DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
Anak-anak Geya.


__ADS_3

LIMA TAHUN KEMUDIAN


" Daddy, come here please.. " suara cempreng Alrescha memanggil sang daddy untuk datang ke kamar dimana Geya terbaring dalam keadaan koma.


Claude segera berlari menuju arah suara si bungsu, karena biasanya jika si bungsu sudah berteriak seperti ini, berarti ada sesuatu yang memang sangat mendesak dan penting. Terlebih, Alrescha berteriak dari dalam kamar Geya.


" Ada apa Al? " tanya Claude setelah berusaha mengontrol nafasnya. Usianya tidak lagi muda, belum lagi selama lima tahun dia begitu sibuk dengan anak-anak dan perusahaan. Claude sekarang terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usianya.


" Tangan mommy bergerak, meski cuma sebentar sih... Apa mommy akan bangun? " tanya Alrescha dengan wajah penuh harap.


" Apa kau selalu berdoa sebelum tidur dan mendoakan mommy lekas bangun? Jika iya, maka Tuhan akan mendengar doa mu, dan tidak lama lagi mommy akan bangun.. Jadi jangan sampai kau lupa berdoa... Oke.. " Claude mendekat ke arah putra kecilnya dan langsung menggendong si bungsu ini untuk diajak keluar dari ruangan Geya.


" Jangan masuk ke sana sembarangan.. Jika kau membawa kuman penyakit maka mommy tambah sakit. " tegur Claude.


" Don't worry dad.. Aku sudah cuci tangan sebelum masuk ke kamar mommy.. I really want to see mommy wake up dad.. " ujar Alrescha sudah siap untuk mengeluarkan jurus andalannya, menangis.


" Hei... Daddy tidak marah, hanya saja jangan masuk ke sana tanpa izin daddy. Okay? " Claude mengusap puncak kepala putra bungsunya dengan sayang. Merasa bahwa Alrescha melakukan ini semua karena menginginkan kasih sayang dari seorang ibu.


Selama lima tahun ini, dengan dibantu baby sitter ketiga anaknya, Claude merawat ketiga anaknya dengan sangat baik. Quon, Quella dan Alrescha, tumbuh menjadi anak-anak yang ceria meski mereka kehilangan sosok ibu mereka selama lima tahun ini. Quon dan Quella selalu siap sedia menjaga si bungsu dalam hal apapun.

__ADS_1


" Alrescha... Ayo kita berangkat.!! " teriak Quella dari lantai satu. Gadis Claude saat ini sudah berusia hampir sepuluh tahun, dan diusia itu Quella terlihat sudah sangat cantik sekali meski ada kacamata tebal bertengger di pangkal hidungnya, tapi tetap sangat cantik. Gen ibunya lebih banyak daripada ayahnya yang brengsek itu.


" Oke... Wait me, Sis... " Alrescha langsung masuk lift dan turun ke lantai satu.


Di Sana rupanya juga sudah ada Quon yang meminum susu buatan pelayan sambil matanya melihat ke laptop. Claude heran melihat tingal putra sulungnya yang sekarang mirip sekali dengan seorang petinggi perusahaan yang tengah memeriksa berkas. Anggap saja susu yang diminum Quon adalah kopi.


" Quon.. Lekas habiskan susu mu,, dan berangkat ke sekolah. Kedua adik mu sudah menunggu.. " tegur Claude yang tahu putranya ini lupa waktu karena asyik mempelajari pelajaran di laptopnya.


" Oh... Sorry dad.. " Quon langsung membereskan semuanya, kemudian pamitan pada sang daddy untuk berangkat sekolah.


Quon yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata itu sudah menjalani program lompat kelas sejak dua tahun yang lalu. Sekarang, dia memiliki tiga dua tingkatan di atas Quella. Jika sekarang Quella kelas empat sekolah dasar, Quon sudah masuk sekolah menengah pertama.


Tidak ada yang berani membully Quon meski dia yang paling kuda di kelasnya. Siapa yang tidak membutuhkan kemampuannya dalam menyelesaikan soal yang sangat sulit sekalipun, sehingga anak-anak nakal yang awal dulu pernah membullynya, kini justru belajar bersama dengannya dan nilai mereka meningkat dari sebelumnya.


" Quon... Apa kau akan ada kelas lagi sepulang sekolah? " tanya Quella yang duduk di belakang, karena yang didepan adalah Quon.


" Sepertinya, memangnya kenapa? " tanya Quon memutar kepalanya kebelakang melihat dua adiknya disana.


" Boleh kami pulang dulu.. Aku ada belajar kelompok.. "

__ADS_1


" Dimana? "


" Mansion kita.. Jangan khawatir, aku selalu menawarkan teman ku untuk belajar di rumah.. " ujar Quella seolah tahu kecemasan Quon.


Quon hanya mengangguk dan kembali memutar kepalanya ke depan untuk melihat jalanan di depan. Trauma, itulah yang dirasakan Quon atas kecelakaan Geya waktu itu. Sebab itu, dia selalu meminta semuanya dikerjakan di mansion. Pekerjaan daddy nya, kerja kelompok baik itu dia ataupun adik-adiknya. Seolah Quon tidak akan tenang jika mereka keluar dari mansion tanpanya.


Begitu sampai di sekolah, mereka bertiga berpencar dan Alrescha pergi bersama dengan baby sitter nya. Quon berjalan menuju ke kelasnya ketika kemudian dia melihat seorang pria berjalan ke arahnya. Rasanya pria ini bukan guru di sini, tapi kenapa bisa masuk ke sekolahan yang dirinya tahu peraturan nya sangat ketat.


" Tuan muda bisakah anda ikut saya sebentar? " ajak pria itu.


" Siapa kau dan kenapa aku harus ikut? " tanya Quon yang mulia mengeluarkan aura dingin dan tidak tersentuh miliknya.


" Anda putra Smith Harley kan.. Ikut saja, tuan saya ingin memberikan sesuatu yang penting untuk anda. Mungkin itu bisa membantu ayah anda.. " pria itu terlihat sopan meski Quon terlihat meremehkannya.


" Baik.. "


Quon mengikuti orang itu pergi ke kantor kepala sekolah. Alisnya mengernyit karena yang dituju adalah ruangan kepala sekolah. Dengan kata lain, kepala sekolah memberikan izin pada orang ini untuk menemuinya. Siapa orang ini yang bisa membuat kepala sekolah memberinya izin.


" Hai Quon... Ingat dengan ku??? " sapa pria yang ada di ruang kepala sekolah.

__ADS_1


Quon berjalan memberi hormat pada pria di depannya ini. Quon mengenalnya, pria ini adalah paman yang pernah membantunya saat dia terdesak ketika pulang sekolah dan dihadang oleh penjahat


" Apa kabar paman? Lama tidak berjumpa,, dan kenapa bertemu dengan ku di sekolah? Tidak di rumah saja? " tanya Quon langsung memeluk pria itu.


__ADS_2