DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
Aku lelah Sha


__ADS_3

Lorong rumah sakit terlihat sepi sekali pagi ini. Sepertinya tidak banyak orang yang datang untuk menjenguk keluarganya di pagi hari. Atau ini belum jam besuk, tapi bagi seseorang yang tengah berjalan di Koridor rumah sakit sepagi ini sama sekali bukan masalah. Dia bisa menjenguk siapa saja yang dirawat di rumah sakit ini tanpa ada yang melarang atau harus memenuhi aturan.


Meski langit terlihat sangat cerah, tapi tidak untuk Rouge. Hatinya mendung sama sekali tidak ada sedikit saja secercah cahaya yang menyinarinya. Rouge berjalan gontai menuju ke ruang rawat sang istri. Pagi ini dia kembali lagi setelah semalam pulang ke mansion karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa dia tunda harus di selesaikan.


Kakinya membawa tubuhnya menuju ke tempat dimana istrinya berada. Wajah istrinya masih terlihat pucat, belum ada tanda-tanda istrinya akan bangun, dan yang lebih menyesakan adalah sejak terakhir kali tangan Marisha bergerak hari itu, hingga kini masih tidak ada perubahan sama sekali. Sungguh Rouge merasa seperti dipermainkan disini. Tubuhnya lelah, hatinya pun lelah, lelah berharap bahwa istrinya akan kembali bangun lagi.


" Pagi Sha... Hari ini aku capek banget rasanya, padahal masih pagi ya.. " gumam Rouge melepas coat hitam panjang miliknya, menggantungnya di tiang gantung. Rouge berjalan cuci tangan terlebih dahulu baru mendekat ke arah Marisha terbaring tidak sadarkan diri.


" Huft... Coba kamu ada di samping aku,, Sha.. Aku nggak akan secapek ini.. Tadi sebelum ke sini juga aku nyiapin semua kebutuhan Marellyn, princess kecil kita yang sudah sekolah itu. Dia kek nya seneng banget lho, Sha. " gumam Rouge mulai dengan telaten mengelap tubuh Marisha.

__ADS_1


Entah dimulai sejak kapan, Rouge juga tidak mengetahuinya tapi ketika dia melayani istrinya seperti ini, mengelap tubuh sang istri, kemudian juga menggantikan pakaian sang istri, berusaha mengubah posisi baring sang istri agar punggungnya tidak sampai keringatan, semua itu tidak terasa menjadi hal yang menyenangkan bagi Rouge. Bisa menjadi seseorang yang merawat sang istri, tapi lebih menyenangkan lagi jika yang dirawat ini segera sadar.


Rouge kembali duduk di kursi yang selama sebulan lebih ini dia duduki di setiap harinya. Kadang bisa seharian penuh, kadang setengah hari, dan kadang hanya beberapa jam jika dia sangat sibuk sekali. Rouge menggenggam tangan Marisha, diletakkannya tangan itu di dahinya ketika Rouge menunduk dan memejamkan matanya. Rouge meresapi setiap kesalahan yang dia perbuat pada orang ini, pada wanita ini, pada istrinya ini, ibu dari anak-anak ini, kesalahan yang mungkin tidak terampuni sehingga wanita yang entah sejak kapan mengisi relung hatinya ini enggan untuk bangun.


" Apa jika aku selamanya pergi dari hidup kalian, kau akan bangun Sha? Jika itu keinginan mu, maka aku akan pastikan pergi jauh Sha.. Hari ini akan menjadi terakhir ku menemani mu Sha. " gumam Rouge.


Tes... Tes...


Marisha mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Rouge dan beberapa orang yang datang mengunjungi nya. Marisha tahu bahwa suaminya sekarang menyesali apa yang terjadi pada mereka berdua. Marisha tahu bahwa Rouge berusaha untuk melakukan penebusan, bahkan Dettus yang berkunjung untuk melihatnya juga mengatakan bahwa suaminya ini tengah dalam proses berubah menjadi lebih baik. Lalu apakah Marisha bahagia?

__ADS_1


Tidak ada hal yang tidak lebih membahagiakan dari orang yang kita cintai bisa berubah demi kita dan orang disekitarnya. Tapi, apakah itu masih berguna sekarang? Marisha tidak tahu bagaimana hatinya saat ini, yang dia ketahui hanya dirinya ini yang bimbang akan memberi kesempatan Rouge atau tidak. Inikah yang membuatnya tidak bisa bangun dari komanya, karena hatinya belum bisa memutuskan.


Marisha ingin sebenarnya lekas bangun, terutama ketika mendengar Geya hamil lagi. Karena terus terang dia ingin sekali memaki teman baiknya itu karena anaknya saja baru empat bulan tapi sudah hamil lagi. Namun berulang kali dia mencoba untuk sadar, tapi Marisha tidak bisa membuat kesadarannya kembali lagi. Apakah benar karena hatinya belum siap, atau karena penyakit yang dia derita pasca kecelakaan waktu itu. Bahkan Marisha ingin sekali melihat Jade kala itu, karena Jade juga ikut tertabrak bersamanya.


" Sha... aku ngantuk banget... Semalam cuma tidur satu jam aja.. Aku tidur sebentar ya, Sha.. Bentar aja.. " gumam Rouge yang masih bisa didengar Marisha karena Rouge merebahkan kepalanya di samping kepala Marisha.


" Aku lelah Sha... Aku ingin menyerah untuk mendapatkan maaf dari mu.... " gumam Rouge tidak begitu jelas.


Degh... Degh.... Degh...

__ADS_1


Jantung Marisha berpacu dengan depan ketika mendengar gumaman terakhir Rouge antara sadar dan tidak sadar itu. Satu yang Marisha tahu soal suaminya dan itu dia sangat paham, suaminya ini orang nekat sekali. Marisha merasa Rouge benar-benar dititik terendah dalam hidupnya dan dia akan menyerah saat ini.


" Tidak... tidak... Kamu nggak boleh nyerah Rouge... Jangan aku mohon... Rouge... Jangan menyerah aku mohon..... "


__ADS_2