DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
Bayangan masa lalu, di masa sekarang


__ADS_3

Rouge memperhatikan dari sang istri yang tengah berjalan cepat ke kamar mandi. Percakapan dengan tuan Lucard agaknya sedikit mengganggu sangat istri. Mungkinkah Marisha cemburu pada Geya, begitu pikir Rouge. Tapi bukan kecemburuan Marisha yang menyita pikiran Rouge, melainkan ucapan tuan Lucard di pertemuan bisnis terakhir yang Rouge dan Geya hadiri.


Rouge ingat betul bahwa dia datang ke acara itu bersama Geya karena Rouge lah yang mengajak Geya. Tapi saat di tengah-tengah pesta, ingatan Rouge seperti terhapus begitu saja karena dia tidak bisa mengingat apapun kejadian di pesta itu. Hanya paginya dia terbangun di kamar hotel bersama dengan Marisha dalam keadaan sama-sama polos. Rouge pun heran kenapa Marisha bisa berada di kamar hotel itu, tapi saat itu jawaban Marisha bisa Rouge percaya.


" Anda yang menghubungi saya... Bahkan anda memberikan access card kamar ini pada saya... "


Rouge tak kalah akal pun melihat ke ponsel miliknya. Dan benar saja terlihat dia menghubungi nomor Marisha dan mengirimkan pesan bahwa Marisha bisa mengambil access card di bagian resepsionis. Rouge pun merasa janggal, karena saat itu dia tidak begitu suka Marisha di sekitarnya walaupun saat itu Marisha sudah mengandung anaknya.


Tidak ada yang bisa Rouge lakukan saat itu karena memang benar bahwa semua ucapan Marisha terbukti. Kejadian itulah yang akhirnya membuat Rouge memutuskan untuk menikahi Marisha, karena saat Marisha tengah mengandung anaknya. Sesuai ucapannya waktu itu, bahwa jika Marisha hamil maka Rouge akan bertanggung jawab.


" Tuan Lucard.. Boleh saya bertanya sesuatu pada anda terkait dengan peristiwa terakhir kali itu? " tanya Rouge sopan.


" Tentu saja... Karena aku yakin kau tidak bisa mengingat. Karena saat itu ada saingan bisnis kota yang ternyata menyelinap masuk dan memberikan pada anda obat halusinogen,, " Rouge terbelalak mendengar ucapan dari kolega bisnisnya ini.


Pikiran Rouge jadi tidak tenang sekarang, karena jika benar tuan Lucard mengatakan bahwa yang mengantarkannya ke kamar adalah Geya, mungkinkah dia dan Geya sudah....


Rouge menggeleng menghilangkan pikiran yang tidak-tidak itu. Rasanya sangat tidak mungkin dia berbuat seperti bersama Geya karena dia tidak memiliki ingatan tentang itu sedikit pun. Lagipula pagi harinya yang Rouge lihat adalah Marisha, jelas pasti dia tidak berbuat lancang pada Geya... Tapi jika iya....


" Ada apa tuan Rouge? Kenapa anda terlihat sedikit panik? " tanya tuan Lucard.


" Tuan... Bisakah anda memberi saya akses izin melihat CCTV di hotel tersebut? Karena saya tahu itu adalah hotel milik anda... Saya ingin menyelidiki tentang masalah ini.. " pinta Rouge namun menutupi niat sesungguhnya

__ADS_1


" Tentu saja... Saya pernah melihatnya tapi tidak terlihat siapa pelakunya, tapi mungkin anda bisa menemukan sesuatu yang bisa mengobati rasa penasaran anda.. Tunggu sebentar, akan saya kirimkan... "


Sebuah pesan berisikan rekaman CCTV malam itu pun sudah masuk ke ponsel milik Rouge. Beruntung dalam pesan itu, di semua CCTV bisa Rouge akses dengan mudah karena tuan Lucard menyelidiki dengan melihat semua CCTV di hotel miliknya.


Kedatangan Marisha mengejutkan Rouge dan hampir saja ponsel milik Rouge terjatuh. Rouge segera menyimpan ponselnya karena tidak ingin Marisha mengetahui tentang rencananya. Rouge sendiri sudah berjanji bahwa tidak akan pernah membawa-bawa nama Geya lagi di dalam rumah tangga mereka.


" Kenapa? Apa kau tidak enak badan? " tanya Marisha yang melihat gelagat aneh dari Rouge.


" Tidak... Aku terkejut melihat mu datang karena tadi sedang berbincang sesuatu penting dengan tuan Lucard... Kalau begitu ayo kita nikmati pesta malam ini..!!! " Rouge mengajak Marisha untuk menikmati pesta agar tidak memperhatikan rasa panik yang dia rasakan saat ini.


