
Geya berdiri di jendela ruang tengah menetap ke luar. Malam ini terasa dingin setelah sore tadi hujan, namun tidak membuat Geya bisa tidur nyenyak. Raganya disini namun jiwanya seakan melayang jauh, ke tempat dimana hatinya berlabuh.
Galen yang baru keluar dari kamarnya setelah membaca email yang kirim sekretarisnya. Galen meninggalkan semua pekerjaannya di Milan karena merasa bahwa Geya pasti akan kesulitan melewati hari ini. Dan terbukti saat dia melihat Geya berdiri di dekat jendela. Melamun seorang diri.
" Kenapa tidak tidur Ge? Ini sudah pukul dua dini hari. Ibu hamil. tidak boleh begadang.. " tegur Galen. Dia mengambil tempat berdiri di samping Geya.
" Aku tidak bisa tidur.... Len, bukankah sekarang ini pemberkatan pernikahan Rouge dan Marisha sudah dimulai? " Galen menghembuskan nafas kesal saat tahu apa yang membuat Geya melamun di waktu sekarang ini.
Los Angeles dan Milan, Italia memiliki perbedaan waktu sembilan jam. Jika sekarang di Los Angeles sedang pukul dua dini hari maka di Milan sana sekarang ini sudah pukul sepuluh siang. Dan kebetulan di hari ini dan dipukul sepuluh siang waktu Milan, Rouge dan Marisha sedang melakukan pemberkatan pernikahan.
Geya merasa sakit hati mengingat hal itu, hatinya hancur. Mungkin setelah ini dia akan menandai tanggal, bulan dan tahun ini menjadi hari patah hatinya.
" Kau masih memikirkannya? " tanya Galen setelah beberapa waktu dia diam mengatur emosinya. Doa kesal dan marah mengingat apa yang terjadi pada Geya karena Rouge.
" Tidak semudah itu melupakan orang yang kita cintai Len, apalagi sekarang ini aku mengandung benih cintanya. " air mata Geya mulai turun membasahi pipinya. Melihat itu Galen mendekat dan langsung memeluk Geya dari belakang.
" Belajarlah untuk setidaknya tidak lagi mencintainya Ge. Keputusan mu untuk pergi sudah yang terbaik. Jika pun kau tetap memaksa bersamanya maka ada anak dan wanita yang juga akan menderita. Meski egois jika aku berkata seperti ini, karena nyatanya kau yang sekarang menderita. "
" Aku tidak menyesal pergi. Hanya saja entah mengapa hari ini aku merasa begitu tersakiti. Aku merasa hidup ku hancur begitu pula dengan hati ku.. "
" Berdamailah dengan masa lalu mu Ge, aku yakin dengan begitu kau akan bisa menyembuhkan luka dihati mu. Percayalah aku selalu ada untuk mu dan juga kedua keponakan ku ini.. " Galen mencium kepala Geya dari belakang. Mengingat kejadian sore tadi kita Galen memergoki Geya mendapat paket dari penggemar rahasianya.
" Tuan muda, saya bisa pastikan bahwa orang yang mengirim ini semua bukanlah orang jahat. Nyawa saya taruhannya tuan... "
__ADS_1
" Ada juga positif nya ketika nona besar menerima hadiah-hadiah ini. Hati nona besar langsung senang, bahkan beliau tertawa heran karena baru sebentar beliau tinggal di sini sudah ada yang menjadi penggemarnya. Kejadian ini bisa membuat nona besar melupakan semua kesedihannya tuan.. "
" Mungkin jika aku membiarkan mu mendapatkan penggemar rahasia, bisa jadi kau lekas melupakan Rouge dan menjalani hidup mu dengan cerita yang baru Ge... " batin Galen. Keduanya masih saling berpelukan dengan Galen yang memeluk Geya dari belakang. Galen ingin menenangkan hati dan pikiran dari adik kembar tersayangnya itu.
...*******...
Milan, Italia
pukul 12.00
Suasana ballroom hotel siang ini dipenuhi oleh tamu undangan yang diundang untuk memeriahkan pesta pernikahan Rouge dan Marisha. Sengaja pesta ini dibuat semeriah mungkin karena ini merupakan pertama kalinya Matheo dan Vinda menikahkan anak mereka.
