DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
menghadapi dengan berani


__ADS_3

Ruangan kerja kepala keluarga de Niels terasa begitu menegangkan. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menampilkan ekspresi wajah yang sama. Mereka semua tengah menahan emosi dan juga sedang memikirkan cara untuk bisa mengambil kembali twins Q dari tangan Rouge. Benar-benar tidak menyangka bahwa pria satu itu bisa berbuat nekat seperti ini.


Rahang Claude mengeras pertanda sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin menghajar seseorang yang telah membuat hidupnya kacau itu. Claude sendiri sedang berusaha memikirkan cara meski sedang dalam keadaan emosi. Karena cara yang gegabah bisa saja membuat Rouge semakin membawa jauh kedua anaknya.


" Jarak tempuh nya tidak terlalu jauh. Jika kita berangkat sekarang nanti malam kita sudah bisa berada di sana. Hanya saja mengepung mereka apakah tidak akan membuat dia semakin berusaha lari sejauh mungkin? Jika benar, maka kita bisa kehilangan jejak mereka... " ujar Galen mengutarakan pendapat nya.


" Lalu kita harus menunggu berapa lama lagi? " tanya Claude sudah kesal bukan main.


" Tunggu sampai besok... Kita kirim orang untuk melihat situasinya dulu... Nggak mungkin dia nggak memasang perangkap dan mata-mata di samping kita. Jika kita gegabah, maka kita yang akan kalah disini.. Aku mohon bersabarlah, kita pasti membawa twins kembali.." ujar Galen menenangkan iparnya ini.


Meski masih ada yang mengganjal di hati dan pikirannya tapi Claude mengikuti apa yang Galen katakan. Gegabah adalah bom waktu yang bisa membuat kita terjebak dan tidak akan selamat. Sebisa mungkin kita harus bisa berpikir dan bertindak dengan kepala dingin.


Semuanya sepakat melakukan sesuai yang Galen katakan. Mengirimkan setidaknya satu tim kecil dari orang pribadinya untuk mengintai ke tempat dimana twins Q disembunyikan. Satu tim ini terdiri dari empat anggota dengan satu pemimpin mereka. Dimana keahlian mereka memang mengintai musuh dan juga menyerang secara tiba-tiba atau disebut serangan kejutan.


Mereka ini adalah orang-orang yang bekerja di bawah kepemimpinan Galen di GhostNight, organisasi dunia hitam yang dimiliki oleh Joaquin de Niels puluhan tahun yang lalu. Kelompok yang Galen kirim ini tidak diketahui oleh siapapun anggota keluarganya. Hanya Lucifer saja yang tahu karena GhostNight sekarang ini juga menjadi wilayahnya.


Kembali ke keluarga de Niels yang sekarang ini tengah mempersiapkan semua yang diperlukan jika pada akhirnya kedua belah pihak harus bentrok demi bisa mengambil kembali twins dari tangan Rouge. Kabar baik juga datang berikutnya dimana tim pelacak bisa pelacak pesan-pesan yang masuk ke ponsel Rouge meski itu sudah dihapus.


Paling banyak yang mengirim pesan adalah Marisha, tapi yang membuat Galen heran adalah marisha ikut terlibat dalam masalah ini. Ternyata memberi kesempatan pada ular untuk bertobat memanglah tidak bisa semudah itu. Galen pun dengan terpaksa akana mengekspos tentang Marisha sebelum sebuah suara menginterupsinya.,


" Wanita itu biar aku saja yang mengurusnya.. Aku sudah memintanya melupakan masa lalu dan hidup dengan baik, nyatanya justru kembali berulah yang mana menargetkan anak-anak ku. " Geya datang mendekat pada Galen.


" Kau yakin ? " tanya Galen mencemaskan adiknya yang kurang sehat itu.


" Hm... Sangat yakin.. Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya." ujar Geya mantap.

__ADS_1


" Eh.... Tapi ngomong-ngomong kapan kau sadar Ge? Kenapa tidak ada yang melapor pada ku?" tanya Galen yang baru sadar siapa yang dihadapinya.


" Ck... Sudah bicara panjang lebar kau baru sadar.. Apa faktor usia membuat mu menjadi gagal fokus Galen..." ledek Geya.


" Banyak masalah yang harus aku hadapi.. Kau tahu itu.." Galen menghela nafas panjang.


