
Kembali ke beberapa puluh tahun yang lalu...
Rouge dan Marisha sudah duduk berdua di depan keluarga Rouge dan Dettus yang merupakan perwakilan dari keluarga Marisha. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan karena setelah sekian banyaknya masalah yang menghampiri mereka semua, kini mereka bisa mengambil hikmah atas itu semua. Hal ini juga Rouge dan Marisha rasakan, karena mereka yang paling banyak mengambil hikmah dari semua kejadian yang menimpa keduanya.
Hari ini kedua keluarga berencana membicarakan tentang masalah kelanjutan hubungan Rouge dan Marisha. Gugatan cerai yang diajukan Marisha memang belum dicabut, tapi karena kecelakaan yang menimpa Marisha, gugatan itu ditangguhkan untuk sementara waktu. Hal ini dimanfaatkan Rouge untuk memperjelas hubungannya dengan Marisha. Rouge kini menyadari pentingnya Marisha di hidupnya, karena itu Rouge ingin membuktikan pada Marisha.
" Sekarang kita dua keluarga berkumpul disini, untuk membahas tentang keputusan Rouge dan Marisha untuk pernikahan mereka. Tapi sebelumnya, bisakan kalian semua mendengarkan papa. Bukan hanya untuk Marisha dan Rouge, tapi juga Roseline, Romero dan tentunya nak Dettus. " papa Theo terlihat sangat serius kali ini.
" Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap sebagai sebuah permainan. Suka kita ambil dan ketika sudah bosan kita buang atau berikan pada orang lain.. Tidak bisa seperti itu.. Pernikahan itu suci dengan segala kelebihan dan kekurangan dalam pernikahan itu sendiri... " papa Theo menjeda sejenak.
" Dalam pernikahan selalu ada banyak sekali masalah yang ada. Namanya dua kepala dijadikan menjadi satu, pasti akan muncul perbedaan pendapat, perbedaan selera, perbedaan tingkah laku dan lain sebagainya.. Tapi dari yang berbeda itulah kita mendapatkan apa yang sangat berharga, yaitu pengertian.. Jadi disini papa mohon pada kalian semua, khususnya Rouge dan Marisha.. Pilihan kalian dalam menjalani sebuah pernikahan tidak boleh menganggap itu sebagai mainan. Dan,, jangan pernah menghancurkan pernikahan kalian hanya karena kalian berbeda.. " pesan dari papa Theo.
" Silahkan kalian berdua diskusikan dahulu, kami keluarga hanya akan menuruti keputusan kalian.. Dan, pikirkan kedua anak kalian juga.. " papa Theo memberikan waktu pada Rouge dan Marisha untuk membuat keputusan tentang pernikahan mereka.
Semuanya meninggalkan Rouge dan Marisha di ruangan itu. Keduanya saling pandang, tapi belum ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Entahlah, mungkin keduanya sama-sama tidak tahu harus memulai dari mana. Keduanya sama-sama tidak tahu, apa yang harus mereka ucapkan karena rasanya jika hanya berdua seperti ini sangat canggung sekali.
Kemarin-kemarin ketika membantu menyelesaikan masalah Pomel atau Yunamaria, baik Rouge maupun Marisha masih bersikap biasa bahkan keduanya berbincang dan berdiskusi dengan sangat baik tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Tapi kini, rasanya entah mengapa jika membicarakan kisah mereka, berdiskusi tentang mereka, rasanya memang sangat canggung. Apa seburuk ini hubungan mereka selama ini?
__ADS_1
" Sha... Apa jika aku menginginkan kita kembali bersama, kau akan keberatan? " tanya Rouge yang memberanikan diri bertanya dulu. Rouge merasa jika dia tidak mengambil tindakan dan tidak bersikap dominan maka dia akan kehilangan istri dan anaknya.
" Apa ada jaminan bahwa kau tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi Rouge? " Marisha belum menjawab, dia masih harus mencari tahu apa niatan Rouge, membicarakan dengan matang agar tidak terjadi lagi kejadian seperti sebelumnya.
