
Suasana benar-benar senyap saat ini, detik jam pun tidak terdengar karena memang tidak ada jam di sana. Hanya terdengar suara beberapa kali orang menghela nafas, entah siapa pelakunya diantara kelima orang yang ada di ruangan VIP sebuah restoran bintang. Mereka berlima juga tidak saling pandang, hanya terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Fakta yang baru didengar dari Galen tadi sungguh membuat semua orang tidak bisa mempercayai apa yang mereka dengar. Ternyata dulu, Pomela pernah berhubungan dengan anak seorang bangsawan, tapi kemudian pemuda itu meninggal dunia karena sebuah kecelakaan. Nator awalnya berpikir bahwa ini semua karena Rouge, tapi setelah melihat foto pemuda yang dekat dengan Pomela, adik angkatnya, dia jadi sadar semua ini bukan karena Rouge. Tapi rasa yang mendalam ditinggalkan pergi selamanya oleh orang yang bahkan belum memulai kisah asmara mereka.
Claude mendapatkan pesan dari sang istri, yang menceritakan latar belakang dari keluarga Stainpert dan pengaruh apa yang dimiliki oleh keluarga itu. Namun setelah peristiwa merenggut pewaris mereka, nana bangsawan Stainpert menghilang bagai ditelan bumi. Tidak ada yang tahu dimana dan apa yang mereka lakukan, bisnis mereka pun dijalankan oleh orang kepercayaan mereka. Sungguh setelah peristiwa itu, semua keluarga Stainpert tidak lagi menampakan batang hidungnya.
Claude pun mengambil kesimpulan bahwa keluarga itu tidak mengetahui apa yang terjadi diantara keturunan mereka dan juga teman sang istri ini. Sungguh tragis, bunga yang bahkan belum bersemi, sudah lebih dulu gugur diterpa angin..
" Apa sekarang aku masih salah paham pada ku, Nator? Tidak... Pippin.. " tanya Rouge mengawali perbincangan. Diam seperti ini juga tidak akan menyelesaikan masalah.
" Tidak... Maafkan aku... Marisha aku mohon maafkan aku.. " Nator membungkuk di depan Marisha karena apa yang terjadi pada Marisha itu adalah ulah anak buahnya.
" Kalau aku katakan aku sudah memaafkan mu saat tahu ternyata kau juga terluka dalam kisah ini, apa kau percaya? " Nator langsung menegakan tubuhnya, menatap Marisha sangat dalam mencari sebuah jawaban dari apa yang dia ingin ketahui.
__ADS_1
" Pome, Gege dan aku, kami adalah sahabat, kau tahu kan sedekat apa kami bertiga. Pome yang kemudian mengalah karena melihat cinta Gege pada Rouge, akhirnya mengenal pria lain yang bisa mencintainya dengan tulus. Gege yang terjebak dalam pusaran diantara aku dan Rouge memilih pergi kemudian menemukan pria yang mencintainya dengan tulus. Lalu aku, justru menikahi pria yang kedua sahabat ku pernah impikan. Menurut mu apa yang harus aku lakukan? Setelah kebaikan mereka pada ku? " Nator masih menatap Marisha sangat dalam, menunggu wanita ini melanjutkan ucapannya.
" Aku mendapatkan Rouge dengan cara yang kotor, menendang Gege pergi sejauh yang dia bisa.. Jika ini adalah nasib yang harus aku Terima, anggap saja agar aku juga merasakan sakit yang dialami oleh kedua sahabat ku.. Itu terdengar adil kan, karena mereka selalu membagi kebahagiaan mereka pada ku, aku juga harus bisa menerima luka dan duka yang mereka bagi...Eh... " tubuh Marisha menegang karena dengan cepat Rouge menariknya masuk ke dalam pelukannya.
Hati Rouge terketuk ketika dengan lapang dadanya Marisha mengatakan bahwa dia harus menanggung luka dan duka kedua sahabatnya. Rouge merasa inilah Marisha yang dia kenal saat sekolah dulu. Bukan Marisha yang selama empat tahun ini menjadi istrinya yang penuh obsesi dan menghalalkan semua cara demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Rouge bisa benar-benar jatuh cinta, jika versi inilah yang Marisha gunakan.
Nator mengangguk, dalam hati dia bersyukur karena dia tidak sampai bertindak lebih dari itu dan akhirnya membuatnya menyesal. Nator menatap ke arah Claude, dia berterima kasih karena Claude memintanya untuk mendengarkan penjelasan dari Rouge dan Marisha. Karena itulah dia tidak terus menerus salah paham pada orang yang salah. Nator sangat bersyukur, kini yang harus dia pikirkan adalah Yunamaria. Bagaimana cara menyembuhkan keterpurukan dari adiknya itu. Pantas saja selama ini tidak ada perkembangan apa-apa, karena sumber lukanya bahkan tidak Nator ketahui.
" Bisa kalian ikut aku ke suatu tempat? Aku akan membuat kalian memahami posisi ku saat itu, yah.. meski mungkin kalian akan tetap membenci ku karena tindakan ekstrem ku.... " ajak Nator.
Mereka semua tiba disebuah mansion yang sangat mewah, dan kedatangan mereka disambut seorang anak gadis yang wajahnya begitu mirip dengan foto keluarga Stainpert tadi. Mereka semua saling pandang, dan mereka sama-sama memiliki pemikiran yang mengarah pada satu hal. Pantas saja, Nator salah paham dan menganggap Rouge adalah pria bajingan.
" Dia keponakan ku,, Veasha Penchev.. " Nator memperkenalkan gadis kecil yang sangat cantik itu pada Rouge dan yang lain.
__ADS_1
Jika yang lain terlihat senang, lain dengan Claude yang memandang lain bagaimana interaksi Nator pada keponakannya. Pandangan Claude akhirnya bertemu dengan Nator, dan pria itu pun mengangguk seolah tahu maksud arti tatapan Claude.
" Haish... Kau memilih jalan yang rumit dalam menjalani hidup ini, Nator.. " gumam Claude yang hanya didengar oleh Nator. Pria itu pun kemudian tersenyum, meski dimatanya terpancar kesedihan.
" Ve,, masuklah dulu.. Aku ingin membawa mereka ke paviliun.. Bisa kau menunggu ku di mansion saja?" Nator dengan penuh kasih sayang mengusap kepala dari keponakannya itu.
" Baiklah.. Tapi hati-hati paman.. " Veasha pun masuk ke dalam.
" Pedofili kau.. " bisik Claude, mendengar itu Nator mendengus kesal.
Kaki mereka melangkah ke sisi lain dari mansion mewah ini, berjalan di jalan setapak yang di kanan kirinya terdapat banyak pohon besar, mirip hutan
Di ujung ****** setapak ini ada sebuah rumah yang tidak sebesar bangunan mansion tadi. Tapi yang menjadi fokus dari semua orang itu adalah seorang wanita kurus dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai dan melambai tertiup angin. Wajah wanita itu terlihat pucat tapi aura kecantikan masih terpancar dari sana.
__ADS_1
Semua mata tertuju ke arah wanita itu sampai wanita itu memutar tubuhnya karena mendengarkan derap langkah kaki mendekat ke arahnya. Dan betapa mereka semua terkejut, mendapatkan siapa yang ada di sana dan siapa yang datang.