Beban sebagaai kepala keluarga juga pimpinan tertinggi di dunia bisnis keluarga memang bukan perkara gampang. Meski banyak orang yang membantu tapi tetap saja Galen menggunakan otaknya untuk memikirkan hampir semua masalah yang dialami keluarga dan perusahaan.


Kali ini Galen harus dihadapkan dengan dua masalah dimana Geya dan Lucena sedang dalam masalah yang keduanya sama-sama rumit untuk dipecahkan. Karena itu sebenarnya Galen kesal sekali ketika dia ingin berada di samping Lucena, malah Rouge membuat masalah,


" Istirahatlah barang sebentar Galen... Kau kelelahan.." Geya pun membantu Galen untuk menuju ke kamar pribadinya.


Geya menatap iba saudara kembarnya yang paling sulung itu. Merasa kasian karena hidupnya selalu dipenuhi masalah dan masalah setiap harinya. Galen sampai tidak bisa menjalani kehidupan pribadinya sejak dulu karena alasan dia adalah pewaris kedudukan tertinggi di keluarga.


" Baby...." panggil Claude memecahkan lamunan Geya.


" Ya daddy.... Maaf dad, tadi aku sedang melamun.." ujar Geya sedikit menunduk.


" Tidak apa sayang... Tapi apa yang kau lakukan disini?" tanya Claude heran karena ini adalah kamar Galen.


" Tidak ada... Hanya mengantarkan Galen untuk beristirahat. Fisiknya juga sedang tidak baik-baik saja karena harus bolak balik Roma-Milan selama beberapa hari ini..." terang Geya.


" Kalau begitu kita juga istirahat ya... Kita ke kamar Alrescha saja.. Dia tadi sempat menangis sebentar. Kita lihat ke sana ya..." ajak Claude.


Untuk sementara Geya memang tidak mengatakan apapun pada Claude tentang rencananya terhadap Marisha. Karena dirasa jelas pasti Claude akan melarang Geya menantang bahaya, tapi Geya tidak lagi bisa membiarkan mantan sahabatnya itu berbuat lebih dari ini lagi. Hati Geya sudah beku dan tidak bisa memaafkan karena kali ini anak-anaknya lah yang menjadi sasaran dari Marisha.

__ADS_1


Geya pernah sekali memberi kesempatan Marisha untuk mendapatkan apa yang diinginkan wanita itu. Pernah sekali memberi maaf meski dia yang paling dirugikan dari semua perbuatan Marisha. Pernah satu kali membiarkan begitu saja harga dirinya diinjak oleh Marisha. Namun kini tidak akan ada yang kedua kalinya. Marisha harus diberikan pelajaran berharga dalam hidup untuk tidak pernah iri pada rumput tetangga yang lebih subur dari rumput di rumahnya.


" Baby... Apa ada yang sedang kau pikirkan? " tanya Claude. Sekarang mereka tengah duduk di sofa kecil yang ada di kamar baby Alrescha. Geya sedang menyusui putra kecilnya sedangkan Claude tengah duduk saja menemani sang istri.


" Daddy... Menurut mu pelajaran berharga yang seperti apa yang bisa membuat seseorang yang tidak tahu diri itu jera? " tanya Geya. Alis Claude langsung berkerut mendengar pertanyaan Geya yang sepertinya mengandung makna tertentu.


" Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Kau sedang membahas tentang Rouge? " bukannya menjawab Claude malah balik bertanya karena sangat penasaran dengan maksud pertanyaan sang istri.


" Tidak juga.. Bisa juga iya... Hanya saja aku sedang memikirkan sebuah pelajaran berharga untuk mereka yang tidak jera setelah kita memberikan kesempatan kedua... " Claude pun tersenyum dan membisikan sesuatu ke telinga Geya..


...********...


...Hola... Hola..... ...


...Maaf baru sapa kalian semuanya ya... ...


...Masih setia nggak sama Claude dan Geya... ...


...Penasaran nggak sama apa yang dibisikin Claude sama sang istri tercinta??? ...


...Ada saran pelajaran seperti apa yang cocok untuk Marisha dan Claude... ...


...Yuk kasih saran di komen kalian ya.... ...


...Aku tunggu...

__ADS_1


__ADS_2