels. Dia lebih hebat jika dibandingkan adik tiri ku yang bodoh itu. Seandainya Galen tidak menerima posisinya sebagai kepala keluarga de Niels, sudah pasti anak itulah yang dipilih. Dia memiliki kemiripan dengan Galen hampir seratus persen, minus kelakuannya yang suka main perempuan saja. Selebihnya, doa sama seperti Galen.. " ujar Lucas memberi saran.


" Boleh aku tanya satu hal? Ini diluar konteks pembicaraan kita tapi aku benar-benar penasaran sejak terakhir kali membahasnya dengan mu.. "


" Apa? " Alis Lucas mengerut.


" Kenapa kau tidak mengatakan pada Rouge yang sebenarnya kalau twins itu anaknya. Kenapa seolah kau membenarkan ucapan ku dengan diam saja tanpa mengungkap kenyataan. Bukankah Toby sudah mengambil sampel DNA dari twins? "


" Hahahahahaha.. Rupanya kau sudah tahu itu adalah Toby? Dia hampir mati kau tembak waktu itu.. "

__ADS_1


" Ck.. jangan mengalihkan pembicaraan.. Kau hanya perlu menjawabnya saja. " ketus Claude jika mengingat sudah dipermainkan orang yang ada di depannya ini.


" Ehm... Karena twins akan lebih bahagia jika dididik oleh pria seperti mu. Rouge itu pria plin plan, lain dengan mu. Jelas aku tidak ingin keponakan ku memiliki ayah seperti itu. Mereka akan bahagia bersama mu, begitu juga dengan Geya.. " Claude menghela nafas saat mendengar jawaban Lucas atas pertanyaannya. Rupanya Lucas bisa melihat kualitas seseorang hanya dari beberapa pertemuan saja.


Keduanya kembali membahas tentang permasalahan yang kini harus dihadapi keluarga de Niels. Lucas sedikit merasa penasaran pada tingkah Claude yang seolah selalu akan menjadi orang terdepan menjaga keluarga de Niels. Padahal pria itu kan hanya menantu, tapi kenapa totalitas sekali dalam kepeduliannya pada keluarga de Niels. Kenal juga baru-baru ini saja.


Saat menanyakan perihal itu pada Claude dan mendapatkan jawaban yang melebihi ekspetasi nya, Lucas jadi yakin bahwa penilaiannya terhadap Claude tidaklah salah. Pria ini adalah bentukan dirinya dalam versi yang lain, versi yang Lucas tinggalkan karena tidak cocok dengan dirinya.


" Mereka adalah keluarga pertama ku, bagaimana aku bisa diam saja ketika mereka kesusahan sedangkan saat itu mereka mengulurkan tangannya dan mengatakan pada ku bahwa mereka adalah keluarga ku? Aku bukan kacang yang lupa pada kulitnya... " begitulah jawaban Claude.


Sebelum mengakhiri pertemuan mereka ini, yang tidak terasa sudah sampai dua jam lamanya. Claude menanyakan sesuatu yang membuat Lucas ingin sekali menendang bokongnya itu.


" Ck sialan kau... Sudah aku katakan bukan kenapa kau masih saja terus bertanya. Jika niatku dari awal memang begitu, sudah lama peristiwa ini terjadi. Kenapa aku melakukannya ketika kalian sudah tahu identitas ku,, HAHHH.. " Lucas yang mengomel itu hanya dibalas kekehan saja oleh Claude. Kesal sekali rasanya dipertanyakan seperti itu berulang-ulang.


" Sudah jangan marah-marah.. Aku pulang dulu.. Hahahahaha... " Claude pun pamit.


" Selidiki masalah yang menimpa menanti keluarga de Niels itu.. Aku ingin laporan secepatnya.. " titah Lucas pada Toby setelah mengantar kepulangan Claude.


" Baik tuan.. " Toby pun pamit menjalankan tugasnya. Meninggalkan Lucas yang masih menatap jalanan yang tadi Claude lalui.

__ADS_1


" Asal bukan orang yang aku lindungi yang kau sentuh, maka aku tidak akan turut campur. Tapi ketika orang-orang yang aku lindungi dengan seluruh kemampuan ku kau sentuh, maka saat itu juga aku akan menjanjikan pembalasan pada mu.. " gumam Lucas.


...*********...


Sudah sebulan ini kondisi Marisha belum menunjukkan perubahan sedikit pun. Di rumah sakit keluarga Rouge, Rouge sendiri dan Dettus secara bergantian menjaga Marisha yang kini berada di ruang rawat inap biasa. Matheo memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan Marisha ke JN CS Hopital agar mudah untuk dilakukan pengawasan. Untuk berjaga-jaga jika lawan masih mengincar Marisha.


Pagi ini tugas Rouge yang menjaga Marisha, Dettus kebetulan harus kembali ke Jerman selama. dua hari dua malam untuk mengurus perusahaannya. Di Jerman sana Dettus membangun karirnya karena jika di Italia, maka akan sulit berkembang karena adanya JN Group yang memang menguasai seluruh ekonomi di Italia.


Rouge dengan telaten mengelap tubuh Marisha dengan air hangat. Luka-luka Marisha sudah hampir penuh semuanya, tulang-tulang yang tadinya parah juga sudah berangsur membaik, tapi Marisha masih dinyatakan koma. Dokter mengatakan tidak ada luka parah di otaknya, namun sepertinya memang Marisha yang enggan untuk membuka matanya. Seperti jika Marisha bangun, maka dia akan menghadapi masalah yang menyakitkan untuknya, dan dia sepertinya menolak untuk bangun demi menghindari itu semua.


Rouge juga sudah menerima surat gugatan cerai dari Marisha dari pengadilan, tapi karena kondisi Marisha yang seperti ini, masalah ini pun ditangguhkan untuk sementara waktu. Rouge sedikit merasa lega karena dengan kondisi Marisha seperti ini perceraiannya bisa dicegah. Egois memang, tapi Rouge sekarang ini tengah berjuang demi bisa mendapatkan maaf dari Marisha dan kedua buah hatinya atas kekhilafan yang dia lakukan.


" Sha... Kamu kenapa masih betah aja tidur sih? " Rouge mengusap lembut pipi Marisha yang kini cekung.


" Kamu tahu nggak, Jade mau punya keponakan lagi lho.. Masak Geya yang anaknya paling kecil baru jalan empat bulan Geya nya udah hamil lagi sayang.. Itu di pria tua emang nggak bisa nahan kali ya. Karena udah tua pengen aja cepet-cepet bikin anak banyak... hehehehe.. " adu Rouge pada Marisha.


" Bangun ya,, nanti kita ajak Jade dan Marellyn untuk kasih selamat sama Geya dan pria tua itu.. Oh ya... Marellyn udah masuk PG sekarang, ditemani sama Mama setiap harinya, kadang sama Roseline... Kamu harus lihat, seseneng apa princess kecil kita itu bisa sekolah... Hiks... Hiks... " akhirnya pertahanan Rouge pun jebol. Pria itu kembali menangisi apa yang terjadi pada istrinya saat ini.


Disaat air mata Rouge jatuh mengenai jemari Marisha, di saat itulah tiba-tiba saja jemari Marisha bergerak. Rouge yang melihat itu bergegas langsung bangkit dari duduknya dan memencet tombol yang ada di dekat ranjang pasien. Rouge sedikit tertegun karena akhirnya Marisha akan segera sadar.

__ADS_1


__ADS_2