DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
cinta berbalas tidak bisa diperjuangkan.


__ADS_3

Marisha terus menerus tidak berhenti menangis dalam pelukan Rouge. Apa yang dia dengar dari mulut Pome sendiri, tentang kejadian empat belas tahun yang lalu. Tentang cintanya, membuat Marisha berlinangan air mata. Sungguh ironis sekali, disaat ada bagian dari pria itu berada di dalam perut Pome, tapi pria itu justru meninggal dunia.


Marisha melihat tubuh Pome terbaring di atas ranjang setelah diberi obat penenang. Setelah menceritakan kenyataan itu pada Marisha untuk pertama kalinya, dan itu membuat Pome kembali mengamuk dan berakhir mendapatkan suntikan obat penenang.


" Apa dia akan selalu seperti itu? " tanya Rouge jelas mewakili pertanyaan semua orang.


" Hm.. Lebih parah dari ini jika melihat anak gadisnya sendiri. Dulu aku tidak tahu kenapa reaksi Pome selalu saja histeris setiap melihat Ve, tapi ketika aku melihat wajah pria itu difoto tadi, aku jadi tahu... Veasha memiliki wajah yang sama persis dengan ayahnya, hanya berbeda jenis kelaminnya saja.. " Nator bercerita.


" Kau tidak membawanya ke.... ehm... maaf,, psikiater atau .... rumah sakit?? " sedikit tidak enak bertanya, tapi kondisi Pomela saat ini memang biasanya membutuhkan orang ketiga untuk kesembuhannya. Itulah yang dipikirkan Rouge tapi dia juga tidak nyaman secara terang-terangan bertanya.


" Sudah.. Lima tahun dia tinggal di rumah sakit jiwa setelah hampir membunuh Veasha yang saat itu berusia baru satu bulan... Kemudian dia dinyatakan sembuh, dan terulang lagi kejadian dia yang hampir mencelakai Veasha, tapi hebatnya ketika aku membawanya ke rumah sakit jiwa tidak ada masalah dengan kejiwaannya.... Aku pun akhirnya menempatkannya disini. " Rouge tidak bisa percaya apa yang baru saja dikatakan oleh Nator. Dia pun akhirnya hanya bisa menghela nafas saja karena sepertinya Nator pun sudah kehilangan akal dan cara untuk menyembuhkan Pomela.


Semua orang yang tadi mengunjungi tempat di mana Pomela tinggal, kini berganti sudah berada di mansion yang melihat bagaimana anak gadis Pomela tubuh menjadi sosok yang periang, tapi sebenarnya menyimpan begitu banyak luka dihati. Marisha yang paling bisa mengerti perasaan itu puji mendekati Veasha hanya sekedar untuk mengobrol biasa, sekaligus mencari tahu seberapa dalam luka yang dia simpan di dalam hatinya.

__ADS_1


" Oh... Jadi tante dan om-om yang di sana itu teman uncle ya.. Apa tante kekasih uncle? " Marisha sedikit terkejut mendengar pertanyaan pertama yang muncul dari mulut gadis di depannya ini.


" Hahahaha... Jelas bukan lah.. Uncle mu bukan tipe ku,, itu yang memakai kemeja berwarna navy, baru itu suami ku... Begini-begini anak ku sudah dua lho.. "


" Yang benar tante... Yah aku tahu memang uncle ku bukan termasuk pria yang akan disukai para wanita karena terkenal dingin dan galak.. "


" Tapi kau menyukainya kan...? " Marisha menaik turunkan alisnya, menggoda Veasha.


" Sssttttt.... Jangan bilang siapa-siapa ya tante.. Aku dengar suka pada paman sendiri itu dilarang oleh Agama.. Karena itu sampai saat ini aku masih di saja, dan bersikap biasa saja. Kenapa juga aku jadi curhat sama tante..? " Veasha mulai terlihat sedih. Mungkin putus asa, atas apa yang terjadi pada hidupnya. Di usia yang baru menginjak tiga belas tahun, tapi dia sudah terbebani dengan masalah yang biasanya orang dewasa miliki.


" Hidup itu pilihan Ve,, semua bergantung pada apa yang kau pilih dan kau harus bisa bertanggung jawab dengan pilihan mu, meski berat sekali pun.. " Veasha termenung sebentar. Ucapan Marisha mengenai dihatinya, membuat keyakinan tumbuh di dalam hatinya.


" Kalau begitu aku ingin cepat menjadi dewasa agar pria tua itu tidak lagi bisa mengatakan aku terlalu kecil untuk menyatakan cinta padanya.. Benarkan tante... " Marisha tertawa melihat betapa polosnya dan lucunya anak sahabatnya ini. Syukurlah luka didalam hati anak ini tidak terlalu dalam, mungkin sosok yang tengah menatap ke arah dimana Marisha dan Veasha sedang tertawa, memiliki andol besar untuk itu.

__ADS_1


" Kau gila ya jatuh cinta pada keponakan mu sendiri.. Pedofil kau.. " ledek Claude kalau memergoki Nator menatap sambil tersenyum tipis ke arah Veasha.


" Ck.. Apa yang kau maksud? Aku tidak paham. " elak Nator.


" Keponakan mu saja bahkan dengan berani mengakui perasaannya pada mu, lalu kau? Cinta ya cinta saja, jangan kau tutupi.. Persetan dengan apa kata orang karena yang menjalani itu kau sendiri dan Veasha, bukan orang-orang.. " Claude menepuk pelan pundak Nator.


" Aku katakan satu rahasia penting pada mu.. Tapi jangan kau katakan pada siapapun termasuk Rouge. Pria itu ember sekali,, sialan.. " bisik Claude. Hal itu tentu saja langsung mendapatkan atensi penuh dari Nator.


" Aku bisa menikah dengan my baby karena aku memaksanya untuk menerima cinta ku.. Awalnya dia hanya seorang wanita yang baru saja kehilangan dunianya. Lalu aku langsung masuk dan memaksanya menikah dengan ku, lihat sekarang, kami bahagia karena aku menepati semua janji ku padanya. Pilihan ada pada mu, kau seorang pria, jika mencintainya maka perjuangkan meski kau hanya akan mendapatkan caci dan maki... " ujar Claude.


Nator termenung dan memikirkan ucapan dari Claude. Selama ini karena dia selalu menjadi orang pertama dalam setiap pelajaran hidup Veasha, selalu menjadi tempat bergantung keponakannya itu, hingga akhirnya bisa entah sejak kapan perasaan itu muncul. Namun sekuat tenaga Nator mengelak akan perasaan itu karena dia sadar dia sungguh tidak tahu diri jika sampai mencintai keponakannya sendiri.


Hingga akhirnya suatu hari, Veasha datang padanya dan mengungkapkan perasaannya. Hal itu langsung membuat Nator bahagia juga sedih dalam waktu bersamaan. Rasanya begitu menyakitkan ketika tahu cinta kita berbalas tapi tidak bisa kita perjuangkan. Nator putus asa, karena bukannya berkurang, tapi setiap harinya cintanya semakin bertambah.

__ADS_1


" Nator,, manusia itu egois.. Sangat egois, jadi sesekali menjadi egois itu tidak salah.. " Claude menepuk pelan punggung Nator kemudian pergi, meninggalkan Nator dengan ribuan pemikiran yang membuatnya pusing sendiri.


__ADS_2