
Siang ini di bandara International Linate dipenuhi para penumpang yang akan pergi dan datang menuju ke tempat tujuan mereka. Yang membuat pagi ini terasa berbeda dari biasanya adalah, adanya beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam dan kacamata hitam menjaga di beberapa titik di bandara ini. Tentu saja penampilan mereka menarik perhatian para pengguna fasilitas di bandara ini.
Di sisi kedatangan luar negeri, terlihat lebih banyak lagi penjaga berpakaian serba hitam itu. Lalu di salah satu kursi tunggu, ada wajah yang tidak asing bagi masyarakat yang tidak di Milan. Mereka semua jadi paham kenapa ada banyak sekali orang-orang berpakaian serba hitam, karena tentunya mereka berada di sini untuk mengawal orang penting itu.
Joaquin de Niels dan putra pertamanya Galen de Niels, keduanya duduk di kursi tunggu kedatangan luar negeri untuk menjemput seseorang yang kedatangannya sudah mereka nantikan sejak tadi. Daddy Joaquin melihat jam tangannya, tidak lama lagi sesuai dengan jadwal, maka pesawat dari yang dia tunggu akan segera mendarat.
" Menurut mu siapa yang akan mengantar mereka nanti ke Sydney..? " tanya daddy Joaquin pada putranya yang terlibat tengah sibuk berkutat dengan ponsel canggihnya.
" Minta saja keluarga Penchev kemari dad.. Bicarakan di sini karena akan lebih aman dibawah pengawasan ku atau daddy.. Dalam waktu dekat aku tidak bisa meninggalkan Italia dad.. " saran dari Galen.
" Begitu ya... Kalau begitu kau hubungi itu saudara mu dan katakan untuk berangkat kemari malam ini..!! " pinta daddy Joaquin. Galen hanya mengangguk.
" Tuan.. Tamu anda sudah dalam perjalanan kemari.. " lapor ketua tim pengamanan yang dibawa oleh daddy Joaquin.
" Kita ke sana.. "
Ayah dan anak ini kemudian bangkit dari duduknya dan langsung menuju ke pintu kedatangan. Tidak ada orang lain selain kedua orang ini karena kedatangan tamu mereka ini menggunakan jet pribadi milik keluarga mereka. Dan ketika pintu keluar kedatangan luar negeri terbuka, muncul sepasang suami istri yang usianya tidak jauh berbeda dengan daddy Joaquin dan seorang yang sempat membuat daddy Joaquin dan Galen menatap terkejut orang itu.
__ADS_1
" Selamat datang.. " daddy Joaquin maju dan langsung memeluk temannya ini, " Kau datang membawa kejutan ternyata.. " ujar daddy Joaquin yang matanya fokus menatap seseorang yang berdiri di belakang tuan besar Stainpert ini.
" Iya... Akhirnya aku bisa menunjukannya pada dunia.. Aku bersyukur juga sedih karena peristiwa ini.. " ujar Benjamin Stainpert.
" Kalau begitu, langsung saja kita ke tempat ku,, istri ku sudah masak makanan kesukaan kalian semua.. " ajak daddy Joaquin merangkul tubuh Benjamin yang kurus tidak sekekar dirinya.
Kedua orang itu berjalan lebih dulu, meninggalkan. Galen yang masih tidak percaya melihat apa yang ada di depannya saat ini. Seseorang yang berdiri dengan nyonya besar Stainpert ini, menarik perhatian nya. Galen tersenyum menunduk menyapa kedua orang itu dan mempersilahkan mereka berjalan lebih dulu, Galen menyusul di belakang mereka.
Membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama dari bandara Internasional Linate sampai ke mandiin de Niels karena jaraknya hanya 2 km saja. Dan kini penyambutan lebih heboh dan meriah lagi susah menunggu kedatangan orang-orang ini di depan mansion utama. Bahkan keluarga di Roma saja sampai ikut berkumpul karena mereka juga mengenal dengan baik keluarga bangsawan Stainpert.
" Hm... Aku ingin memberi kejutan pada teman lama yang terasingkan di desa.. " sindir daddy Joaquin semakin membuat Benjamin tertawa.
" Lama tidak berjumpa dengan anda tuan Stainpert.. " ketiga saudara Joaquin memberikan hormat dengan membungkukan badan mereka.
" Hei,, aku sudah lama membuang status bangsawan ku, jadi jangan bersikap begitu.. Kalian saudara Jo, jadi kalian juga saudara ku.. " ujar Benjamin membantu ketiga saudara daddy Joaquin kembali berdiri tegak.
" Langsung masuk ya,, kami sudah siapkan semua kesukaan kalian.. Apa kabar Viviane..? " mommy Noura langsung maju memeluk tubuh teman lamanya
__ADS_1
" Baik Nou,, kau semakin cantik saja di usia seperti ini.. Apa yang kau pakai sampai secantik ini? " Viviane menggoda mommy Noura.
" Canda, tawa, dan berkumpul bersama anak dan suamiku.. Adalah sumber kebahagiaan ku.. Kau harus mencobanya sebentar lagi, karena setahu ku kau sudah memiliki seorang cucu yang usianya jauh lebih tua dibandingkan cucu ku.. " mommy Noura menggoda Viviane yang memang usianya tidak jauh beda darinya, tapi nampak lebih tua. Sepertinya kejadian empat belas tahun yang lalu, memberi luka yang mendalam padanya sehingga dia terlihat tua di usianya yang sebenarnya masih setengah abad itu.
" Iya.. Dan kami menantikan pertemuan ini.. " Viviane mengangguk dengan linangan air mata yang ikut jatuh saat dia mengangguk.
Penyambutan yang mengharukan itu pun akhirnya berakhir dan sekarang semuanya sudah duduk di meja makan besar dan panjang seperti meja makan pertemuan bangsawan jaman dulu. Semuanya duduk dengan santai dan saling berbincang satu sama lain. Daddy Joaquin mengenalkan anak-anaknya pada Benjamin, terutama Geya. Namun dalam suasana santai ini, semua mata sebenernya tertuju pada satu sosok yang sejak tadi diam dan hanya tersenyum saja. Satu kata pun belum keluar dari mulut orang ini, dan itu semakin membuat semua orang yang berkumpul di tempat ini penasaran.
" Benjamin.. " panggil daddy Joaquin.
" Putra ku sudah menghubungi putra ku yang lain di Sydney, dan mereka akan berangkat malam ini dari sana. Lusa mereka akan sampai.. " ujar daddy Joaquin menginformasikan apa yang tadi Galen katakan padanya.
Wajah orang itu terlihat menegang ketika mendengar ucapan daddy Joaquin barusan. Pria ini yang awalnya terus diam dan jarang memberi respon dengan pembicaraan orang-orang di sekitarnya, tapi kini wajahnya nampak terlihat cemas atas apa yang baru dia dengar. Orang ini menunjuk dan meremasi jemarinya karena perasaannya mendadak kacau saat ini.
Viviane yang menyadari itu langsung mengusap lembut kepala orang ini dan menggenggam kedua tangan orang ini. Viviane tersenyum dan kemudian mengangguk, seolah memberi kekuatan pada orang yang duduk di sampingnya ini.
" Semuanya akan baik-baik saja... Jadi tenang ya.. " ucap Viviane menenangkan.
__ADS_1