
Claude berjalan ke arah Lucas dan menepuk pelan pundak Lucas dan Toby, pertanda dia juga merasakan apa yang dirasakan kedua orang itu. Bukan apa, tapi Claude juga adalah anak yang tumbuh dan besar di panti asuhan. Bahkan pernah kehilangan wanita yang dia cintai karena terikat pada panti asuhan yang membesarkannya. Jadi sedikit Claude tahu bagaimana rasanya menjadi Lucas dan Toby, meski dalam kasus Lucas, dirinya tidak tahu bagaimana rasanya ketika orang tua meninggalkan karena perbuatan tanpa sengaja orang lain.
" Apakah kau masih akan melanjutkan dendam mu? " tanya Claude.
" Aku sudah ketahuan oleh kalian, jadi bisa apa aku sekarang... " Lucas tertawa garing.
" Bisa saja kan kau memberikan support pada orang yang mendendam pada keluarga de Niels. " ejek Claude.
" Tidak.. Aku ingin menikmati hari tua ku saja.. Kau ada rekomendasi tempat yang baik? " Lucas balas mengejek Claude.
" Hahahahaha... Datang saja ke LA, aku akan menjamu mu di sana nanti.. " Claude terbahak.. Kedua orang ini entah sejak kapan menjadi dekat, atau mungkin karena merasa memiliki nasib yang sama.
" Tuan Lucas... Sebagai kepala keluarga de Niels, aku sungguh mewakili semua keluarga ku meminta maaf pada mu.. " Galen maju ke depan Lucas dan langsung membungkuk meminta maaf.
" Aku paham dengan jelas bahwa tidak akan bisa mengembalikan semua waktu yang Anda alami dalam derita. Tapi aku sangat ingin meminta maaf. Aku harap suatu hari nanti anda bisa memaafkan kami semua.. " Galen menegakkan tubuhnya menatap sendu wajah Lucas.
" Pantas saja bagi Geya, kau adalah orang paling berharga baginya.. Semoga saja dibawah kepemimpinan mu, keluarga de Niels bisa menjadi lebih baik.. Aku pamit dulu.. " Lucas langsung pergi meninggalkan keluarga de Niels membawa serta Toby bersamanya.
Claude mengangguk dan mengatakan akan mentraktir Lucas makan jika mereka sudah sama-sama tenang. Tentu Lucas tahu maksud undangan dari Claude ini, dia pun menyanggupi karena keduanya memang harus bicara banyak hal.
__ADS_1
Lucas meninggalkan gedung tua itu dengan perasaan yang sangat lega. Apakah karena dia sudah bisa meluapkan semua kesedihan dan deritanya, membuat keluarga de Niels meminta maaf padanya sehingga beban berat yang selama ini dia tanggung, langsung hilang begitu saja meninggalkan kelegaan yang sungguh sangat luar biasa.
" Ma, akhirnya aku sudah bisa melepaskan semua dendam ku.. Ternyata menerima dan mengikhlaskan apa yang harus kita jalani adalah hal yang membuat hati kita bisa tenang dan damai. " monolog Lucas dalam hati.
...*************...
Di tempat lain, di gedung lain yang berbeda dengan gedung tua tempat pertemuan antara Lucas dan keluarga de Niels, Rouge terduduk, termenung tidak percaya karena apa yang dia dengar saat ini adalah sebuah fakta yang menyakitkan hatinya. Rouge mengalami krisis percaya diri dan jati diri karena apa yang baru saja dia dengar.
Kehadirannya di dunia ini, kelahirannya di dunia ini rupanya menjadi malapetaka bagi kehidupan lain hingga terenggut begitu saja dari seseorang yang masih sangat membutuhkan kasih sayang. Rouge yang menjadi aib justru hidup bahagia dengan segala kemewahan, sedangkan anak yang tidak bersalah harus menjalani hidup yang penuh derita. Adilkah ini semua?
