
POV MARISHA
Jika semua mengatakan bahwa ini adalah karma yang harus aku dapatkan setelah banyak hati yang tersakiti karena keegoisan ku, maka aku dengan ikhlas hati menerimanya. Aku tidak menolah ketika orang mengatakan karma ku kini telah datang, aku koma dan bahkan meski aku ingin bangun pun aku tidak bisa melakukannya.
Disaat aku berada di ambang kematian dan kehidupan, aku melihatnya. Seseorang yang sejak dulu begitu aku rindukan. Seseorang yang bahkan belum sempat aku panggil namanya, tapi dia sudah meninggalkan ku terlebih dahulu. Aku hanya pernah melihatnya di dalam sebuah foto di pigura yang selalu ayah ku simpan di dalam kamarnya. Wanita yang menjadi pelita ayah ku, Bunda.
" Shasa? " panggilnya ketika aku duduk di ayunan yang ada di bawah pohon besar sekali. Sekitar ku juga dipenuhi bunga-bunga indah bermekaran. Terlihat begitu indah, aku yakin ini adalah surga. Tapi benarkan seorang pendosa seperti ku bisa masuk surga?
" Bunda kan? " aku lekas bangkit memeluknya.
" Bunda... Shasa kangen banget sama bunda.. Boleh Shasa ikut bunda saja? Pergi jauh ke tempat yang tidak akan pernah menyakiti ku lagi? " tanya ku mirip seperti anak kecil polos bertanya pada bunda nya.
" Hahahaha... Ya nggak boleh lah sayang... Itu kedua cucu bunda gimana kalau kamu ikut bunda.. " canda bunda ku menarik pelan hidung ku. Rasanya begitu nyata sekali, apakah ini sungguh nyata dan bukan hanya mimpi ku?
__ADS_1
" Mereka kan punya daddy mereka, bunda. Jadi pasti akan ada yang merawat mereka nanti. Aku lelah bunda, pengen pergi ke tempat yang jauh sekali... Jadi bukankah lebih baik ikut bunda saja.. " aku terus memaksa bunda ku.. Bukan apa, tapi jujur aku sangat lelah sekali....
" Kamu yakin, Sha, mau meninggalkan pria itu? " bunda ku menunjuk ke arah langit yang langsung memperlihatkan suami ku tengah meraung-raung di depan sebuah kamar yang ada di rumah sakit.
" Dia berharap mendapatkan kesempatan kedua dan ingin memperbaiki semuanya, apa benar kau akan meninggalkannya? Jika iya, apa kamu pikir pria itu bisa merawat cucu bunda. Merawat diri saja dia tidak bisa, Sha.." ujar bunda ku.
Yah, mataku kini menatap Rouge dari tempat aku berada sekarang. Suami ku itu tengah terduduk sambil menyatukan kedua tangannya di dada, berdoa meminta ku untuk sembuh dan kembali padanya. Benarkah itu suami ku, karena tampilannya jauh dari kata sempurna seperti yang biasa aku kenal.
Wajahnya dipenuhi bulu-bulu yang entah sejak kapan tidak dia cukur. Belum lagi kantung matanya yang terlihat hitam, berapa lama dia tidak tidur dengan baik. Pipinya juga tirus, dan badannya terlihat kurus, sebenarnya apa yang dia lakukan selama ini hingga berubah menjadi seperti itu.
" Sha, masa kamu hidup di sampingnya belum usai. Bahkan kau akan memiliki umur panjang dan bahagia bersamanya nanti. Apa benar kau sungguh ingin meninggalkan pria itu dan kedua buah hati mu? " tanya bunda ku. Sepertinya bunda bisa melihat keraguan dari mata ku.
" Tapi bunda, dia menyakiti Shasa dan bahkan tidak peduli dengan kedua buah hati kami hanya karena masa lalunya datang.. Apa yang bisa aku berikan jika dia saja tidak menginginkan itu semua? " tanya ku..
__ADS_1
Aku rasa aku salah bertanya pada bunda, karena bunda sendiri pasti tidak bisa menjawab itu. Pertanyaan yang selama ini memenuhi pikiran ku, apakah Rouge benar-benar tidak bisa menerima aku sesuai dengan keinginannya. Padahal aku sudah merubah semua yang ada di dalam diri ku demo sesuai dengan keinginannya.
" Dia bimbang nak. Bukan karena masih belum bisa melupakan, tapi dia penasaran kenapa sahabat baik mu itu baik-baik saja setelah berpisah dengannya. Sedangkan dia melewati semua hari-harinya dengan tidak baik-baik saja. Bukan karena diri mu tidak pantas bersamanya atau dia lebih mementingkan sahabat mu itu. Tapi karena dia penasaran bagaimana bisa orang lain hidup dengan baik sedangkan dia tidak.. " bunda mencoba menjelaskan pada ku.
" Siapa saja pasti aku mengalami dan melakukan hal yang sama dengan suami mu.. Coba kau pikir, ketika kau melepaskan seseorang yang kau cintai dengan semua sakit yang mendera hati mu, tapi orang yang kau lepaskan itu justru bahagia, apa yang kau akan lakukan dan pikirkan? Itulah yang dirasakan oleh suami mu Sha... "
Degh... Degh...
Apakah aku melewatkan sesuatu yang penting, kenapa aku bisa tidak kepikiran apa yang baru saja ibuku katakan pada ku. Hanya karena cemburu buta aku melupakan fakta penting bahwa setelah berpisah dari Geya dan menikahi ku, suami ku itu sedang tidak baik-baik saja. Hatinya sakit melepaskan secara paksa wanita yang dia cintai karena harga dirinya. Kenapa aku bisa melupakan fakta itu karena sebenarnya saat dia berada di titik terendah itu, aku ada disana, aku ada di sampingnya.
" Jadi, apa sekarang kau sudah membuat keputusan, Nak? " tanya bunda pada ku.
" Sudah bun... Dan aku tidak akan menyesal dengan keputusan ini. Kami sama-sama terluka karena satu sama lain. Dia menyakiti ku dengan ketidakberdayaan nya. sedangkan aku menyakitinya karena kecemburuan yang buta. Aku sudah memutuskan bunda, apa yang aku lakukan..
__ADS_1
Terima kasih bund.. " ucap ku dan langsung memeluk bunda ku itu. Aku sungguh bersyukur bisa bertemu dengan bunda disini. Dan kini saatnya aku untuk menyelesaikan apa yang seharusnya aku kerjakan sejak dulu.
Apapun keputusan ku, semoga suami ku bisa menerima dengan lapang dada. Dan bersama, kami akan menjadi lebih baik lagi..