
Melihat orang yang dibenci menderita adalah pembalasan dendam terbaik yang bisa dilakukan oleh seseorang yang kehilangan segalanya. Tidak memiliki sesuatu yang dianggap berharga membuat seseorang terkadang nekat untuk melakukan pembalasan dendam. Salah satu contohnya adalah pria misterius yang selama beberapa waktu ini terus mengusik keluarga de Niels.
Melihat bahwa apa yang dia rencanakan telah berkembang mengarah pada suksesnya rencananya membuat pria misterius ini senang bukan main. Sebuah peristiwa yang tidak dia rencanakan telah membuat rencananya semakin sempurna kali ini. Kecelakaan anak Geya pasti akan membuat semua orang menyalahkan Rouge. Hal ini semakin menambah keretakan di kubu keluarga de Niels.
Betapa terkejutnya pria misterius ini ketika mendengar kabar yang baru saja Toby sampaikan. Sang asisten mengatakan tentang perbedaan golongan darah antara Rouge dengan twins. Bahkan Geya yang nota bene ibu kandung pun, memiliki golongan darah yang berbeda. Lebih mengejutkan lagi ketika darah dari Claude yang bukan siapa-siapa justru sama dengan anak-anak Geya.
" Hahahahahaha.... Sungguh campur tangan takdir sangat luar biasa damage nya... " seru pria misterius itu senang sekali.
" Toby... Lihatlah,, kita telah berhasil membuat perpecahan antara dua keluarga ini semakin besar... Sebentar lagi, sebentar lagi tujuan kita akan tercapai... " pria misterius itu senang bukan kepalang.
" Bagaimana keadaan di sana? " tanya pria misterius itu sedikit penasaran.
" Mereka tengah menunggu hasil operasi keluar tuan.. Dan sepertinya tuan Claude akan mengajak Rouge berbincang masalah tentang penculikan twins dan juga kecelakaan yang terjadi pada twins... " lapor Toby.
" Wah.... Pasti akan ada pertandingan yang menyenangkan untuk ditonton.. Kalau begitu mari kita ke rumah sakit untuk menyaksikan pertandingan itu... " ajak pria misterius itu.
...************...
Claude terus menghajar Rouge dengan tujuan memberi pria satu itu peringatan yang keras atas apa yang dilakukan dan disebabkan oleh Rouge. Kali ini beruntung twins selamat, jika saja takdir berkata lain, lalu apa yang akan terjadi pada twins dan bagaimana dengan semua keluarga. Mengingat itu Claude semakin marah.
Rouge sendiri tidak memiliki niatan untuk membalas pukulan Claude. Dirinya merasa bersalah dan masih shock dengan kenyataan yang diterimanya tadi. Rasanya seperti mimpi saja, selama lima hari ini bersama dengan twins. Tapi juga berasa sia-sia saja usahanya selama ini.
Rouge sebenarnya ingin mempertanyakan masalah ini pada Marisha. Tapi mengingat sifat dari sang istri jelas hanya akan semakin memperkeruh keadaan, bukannya malah membantunya. Karena alasan itulah Rouge lebih memilih menerima setiap pukulan dari Claude, menurutnya perbuatan Claude saat ini adalah suatu yang wajar saja.
__ADS_1
Plok... Plok..... Plok....
Terdengar suara orang yang bertepuk tangan di tempat yang sama dengan Claude dan Rouge. Karena hal ini Claude menghentikan tindakannya dan memilih menatap ke sumber suara. Cukup terkejut melihat seseorang yang ada di sana, apalagi orang ini adalah orang yang baru-baru ini dia kenal.
" Kau.... "
" Anda.... "
Claude dan Rouge berucap secara bersamaan ketika melihat kenalan mereka mendekat. Claude sedikit merasa ada yang aneh dengan kedatangan orang ini di rumah sakit. Tapi dia abaikan karena tidak penting, begitulah kira-kira pikir Claude.
" Apa ada masalah? Kenapa sampai kalian berkelahi seperti ini? " tanya seseorang yang baru saja datang itu. Atau lebih tepatnya baru muncul.
" Maaf tapi ini bukan urusan mu!! " ujar Claude.
