DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
Bukan bagian untuk menjelaskan


__ADS_3

Ruang rawat inap daddy Joaquin kini menjadi tegang karena kedatangan Rouge dan Marisha. Quella yang biasanya sangat berisik, kini ikut terdiam karena merasakan atmosfir yang membuatnya tidak nyaman. Quon hanya menatap datar ke arah pintu, dua orang yang sudah membuat waktu membacanya terganggu karena terus ribut.


Claude menatap wajah Rouge, ada sedikit rasa iri karena Rouge lebih muda darinya, lebih gagah dan tentunya pernah menjadi pria dimasa lalu Geya. Karena usianya yang sudah hampir kepala empat, membuat Claude minder ketika berhadapan dengan pria muda. Istrinya yang masih muda dan cantik, membuat Claude ketakutan akan kembali kehilangan.


Geya yang bisa merasakan apa yang tengah dirasakan suaminya, langsung menggenggam tangan Claude dari belakang. Tadi Claude sempat menghalangi Marisha yang akan memaki Geya, sehingga kini pria dengan julukan hot daddy itu masih berada di hadapan Geya. Sebagai penambah semangat, Geya juga mengusap pelan punggung Claude yang selama ini selalu menopang dirinya ketika dalam duka dan nestapa.


Rouge menatap wajah wanita yang paling dirindukan nya selama empat tahun belakangan ini. Wajah wanita yang pernah mengisi hari-harinya, wajah wanita yang pernah dia sakiti kala itu, namun tetap menjadi wajah wanita yang dia sayang dan cinta. Mata Rouge satu menatap Geya, seolah ingin mengatakan pada wanita itu bahwa dia rindu, bahwa dia ingin bersama dan memeluk tubuh wanita itu dalam pelukannya. Sama seperti dulu,, ketika mereka masih baik-baik saja.


" Ge,, benarkah itu kau... " Rouge melangkah ke depan beberapa langkah mendekati Geya dan Claude.


" Hm.... long time no see, Oge.... Area you miss me..!? " sapa Geya sambil tersenyum begitu manis, seperti tidak pernah tersakiti oleh pria yang disapanya itu.


" Kemana saja kau selama ini Ge? Aku terus mencari mu selama ini, berharap kita bisa ketemu, tapi aku selalu gagal menemukan tempat mu berada... " Rouge hendak menyentuh tangan Geya, namun Claude langsung menghalanginya.


" Daddy, what's wrong? " Quon langsung bangun dengan posisi siaga.


" Nothing son... Everything it's okay.... " Claude menengok sebentar, kemudian tersenyum menenangkan putranya itu.

__ADS_1


" Ge,,, siapa pria ini? Kenapa dia bersama mu? " tanya Rouge dengan raut wajah yang sulit diartikan.


" Dia adalah suami ku Oge... Dan anak kembar disana adalah putra dan putri kami... Kenalkan, Claude Smith Harley,, suami ku... " masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya Geya bicara.


" Suami??? Tapi.... Bagaimana mungkin kau sudah... sudah menikah... Gege,,, katakan ini tidak benar.. " Rouge shock, bahkan nada bicaranya sudah meninggi.


" Sama halnya seperti diri mu yang menikah dengan Marisha, maka aku juga bisa menikah dengan pria yang telah memberikan dunianya pada ku... Jadi kita sama saja, ketika menemukan seseorang yang tepat, maka pasti akan melangsungkan pernikahan... " terang Geya.


" Lebih baik sekarang kau antarkan Marisha kembali ke kamar rawat nya. Bukannya dia baru saja melahirkan, jadi pasti dia sedang dalam kondisi yang tidak baik... Kita bisa bicara lain waktu lagi,, kita masih punya banyak waktu untuk bicara... Oke.. " Geya mencoba mengusir Rouge dan Marisha secara halus.


Geya tahu bahwa jika mereka melanjutkan pembicaraan, sudah pasti akan timbul pertikaian diantara mereka. Geya tahu betul sifat dan sikap Rouge, sudah jelas nantinya pasti Marisha akan terluka karena pembicaraan ini.


Beruntung Rouge mendengarkan ucapan daddy Joaquin dan pergi dari kamar inap daddy Joaquin mengantarkan sang istri kembali ke kamar rawat nya. Meski di hatinya Rouge belum puas untuk bertanya pada Geya tentang kejadian selama empat tahun belakangan ini, tapi jika daddy Joaquin yang bicara, dirinya tetap harus menurut karena rasa hormatnya yang tinggi pada pemimpin keluarga de Niels.


