
Tubuh lelah karena kurang istirahat, wajah pucat karena tidak selera makan, pikiran kalut karena banyak hal yang dipikirkan namun tidak kunjung menemukan jalan keluar. Hal ini membuat Claude terlihat lebih tua sepuluh tahun dari usianya yang sebenarnya. Claude merasa kepalanya benar-benar ingin pecah karena menahan semuanya tanpa bisa melampiaskan barang sedikit saja.
Tiga hari, inikah hari ketiga Quon dan Quella menghilang bersama dengan Rouge. Belum adanya satu petunjuk pun membuat Claude merasa sangat frustasi. Apalagi sekarang Geya ikut drop karena stress pasca melahirkan dan lagi pikirannya terlalu banyak karena memikirkan kedua buah hatinya. Bertambah sudah masalah yang harus Claude hadapi, namun tiada seorang pun yang bisa membantunya
" Claude makanlah!! " Ghadi memasuki ruang kontrol keamanan di mansion utama tempat dimana sekarang ini Claude tengah termenung.
" Oh... Ya... Terima kasih,, taruh saja disana nanti aku akan memakannya.. " ujar Claude masih belum mau beranjak dari kursi yang dia duduki sejak semalam.
" Huft.... Haruskah aku menyuapi mu agar kau mau makan? Jangan sekali-sekali kau mengabaikan yang namanya makanan. Itu tidak baik untuk mu dan tidak bersyukur namanya. Sekarang makan aku akan melihat mu atau kau mau aku suapi? " ujar Ghadi terlihat sedikit menyeramkan dimata Claude. Yang benar saja disuapin di usianya yang sekarang, terang saja Claude malu.
Akhirnya dengan sedikit ancaman, Claude mau juga makan setelah kemarin seharian tidak menyentuh makanan sama sekali. Meski sebenarnya perut Claude lapar, tapi pria ini tidak ada satu niat pun untuk menyantap makanan meski makanan paling enak yang paling dia sukai sekalipun. Nafsu makan Claude menghilang bersamaan dengan kedua anaknya.
Ghadi tentu bisa bernafas lega karena akhirnya saudara iparnya ini mau makan juga. Ghadi sebenarnya tidak ingin jika baik Geya maupun Claude sama-sama drop karena baby Alrescha butuh keduanya apalagi twins Q. Jadi tidak ada salahnya memaksa keduanya tetap makan, karena tidak baik juga ketika nanti mereka menemukan keberadaan twins tapi Claude malah sakit.
Dikamar Geya, terlihat wanita ini masih terbaring dengan wajah yang pucat. Infus menancap di pergelangan tangan kirinya untuk membantunya memperoleh nutrisi karena sama sekali belum sadarkan diri sejak malam hilangnya twins. Di kamar Geya sudah ada mommy Noura, dan juga mama Vinda yang menemani. Sekedar info, sejak diketahui jika Rouge adalah pelakunya, baik papa Theo maupun mama Vinda tidak ada yang keluar dari mansion utama. Keduanya seperti menyandera diri mereka sendiri di sini sebagai bentuk penyesalan karena perbuatan anak mereka.
__ADS_1
Daddy Joaquin dan papa Theo berada di ruangan yang ada di depan kamar Geya tengah membicarakan masalah yang serius. Papa Theo berusaha mengorek apa yang daddy Joaquin sembunyikan. Karena saat menceritakan masalah seseorang yang mengincar keluarga de Niels, hanya sepotong saja yang diungkapkan oleh daddy Joaquin.
" Setelah semuanya apa kakak masih tidak ingin mengatakannya padaku permasalahan yang sebenarnya? Bodohnya aku yang sejak dulu tidak. isa membaca apa yang ada dalam pikiran kakak, lain dengan Kak Dan... " gerutu Theo, membuat daddy Joaquin menatap si bungsu itu tidak terbaca.
" Kau pasti sudah sadar garis besar masalah ini kan. Ini memang ada sangkut pautnya dengan masalah dimasa lalu. Sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan kehamilan Vinda waktu itu. Tapi tepatnya siapa pelakunya kami belum mengetahuinya... " ujar daddy Joaquin masih sangat ambigu.