" Apa yang membawa Anda ada disini tuan..... Lucas? " tanya Rouge. Dia mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah karena pukulan dari Claude.
" Sialan, pukulan pria tua ini sakit juga... " batin Rouge tidak nyaman.
" Maaf... Aku sedang menjenguk kolega ku.. Kemudian aku melihat kalian naik ke sini, jadi aku ikuti saja. Ternyata kalian malah adu jotos disini... " jawab tuan Lucas sedikit mencibir.
Merasa tidak ada lagi yang ingin Claude lakukan, pria itu pun pamit pergi untuk melihat kondisi kedua anaknya. Tinggallah tuan Lucas dan Rouge di rooftop rumah sakit. Keduanya masih diam, belum ada seorang pun yang bicara. Rouge merasa sedikit malu karena salah satu rekan bisnisnya melihat dirinya tengah dihajar oleh orang.
Tuan Lucas kemudian tersenyum menatap Rouge dan menanyakan kondisi dari suami Marisha itu. Tuan Lucas menawarkan untuk mengantar Rouge ke IGD, tapi langsung ditolak olehnya karena itu sangat memalukan. Rouge berucap akan mengobati sendiri luka nya di apartemennya nanti.
__ADS_1
" Apa ini karena menghilangnya kedua anak Claude dan Geya? " tanya tuan Lucas tiba-tiba.
" Hm... Bagaimana Anda tahu? " tanya Rouge cukup terkejut.
" Aku tidak sengaja mendengar ucapan kalian saat perkelahian tadi.. Hanya saja aku heran kenapa kalian memperebutkan si kembar? Apa ada sesuatu dengan si kembar? " tuan Lucas mulai mengorek sesuatu yang mungkin saja bisa membuatnya mendapatkan informasi penting lainnya.
Rouge yang pada dasarnya sudah mengenal tuan Lucas sejak dulu karena tuan Lucas adalah teman bisnis papa Matheo, pun langsung menceritakan permasalahan yang sebenarnya. Tentang malam panasnya dengan Geya, kepergian Geya, tiba-tiba Geya kembali dengan membawa si kembar dan suaminya dan juga ketika Rouge mencurigai bahwa twins Q adalah darah dagingnya.
" Apa Anda yakin dengan hal itu? Maksud ku tentang malam pesta waktu itu? " tuan Lucas kembali bertanya.
" Tidak... Karena aku tidak tahu apakah yang ada di dalam pikiran ku ini benar sebuah kejadian nyata atau hanya halusinasi ku saja. Tapi aku yakin twins adalah anak ku.. " jawab Rouge tidak sepenuhnya yakin.
Huft
Terdengar helaan nafas dari tuan Lucas, " Jika seperti itu jelas kamu yang salah. Setidaknya pastikan dulu benar atau tidak terjadi sesuatu malam itu. Baru setelah itu kamu bertindak. Melakukan seperti yang kamu lakukan saat ini sama saja dengan masuk ke kandang buaya. "
" Iya... Tapi semua jalan menuju ingatan itu buntu paman... Aku tidak bisa meraba ingatan itu berada dimana. Yang aku tahu ingatan itu tidak begitu jelas, seperti sebuah mimpi yang nyata... " ujar Rouge terlihat lelah.
Keduanya kembali terdiam. Berjuta kata diungkapkan pun jika Rouge tidak yakin itu adalah hal nyata juga akan percuma. Sungguh apa yang telah dikerjakan oleh seseorang itu sangat luar biasa sehingga bukan hanya barang bukti yang lenyap, tapi juga ingatan Rouge yang menghilang tidak berbekas.
Tuan Lucas tersenyum miring sejenak, merasa bahwa apa yang sedang terjadi ini sangat lucu. Seolah tanpa campur tangannya, takdir orang-orang ini sungguh membantunya. Takdir yang memunculkan permusuhan tanpa perlu harus dipancing terlebih dahulu.
" Aku akan membantu kamu mendapatkan bukti tentang malam itu... Tapi ini semua tidak gratis, kau harus juga membantu ku mendapatkan sesuatu. Kau bersedia? "
__ADS_1