Berbagai kalangan hadir, tak terkecuali semua anggota keluarga de Niels mulai dari keluarga utama pun semuanya datang. Tentu hanya Galen dan Geya yang tidak datang, karena memiliki alasan pribadi. Meski begitu sama sekali tidak mengurangi kemeriahan dan juga makna dari pesta itu sendiri.
" Selamat ya Rouge dan juga Marisha, semoga pernikahan kalian bahagia dan dikaruniai banyak anak... " mommy Noura memberikan ucapan selamat untuk mempelai.
" Thanks bibi..." Rouge tersenyum.
" Selamat untuk kalian... " daddy Joaquin ikut memberikan selamat terkesan dingin dan acuh.
" Terima kasih paman... Apa Galen tidak datang? " Rouge memberanikan diri bertanya.
" Dia ada bisnis di China yang tidak bisa diwakilkan dan ditunda. Dia menitipkan kata maaf dan ucapan selamat untuk mu. Galen juga mengirim hadiah pernikahan untuk kalian... " ujar mommy Noura tersenyum canggung..
__ADS_1
" Len, mommy harus bohong karena kamu... Awas aja ya kamu... " batin mommy Noura sedikit jengkal dengan putra sulungnya.
Pasalnya dua hari yang lalu Galen berpamitan untuk pergi perjalanan bisnis. Dan saat ditanya tentang pernikahan Rouge, jawabannya begitu menyakitkan telinga sekali.
" Aku tidak peduli dia menikah atau tidak.. " begitulah kira-kira salam perpisahan Galen dan mommy nya dua hari yang lalu.
Di sudut ballroom hotel yang lain, berkumpul para sepupu Rouge dan juga kedua saudara Rouge. Roseline saudara kembar Rouge dan adik laki-laki nya, Romero. Pembicaraan yang sedang mereka bahas adalah tentang ketidakhadirannya Galen dan Geya dalam pesta pernikahan Rouge dan Marisha. Berbagai spekulasi mereka pikirkan, namun tak kunjung mendapat jawaban yang sebenarnya. Gafar yang sudah tahu pun hanya mengedikkan bahunya acuh..
" Aku merasakan sakit yang dirasakan Geya... " gumam Rose lemah.
" Hm.... Kak Rose benar, aku pun juga merasakan sakit yang kakak Gege rasakan.. " Silvanna putri Gilbert dan Sherly yang bicara.
" Sudah jangan kalian dramatisir drama yang sudah terjadi. Doakan saja kak Gege bahagia di mana pun dia berada... " tegur Gavriel adik dari Silvanna.
" Dasar tidak pernah jatuh cinta makanya ngomongnya nggak pakai perasaan.. " cibir Silvanna
" Kalian ini sudah jangan menggerutu dan ribut saja, kepala ku pusing tahu... " Gafar angkat bicara. Bukannya tidak suka dengan topik yang diangkat saudaranya, namun mulutnya jadi begitu gatal ingin menceritakan yang sebenarnya. Dia sedang berusaha mati-matian menahan agar tidak keceplosan
Meninggalkan saudara dan sepupu Rouge yang masih berdebat karena masalah Geya, mari kembali melihat bagaimana pengantin saat ini. Keduanya diam diselimuti aura yang tidak mengenakan setelah pembicaraan dengan orang tua Geya yang mengatakan Galen tidak datang karena bisnis. Rouge tahu itu hanya alasan saja, karena pastinya Galen masih marah dengannya karena dia menghamili dan menikahi Marisha dan bukan Geya.
" Maaf karena aku Geya pergi dan juga sekarang kamu jadi dibenci saudara mu... " ujar Marisha membuyarkan lamunan Rouge. Marisha tidak buta dan tuli, dia pun tahu bahwa karena pernikahan ini Rouge harus bertengkar dengan Geya dan saudara Geya yang lain. Tapi apakah Marisha egosi jika doa menuntut pertanggung jawaban Rouge saat itu.
" Sudah jangan kau pikirkan... Ini sudah menjadi resiko ku karena menikahi mu.. " ujar Rouge dingin.
__ADS_1
" Maafkan aku Geya... " batin Rouge