" Bukan itu maksud ku... Kenapa kakak tidak mengatakan tentang Rouge dan Geya. Tentang keduanya dan masalah pelik yang dihadapi keduanya. Kenapa sampai Rouge mengira si kembar anaknya? Kenapa kami tidak mengetahui apapun tentang masalah ini? " tanya Theo mendesak.
Daddy Joaquin menghela nafas terlihat lelah. Bukan lelah menghadapi adik bungsunya, tapi lelah karena harus membahas cerita lama yang sebenarnya sangat melukai dirinya dan juga semua anaknya. Tapi jika tidak dijelaskan sekarang, daddy Joaquin takut jika Theo melampiaskan semuanya pada Rouge dan menyalahkan anak itu.
" Aku harap kau tidak akan menyalahkan putra mu setelah apa yang aku ceritakan ini. Awas saja kau kalau aku mendengar kau menghajarnya lagi seperti ketika kau tahu Rouge menyakiti Geya karena masa lalu Vinda yang mengganjalnya. " ujar daddy Joaquin memperingati.
" Ck... Kalau masalah itu aku tidak janji. Menculik cucu mu saja sudah membuat ku ingin menghajarnya, apalagi jika benar dia telah melakukan kesalahan yang fatal lainnya. " ujar Theo tetap keras seperti biasanya.
" Geya dan Rouge pernah dijebak dengan obat halusinogen. Berakhir dengan Rouge yang memperkosa Geya, kejadian itu empat tahun yang lalu sebulan sebelum Rouge mengumumkan pernikahannya dengan Marisha. Tidak ada yang tahu siapa pelakunya tapi semua masalah memang berawal disana. Pelaku ingin aku dan kau, kedua kekuatan keluarga de Niels terpecah, tapi berkat Galen semuanya tidak terjadi.. "
__ADS_1
" Geya datang ke kantor anak mu untuk meminta pertanggung jawaban dari Rouge setelah satu bulan berlalu dimana dia memanfaatkan itu untuk menenangkan dirinya. Tapi kenyataan membuatnya terluka, putra mu akan menikahi wanita lain yang ternyata hamil anaknya. Geya juga tahu ternyata Rouge sama sekali tidak mengingat hal tersebut. Dan kemudian memutuskan untuk pergi.... " daddy Joaquin langsung memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela. Mengatakan ini sama saja dengan menorehkan luka dihati adik bungsunya karena itu melukai harga dirinya.
Matheo terkejut, bahkan wajahnya terlihat sangat aneh saat ini. Tentu saja dia terkejut bahkan sangat, karena masalah ini sama sekali tidak dia ketahui. Kepergian Geya kala itu hanya bentuk sebuah pelarian semata tanpa adanya sebab yang melebihi dari sekedar ditinggal menikah kekasih hati.
Theo menelan ludahnya kasar, kemudian menatap wajah sang kakak yang terlihat sedih. Matheo menunduk merasa sedih, dia kembali melihat wajah sedih dari pria yang begitu dikaguminya itu lagi setelah tiga puluh tahun lamanya. Matheo merasa dia benar-benar telah berdosa, kembali menghadirkan luka untuk saudara angkatnya.
...***********...
Dari petunjuk yang ditinggalkan oleh Marisha, pria misterius itu kini tahu keberadaan dari anak kembar Geya dan Claude. Secara diam-diam pria itu datang ke desa tempat dimana di kembar berada untuk melihat situasi yang sedang terjadi di sana.
Rumah sederhana dengan lantai dua itu nampak sepi di luar tapi entah di dalamnya. Hanya ada beberapa orang saja yang tampak berkeliaran di luar, sepertinya itu adalah penjaga yang telah diperintahkan Rouge untuk menjaga keamanan rumah.
" Bagus Tobi... Kau tidak pernah gagal dalam melakukan apapun yang aku perintahkan... " pujinya pada sang asisten yang baru kemarin keluar dari rumah sakit.
" Terima kasih tuan... Lalu bagaimana kelanjutan dari rencana anda? Apakah kita akan membiarkan saja Rouge bertindak sesuka hatinya? " tanya To I.
__ADS_1
" Berikan petunjuk pada Claude tanpa dia curiga darimana petunjuk itu datang. Pasti akan sangat menyenangkan melihat mereka berdua saling adu tonjok di depan ku.... Hahahahahahahaha.... " tawa pria misterius itu memenuhi mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat twins Q berada.