
Tubuh Rouge sudah berkeringat dingin banyak sekali, karena terus berlari sejak dari parkiran mobil sampai ke tempat dimana dia berada sekarang. Gaffi terduduk di depan pintu ruang rawat Marisha yang di depan ruangan itu sudah ada Dettus dan juga mama Vinda. Entah bagaimana kedua orang itu ada disini karena tadinya Roige meninggalkan Marisha bersama dengan seorang suster yang dia bayar sebagai perawat pribadi Marisha.
Dilihat dari mana pun wajah Dettus dan mama Vinda menunjukan sesuatu yang buruk yang akan terjadi setelah ini. Membuat jantung Rouge serasa diperas-peras tidak karuan rasanya. Bagaimana kondisi Marisha saat ini dia belum tahu pasti, hanya tahu bahwa Marisha kembali kritis padahal pagi tadi ketika dia meninggalkan istrinya bersama perawat, sang istri terlihat baik-baik saja.
" Ma... " panggil Rouge lirih setelah menguasai nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari.
" Oge... Marisha.... Oge.... Tadi tubuh Marisha kejang-kejang nak, pas mama datang.. Dettus yang kebetulan bareng sama mama juga lihat tubuh Marisha kejang... Oge,, Marisha... Gimana? " mama Vinda sudah menangis dalam pelukan sang putra.
Tubuh Rouge pun sudah lemas karena mendengar ucapan mamanya ini. Dia paksakan kuat menopang tubuh sang mama yang bersandar di dekatnya padahal dia sama sekali tidak bisa menopang dengan kuat tubuh nya sendiri. Rouge lemah saat ini, bahkan ketika ditinggalkan Geya pergi menghilang empat tahun lalu, Rouge tidak selemah sekarang ini.
Tangisan Rouge semakin kuat saat dia melihat mesin kejut jantung dibawa masuk ke ruangan Marisha. Ini pertanda tidak baik karena jika mesin kejut jantung sampai digunakan, maka detak jantung Marisha sudah sempat berhenti. Ini tidak baik, Rouge pun akhirnya limbung bersama tubuh sang mama. Tangisan Rouge terdengar sangat kencang seolah ingin mengatakan bahwa dia tidak ingin Marisha pergi darinya.
" Jangan pergi Sha.. Aku mohon jangan tinggalkan aku... Kau mendengar ku kan? " batik Rouge menjerit memanggil sang istri.
" Akan aku lakukan apapun, Sha.. Apapun asal kau hidup, asal kau tidak meninggalkan ku Sha... Aku mohon... " kedua telapak tangan Rouge menelungkup menutupi wajahnya yang sudah berlinang air mata. Kenapa rasanya sesakit ini, padahal dulu dia sering mengabaikan Marisha.
__ADS_1
Waktu berjalan terasa begitu lama bagi Rouge, dia merasa waktu disekitarnya melambat dan dia frustasi karena belum mendengar bagaimana istrinya sekarang. Rouge merasa benar-benar ketakutan seolah setiap detik semakin mendekatkan nya pada kenyataan yang mungkin akan dia hadapi setelah ini.
Dettus yang berdiri tidak jauh dari Rouge juga sudah tidak lagi bisa menopang tubuhnya. Dia melihat bagaimana Marisha kejang tadi, dan itu sungguh menyakitkan baginya. Dettus sama juga sedang menangis karena tidak bisa berbuat apapun disaat wanita yang dia cintai itu kini berjuang untuk tetap hidup. Dettus sama hancurnya seperti Rouge saat ini.
Rouge berlutut, menyatukan kedua tangannya di depan dada, Rouge tengah berdoa, meminta agar Marisha diberikan kesempatan untuk bisa dia bahagiakan. Rouge meminta agar Marisha tetap berada di sampingnya berjuang demi kedua buah hati mereka. Rouge meminta kesembuhan bagi Marisha dan jika ada yang harus sakit diantara mereka berdua, biarlah dirinya yang mengalami itu semua, jangan wanita yang begitu tulus mencintainya itu.