" Kalian pulang dulu saja, istirahat dulu, tadi Galen bilang besok daddy sudah boleh pulang. Jadi kalian tunggu di mansion saja tidak usah kemari. Daddy tidak ingin Rouge mencari ribut di kawasan rumah sakit... " titah daddy Joaquin tegas.


" Baik dad, kami pulang dulu... " Claude pun pamit dan mengajak keluarganya pulang ke mansion de Niels yang sebenarnya ini kali pertama dia bertandang ke mansion milik keluarga istrinya.

__ADS_1


Di kamar rawat Marisha, sudah menunggu keluarga Rouge minus Romero. Roseline bahkan sudah mengomel karena ipar dan saudara kembarnya ini tiba-tiba menghilang tanpa pemberitahuan. Tapi mulut Roseline yang asyik mencerca Rouge dengan omelan itu langsung kicep saat Rouge menyebutkan nama Geya. Rouge mengatakan bahwa Geya sudah kembali ke Milan, bahkan Geya sudah berkeluarga pun Rouge ceritakan.


" Bagus lah,, kalau Gege sudah menikah. Itu tandanya dia bisa move on, dan tidak terjebak dalam masa lalu seperti seseorang... " Roseline menyindir Rouge.


" Syukur kalau anak mama sudah kembali lagi ke sini,, mama kangen banget sama Gege. Oh ya pa,, nanti kalau Marisha sama cucu kita sudah keluar dari rumah sakit, kita berkunjung ke mansion utama ya. Pengen lihat Gege sama suaminya, apalagi tadi kata Rouge anaknya Gege kembar... " mama Vinda begitu antusias, membuat menantunya merasakan sesak di dada karena begitu Geya pulang, semua orang terfokus pada wanita itu, dia mulai diabaikan.


" Oh ya ngomong-ngomong soal cucu kita, apa kalian berdua selalu orang tuanya sudah memberinya nama? Papa penasaran siapa nama cucu papa? " tanya papa Theo terlihat tidak terganggu sama sekali dengan kenyataan bahwa cucunya buta.


" Namanya Jade Nobel de Niels, pa.. Jade artinya adalah sebuah harapan.. Harapan dari kami orang tuanya.. " Marisha menjawab dengan raut wajah sedih.


" Bagaimana pun kondisinya, Jade tetap cucuku.. Tetap anak kalian, sehingga kalian harus tetap merawatnya seperti kalian merawat Marelyn, jangan dibedakan karena pada dasarnya mereka sedarah. Kita sama-sama belajar bagaimana merawat Jade, agar tumbuh dengan baik meski memiliki kekurangan. " papa Theo berucap tegas.


Bagaimana pun kondisi cucunya, itu tetaplah anugrah dari Tuhan padanya. Sehingga semua anggota keluarga harus menerima itu semua dan tidak mengucilkan kondisi Jade. Dia tetaplah bayi mungil yang terlahir tanpa dosa, sehingga jangan dianggap sebagai karma atas perilaku dan perbuatan orang tuanya. Jade adalah anugerah untuk keluarga mereka karena Jade adalah anak yang special.


" Rouge,, ikut papa sebentar karena papa mau bicara dengan mu... Marisha lebih baik istirahat dulu biar lekas pulih.. " setelah mengatakan itu Papa Theo menyeret Rouge untuk keluar dari ruangan rawat Marisha.


Papa Theo menatap wajah sang putra, seolah tahu apa yang tengah putranya ini rencanakan. Papa Theo harus berusaha untuk mencegah sesuatu hal terjadi, dan bisa semakin bertambah buruk jika dirinya terlambat memperingatkan putranya.

__ADS_1


Papa Theo bukannya tidak tahu bahwa selama empat tahun belakangan ini, putranya masih mencari keberadaan dari keponakannya. Namun kini baik Geya maupun Rouge sudah berkeluarga sehingga tidak baik jika masih ada sisa rasa yang tertinggal di antara keduanya.


" Rouge, masa lalu itu bukan sesuatu yang harus kau bawa ke masa depan mu.. Jangan jadikan masa lalu sebagai tujuan hidup mu karena masa depan ada di depan mata mu... Jangan sampai kau menyesal karena kehilangan lagi apa yang belum kau rasa itu penting sekarang ini, tapi tidak tahu kedepannya. Kau mengerti arah pembicaraan yang papa maksud kan? " Rouge terdiam, tidak menanggapi karena dia tahu papanya sedang memberinya peringatan.


__ADS_2