Rouge memukul dadanya berulang kali untuk menghilangkan sesak di dadanya. Berharap dengan sakit lain, sakit di hatinya bisa menghilang. Tapi nyatanya rasa sakit itu semakin lama semakin sakit bahkan sangat sakit sekali. Harusnya dia tidak terlahir di dunia ini, harusnya dia tidak berada di tempat dimana dia berada saat ini. Kata-kata itu terus terngiang di kepala Rouge.
" Wajar kau membenci ku.. Ternyata tanpa aku melakukan apapun bahkan kau terluka begitu dalam karena ku dan keluarga ku.. Sungguh ironis sekali, ketika aku dengan percaya diri dan arogan menjalani hidupku, nyatanya aku tidak lebih dari seseorang yang tidak pantas untuk dilahirkan... " monolog Rouge dengan kedua kakinya yang membawanya berjalan gontai. Tujuannya hanya satu, Rouge butuh sesuatu yang bisa membuatnya melupakan apa yang dia dengar barusan. Rouge butuh pelampiasan untuk bisa melupakan apa yang seharusnya memang tidak pernah dia ketahui, dengan begitu dia tidak akan hidup dalam penyesalan.
Kehilangan wanita yang dicintai karena perbuatannya sendiri, sekarang dia harus mengetahui rahasia dibalik kelahiran dan keberadaannya. Apa lagi yang bisa Rouge lakukan, untuk menemui keluarganya saja dia tidak berani. Dia terlalu malu bertemu keluarga besarnya setelah apa yang dia lakukan. Apalagi kata-kata Gafar saat itu masih terngiang di kepalanya.
Brak... Brak.. Brak...
" Sial... Sial... Sial... Aaaarrrggghhh.... " Rouge memiliki setir mobilnya karena kesal dan malu.
__ADS_1
" Semuanya sialan... Semuanya benar-benar sialan.." Rouge meraung-raung di dalam mobilnya yang tengah dipacu sangat kencang.
Ckiiittt....
Brak....
Rouge membanting pintu mobilnya dan bergegas masuk ke sebuah tempat bertuliskan Heaven Ares. Entah tempat apa ini, tapi awalnya Rouge dihentikan oleh penjaga yang menjaga tempat itu, tapi setelah Rouge mengeluarkan kartu pelanggan nya, dia dipersilahkan masuk begitu saja.
Bukan tanpa sebab para penjaga menghadangnya, karena di jam segini jelas pasti tempat ini belum buka. Tapi karena kartu yang diperlihatkan oleh Rouge, maka dia bebas masuk begitu saja ke dalam Heaven Ares.
" Berikan aku minuman dengan kadar alkohol paling tinggi... " pinta Rouge duduk di meja yang tepar di depan seorang bartender wanita.
" Hm... Sepertinya anda butuh teman untuk melepaskan penat tuan.. " bartender wanita itu terlihat mulai menggoda Rouge.
Pakaian yang sangat ketat berupa kemeja berwarna putih dengan belahan dada rendah dan kancing yang seperti akan terlepas karena kemeja itu sangat ketat. Berpakaian seperti ini di tempat seperti itu jelas tujuannya adalah menggoda pria-pria kesepian yang jika berhasil maka akan mendapatkan kepuasan dan uang tentunya.
Sayangnya Rouge tidak menanggapi hal itu, fokusnya hanya pada minuman yang ada di depannya. Bahkan ketika wanita di depannya ini dengan terang-terangan menyentuh jemari Rouge, tentunya hanya dibalas dengan tatapan mencemooh dan merendahkan.
" Setahu ku bos mu bukan orang yang suka menjadikan pegawainya menjadi wanita murahan.. Apa bos mu benar-benar sudah berganti sampai mempekerjakan wanita kurang belaian seperti mu.. "
__ADS_1
Degh..
Jantung wanita itu dipompa dengan kaut, sungguh lawannya kali ini adalah orang sangat menjunjung tinggi harga diri. Akhirnya wanita bartender itupun pergi dari sana meninggalkan Rouge seorang diri. Karena jika sampai ketahuan pemilik club ini, bisa jadi dia akan dipecat.