" Aku tidak berani menjamin, takut kau akan terluka lagi dan aku akan kembali melakukan kesalahan.. Tapi, aku berani menyerahkan hidup ku pada mu.. Kau boleh melakukan apapun pada ku jika aku kembali mengulangi kesalahan yang sama.. Sha,, masalah ini membuka mata ku, selama empat tahun ini aku tidak ada artinya tanpa diri mu.. Maafkan aku telah membuat mu terluka di tempat yang aku ciptakan.. " Rouge langsung berlutut di depan Marisha. Dia ingin membuktikan kesungguhannya untuk bisa kembali bersama dengan Marisha.
" Oge.. Bangunlah!! Jangan bersikap seperti ini.. Aku tidak mau kamu begini Oge.. " Marisha membantu Rouge untuk berdiri. Dia tidak suka melihat pria yang arogan dan dominan ini tiba-tiba merendahkan diri di depannya.
" Nggak Sha,, sebelum kamu mau memaafkan aku.. Sebelum kamu menerima niat ku.. Jujur jika aku mengatakan ini demi anak-anak, aku yakin kau tidak akan percaya karena aku pun telah menyakiti anak-anak kita. Jadi sekarang aku berada di depan mu memohon untuk diri ku sendiri.. Maukah kau memaafkan aku dan memberiku kesempatan untuk berubah, menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian.. " Rouge memelas.
Marisha pernah melihat ekspresi Rouge yang seperti ini. Dimana dia terlihat putus asa, dan lemah. Marisha pernah melihat ini ketika Rouge kehilangan Geya, lalu apa sekarang Rouge sudah menganggap Marisha berharga sehingga bisa menampilkan wajah dengan keputusasaan yang begitu mendalam.
" Tapi... Tapi.. Selama ini,, selama kita bersama.. Aku telah jatuh hati pada mu,, perasaan itu entah muncul kapan aku tidak tahu.. Tapi aku,, aku... Mencintai mu Rouge.. " Rouge langsung menarik Marisha ke dalam pelukannya.
Rouge tahu jika Marisha awalnya hanya terobsesi dengan apa yang dimiliki Geya. Saat itulah Rouge sangat kecewa, dan ketika Geya kembali, dengan mudahnya Rouge berpaling. Padahal, andai saja awal hubungan mereka tidak seperti itu, Rouge pasti bisa jatuh hati pada Marisha. Tapi satu hal yang Rouge tidak ketahui, ketika dia mengetahui alasan Marisha bersamanya, saat itu juga seharusnya dia tahu tentang perasaan Marisha yang sudah jatuh cinta padanya.
Andai saja Rouge tahu dan Marisha juga tahu bahwa hati mereka sudah saling menyatu, semau malapetaka ini tidak akan terjadi. Tidak akan banyak hati yang kecewa terutama anak-anak. Jadi anggap saja ini kesalahan Rouge dan Marisha, kedua pihak bersalah dengan begitu keduanya akan sama-sama belajar dari kesalahan untuk membangun hubungan yang lebih baik.
__ADS_1
" Marisha... Kau boleh tidak percaya tapi aku mencintai mu.. Maukah kau kembali bersama ku, memulai semuanya dari awal, sama-sama berjuang demi pernikahan dan anak-anak, membangun sebuah keluarga yang sebenarnya untuk kita semua? "
" Kita sama-sama berjuang, agar kehidupan rumah tangga kita bisa seindah dan seharmonis yang lain.. Maukah kau memberi ku kesempatan untuk menjadi suami dan ayah yang baik? " Rouge bertanya.
Marisha langsung tersenyum dan mengangguk mencoba untuk sama-sama berubah sepertinya bukan ide yang buruk. Sama-sama salah dan sama-sama menyesal, kemudian sama-sama berjuang untuk menjadi lebih baik. Anggap saja ini adalah perjalanan cinta mereka, dimana ada luka, duka dan suka....
...*****************...
Hai... Hai... semuanya...
Maaf ya karena aku tiba-tiba aja mengubah status dari taman ke on going lagi..
Awalnya memang pengin tamat,, trus dibikin ekstra part gitu.. tapi begitu lihat support kalian kok jadi pengen nyambung lagi 😁😁😁😁😁
Nggak banyak kok,, kalau sudah ada yang bosen maaf ya.. tapi bisa kan menunggu sampai akhir ceritanya..
Semoga aja kalian semua tetap selalu senang menantikan perjalanan Geya dan Claude ya...
__ADS_1
Sayang kalian semua...