" jika.. jika kau beri kesempatan padanya untuk bahagia dan kembali bersama kami, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan dia lagi. Aku mohon,, sembuhkan dia, buang semua sakitnya dan jika memang ada yang harus sakit biarlah aku yang merasakannya. Biarlah aku yang dihukum atas setiap dosa yang dia perbuat... Aku mohon jangan ambil dia dari ku... " pinta Rouge.
Mungkin sekitar tiga puluh menit, dokter melakukan penganan pada Marisha di dalam ruangan. Ketika sang dokter keluar, dokter tersebut langsung dikerubuti oleh Rouge, Dettus dan mama Vinda yang saat ini tengah menguatkan diri untuk menerima kenyataan.
" Aku masuk.. " pamit Rouge namun terhenti karena lengannya ditarik oleh Dettus.
" Bersikaplah yang baik, jangan memancing emosinya.. Dia baru saja sadar.. " Dettus memberikan peringatan pada Rouge.
" Tentu... Kali ini, aku akan melakukan apapun yang dia katakan.. Jangan khawatir. " Rouge mengangguk mengerti.
__ADS_1
Rouge melihat Marisha tersenyum saat dia memasuki ruangan itu. Perasaan apa ini, baru kini Rouge rasakan. Karena selama bersama dengan Marisha, inilah kali pertama dia merasakan perasaan ini. Seperti tengah bertemu dengan kekasih hati, atau apa ya, Rouge bingung menjelaskan. Tapi jelas dia bisa mengatakan dia senang melihat Marisha kembali sadar seperti sekarang. Terlepas keputusan apakah nanti mereka berpisah atau tidak.
" Lama tidak melihat mu kenapa kau jadi jelek dan tidak terurus seperti ini.. " cibir Marisha masih dengan bibir yang tersenyum.
" Orang yang merawat bahkan tidak mau bangun dan kerjaannya sehari-hari hanya tidur dan tidur.. Bagaimana aku bisa mengurus diri ku sendiri? " sahut Rouge. Marisha sedikit terkejut mendengar jawaban dari Rouge, dan jantungnya berdebar sekarang.
"Jantung oh jantung.. Kenapa kau masih berdebar setelah sekian lama.. Bahkan akhir-akhir ini kau sering tersakiti.. " batin Marisha.
" Senang melihat mu bisa seperti sekarang.. Aku sempat khawatir tidak bisa melihat mu tersenyum seperti ini lagi, sebelum semuanya berakhir. " ujar Rouge mengambil tempat duduk di samping ranjang pasien.
" Jadi kau ingin semuanya berakhir? " tanya Marisha. Menurutnya ini adalah pembicaraan mereka pertama kali tanpa ada emosi. Dan rasnahs sangat menyenangkan dan nyaman, tentu bukan hanya bagi Marisha, tapi juga Rouge tentunya.
" Bagi ku sekarang, pilihan mu adalah jalan hidup ku, Sha. Bukan karena aku tidak ingin bertanggung jawab atas tidak memiliki pendirian, tapi.... Aku hanya ingin kau sekali saja melakukan apa yang kau inginkan di hubungan kita ini.. Apapun, akan aku lakukan asal itu bisa membuat mu bahagia... "
Marisha tersenyum, baru kali ini dia melihat Rouge dalam mode seperti ini karena biasanya pria ini terkenal arogan dan egois. Semua harus berjalan sesuai keinginannya apapun itu, tanpa pernah berpikir bagaimana orang lain. Tapi lihatlah kini, pria ini mau menurunkan egonya demi Marisha. Lalu apa yang akan Marisha putuskan? Berpisah atau kembali bersama?
__ADS_1
Ayo yang penasaran, tunggu bab berikutnya ya😘😘