Tubuh Rouge berada di pesta ini, namun tidak dengan pikirannya. Pikirannya melayang jauh menembus cakrawala dan terjatuh pada gadis pujaan hatinya. Gadis yang hingga detik ini masih merajai hati dan hidupnya. Meski sudah terganti oleh Marisha, namun sungguh bagi Rouge tidak ada yang bisa menyaingi Geya di dalam hidupnya..


"Kau dimana Ge,,, kenapa kau meninggalkan ku sendiri dengan setiap jalan yang gelap. menuju ke arah mu... " monolog Rouge dalam hati.


Di belahan dunia yang lain, tepatnya di Los Angeles, Geya seseorang yang tengah menjadi pikiran untuk Rouge justru tengah asyik bercengkrama dengan suaminya. Bagi Geya, di dalam hatinya dan hari-harinya saat ini hanya ada Claude..


Sudah bukan lagi masanya Geya untuk memikirkan Claude. Karena bagi Geya yang telah kalah bertaruh, semuanya sudah benar-benar berakhir. Ibarat gelas yang sudah pecah, tidak akan bisa kembali disatukan. Seperti itulah Rouge bagi seorang Geya sekarang dan selamanya.


Geya terus saja tertawa mendengar setiap ucapan dan cerita yang Claude ceritakan. Semua itu tentang masa-masa kecil Claude yang masih berada di panti asuhan. Geya yang sempat tertekan karena kecelakaan yang menimpa Claude, sedikit demi sedikit Claude hibur agar kondisi janin dalam kandungan Geya juga ikut membaik.


Rasa sakit yang ngilu dan panas di area kakinya yang patah sama sekali tidak Claude pedulikan. Dalam pikiran dan hatinya hanyalah ada Geya,, satu nama dalam hidupnya.. Cinta terakhirnya yang akan menua bersamanya nanti..

__ADS_1


" Kenapa Claude kecil begitu menggemaskan....? " Geya berkomentar..


" Begitulah... Semua orang juga mengatakan hal yang sama... " Claude berbangga diri.


" Heleh... " Claude pun kembali tergelak... Geya hanya mencebik melihat sang suami yang terus kepedean di depannya ini.


" Daddy stop it... Aku ikut ngilu melihat kaki daddy yang bergerak-gerak begitu.. Apa tidak sakit dad? " Geya meringis melihat kaki Claude yang di gips.


" Sakit baby... Tapi sakit ini bisa hilang saat melihatmu tersenyum. Karena itu jika ingin aku lekas sembuh kamu harus terus tersenyum. Jangan lagi memikirkan bayangan masa lalu mu yang tidak akan aku izinkan untuk menjadi masa depan mu... "


Deg...


Geya terkejut bukan main ketika ternyata suaminya ini tahu bahwa dirinya masih sering memikirkan sesuatu yang berada di masa lalunya. Bukan karena masih cinta, karena cinta itu telah habis tergerus saat melihat dengan matanya sendiri Rouge tengah bercinta dengan Marisha. Hanya saja Geya selalu merasa sedikit menyesal kenapa semuanya harus berakhir dengan saling menyakiti seperti ini.


Geya tersenyum menatap mata teduh milik Claude yang selalu mampu membuat hatinya berdesir menggambarkan semua rasanya yang indah. Mata coklat muda itu seperti menjadi sebuah tempat yang bisa membuat hati Geya tenang dan damai hanya dengan menatap nya saja.


" Maaf dad,, bukan aku terjebak dalam masa lalu. Tapi semuanya selesai tanpa ada penyelesaian dan perpisahan. Semuanya selesai dengan saling menyakiti seperti ini, aku hanya merasa sedikit menyesal. Andai saat itu aku berani mengakhiri di depan mereka, mungkin aku.... aku.... tidak.... "


" Semuanya akan kita selesaikan ketika hati mu sudah siap, baby... Tidak sekarang juga tidak masalah, karena pasti nanti akan ada saat yang tepat untuk itu. Hanya saja... Aku ingin kau hanya terfokus pada ku dan calon anak-anak kita. Masalah masa lalu mu, aku berjanji bahwa aku pasti akan ada di samping mu saat semuanya tiba... " Claude langsung memotong ucapan Geya.. Takut Geya menjadi tertekan dan sedih karena masalah ini.


Geya sendiri langsung memeluk tubuh suaminya,, tubuh pria yang menjadi tempatnya untuk pulang. Seorang pria yang telah menghadirkan dunia padanya ketika dunia Geya sendiri telah hancur. Seorang pria yang menjadi masa depannya, dan anak-anak mereka kelak.. Pelukan Geya tentunya di sambut dengah baik oleh Claude. Bahkan pria ini terus mengecupi puncak kepala Geya sayang, untuk menenangkan istri kecilnya ini..

__ADS_1


" Ekhem.... Ekhem... " mata Claude melotot melihat siapa yang tengah berdiri di pintu kamar rawat inap nya..


" Hai... Smith... "


__ADS_2