DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
Arti Marisha bagi ku


__ADS_3

***Pov Rouge


Empat tahun yang lalu***,


Pagi ini aku kembali dibuat kesal oleh sepupu ku tapi juga wanita yang aku cintai. Bagaimana tidak, dengan santainya dia membawa seorang wanita dan mengatakan bahwa wanita itu akan menjadi sekretaris ku. Padahal aku sama sekali tidak ada niatan mencari sekretaris dalam waktu dekat karena aku masih memiliki Eros yang bisa merangkap dua pekerjaan sekaligus.


Karena tidak akan menang jika berdebat dengan wanita pujaan ku itu, akhirnya aku menerima saja wanita menjadi sekretaris ku. Wanita yang aku tahu bernama Marisha, yang adalah sahabat baik Geya saat di sekolah. Oh aku baru saja teringat, wanita ini adalah gadis yang dulu selalu kemana-mana bersama dengan Geya. Dulu aku mengenalnya tai dia tidak secantik sekarang ini. Ehm... Dia sekarang terlihat cantik dan anggun. Berbeda dengan Geya, temannya yang menjadi sekretaris ku ini cantik dengan cara yang dewasa. Aku menyukaimu, tapi hanya batas itu karena cinta ku hanya untuk Geya.


Beberapa bulan setelah Marisha menjadi sekretaris ku, aku mendapati kenyataan bahwa aku bukanlah anak kandung papa Theo, melainkan anak kandung mama dengan pria yang identitasnya tidak bisa aku ketahui karena ditutup rapat oleh keluarga besar ku. Kecewa jelas pasti, karena aku sama sekali tidak pernah menyangka bahwa aku yang mengaku sebagai anak tertua di keluarga de Niels dan pantas menjadi kepala keluarga, nyatanya hanyalah orang lain. Anak dari pria lain yang menginginkan hak yang bukan haknya, tidak tahu malu bukan.

__ADS_1


Aku mabuk-mabukan tanpa peduli apapun, dan selalu Marisha yang ada di dekat ku. Wanita itu menenangkan ku menjadi tempat ku bersandar hingga bodoh jika aku bilang tidak menyukainya lebih dari sekedar dia cantik. Marisha pandai memasak, merawat dan tutur katanya lembut. Hingga suatu malam aku yang mabuk terlena dan menghancurkan hidupnya. Saat itu bodohnya aku masih menyimpan cinta ku untuk Geya, tapi tidak menutup kenyataan aku candu pada Marisha. Gilakah aku?


" Jika kau hamil aku akan menikahi mu, tapi jika tidak jangan berharap. Anggap saja malam ini kita sama-sama melakukannya seperti ONS. " ujar ku saat itu.. Bajingan kan.


Meski aku mengatakan itu padanya, tapi setiap hari dimana pun aku berada bersamanya, aku akan memintanya untuk melayani ku. Tidak peduli saat kami bertemu klien sekali pun, aku akan langsung mengajaknya check-in, dan dia menurut saja. Ternyata dia menyukai ku. Saat itu aku seperti memiliki sebuah ide untuk memanfaatkan kehadiran Marisha untuk mengusir Geya dalam hidup ku karena aku tidak pantas berada di sisinya dengan status anak haram ku ini.


Satu hal yang tidak masuk dalam perhitungan rencana ku adalah peristiwa di hotel dimana aku menegak minuman yang berisikan obat halusinogen dan aku tidak jelas dengan pasti siapa yang saat itu bersama ku, namun yang pasti aku benar-benar telah menyentuh seorang wanita. Dan ketika aku sadar wanita itu ternyata adalah Marisha. Hal itu semakin membuat ku yakin menikahi wanita itu, tapi sebagian kecil dari dalam diri ku merasa ada yang tidak beres disini, aku tidak mengingat tentang Geya sama sekali padahal aku berangkat ke acara itu bersama Geya.


Pernikahan ku dengan Marisha tiba, aku lihat dia bahagia sekali, maka aku pun juga bahagia. Tapi Geya tiba-tiba menghilang dan disaat pernikahan ku Galen ikut tidak datang. Aku selalu terusik dengan kenyataan itu, apalagi jika aku melihat betapa sakit hatinya Geya saat masuk ke ruangan ku dan melihat aku menyetubuhi Marisha saat itu. Tapi di depan mata ku sudah ada Marisha dan calon anak kami, aku harus melupakan Geya. Harus demi keluarga ke agar bahagia.

__ADS_1


Empat tahun aku mengarungi pernikahan dengan Marisha, bisa dibilang aku bahagia tapi aku juga merasa hampa. Bahagia karena Marisha adalah istri yang begitu sempurna bahkan dia merawat sendiri putri kecil ku dari bayi hingga kini berusia tiga tahun. Kami menghabiskan banyak waktu bersama aku merasa nyaman dengan kehadirannya tapi juga aku merasa hampa tanpa wanita yang aku cintai saat ini, Geya.


Puncaknya dari kehampaan ku itu ketika aku melihat Geya bersama pria lain yang dia bilang adalah suaminya. Aku marah, aku kecewa, aku tidak terima karena ternyata Geya baik-baik saja tanpa ku. Padahal aku merasakan kehampaan yang begitu kental di relung hati ku, tapi lihat dia begitu bahagia dan dia sudah memiliki anak seumuran dengan putri ku. Wah,,, ada cerita apa yang aku tidak ketahui.


Karena rasa penasaran dan tidak terimanya diri ku atas bahagianya Geya tanpa kehadiran ku, aku menjadi murka dan tidak tentu arah. Aku mulai mengabaikan Marisha dan kedua buah hati ku padahal Jade, terlahir buta dan butuh perhatian khusus tapi aku mengabaikannya dan berusaha mengusik Geya. Aku tidak Terima jika Geya bahkan tidak bersedih sedikit pun karena kehilangan ku. Tanpa aku sadar karena perbuatan ku itu, aku akan kehilangan wanita yang mencintaiku dengan tulus dan merawat ku serta anak ku dengan penuh cinta., Marisha.


Ternyata dia diam bukan karena dia tidak sedih, tapi dia diam karena tidak bisa mencegah ku untuk menggila karena rasa tidak Terima ku pada Geya. Rupanya istri ku juga terluka karena ku, padahal aku pikir dia akan baik-baik saja. Rupanya aku telah menghancurkan pernikahan ku dan karena marah, lihat sekarang apa yang istri ku lakukan untuk menghukum ku. Dia bahkan ingin meninggalkan mu selamanya.


" Aku mohon sembuh lah, Sha.. Aku janji setelah ini akan membahagiakan mu selamanya, bahkan jika aku harus kehilangan mu dan melepasmu. Asalkan jangan mati, aku mohon... " pinta ku begitu dalam pada yang Maha kuasa. Untuk tidak mengambil wanita yang berarti dalam hidup ku ini.

__ADS_1


__ADS_2