
Kedatangan Galen sebenarnya amat sangat membantu Geya dalam menghadapi hari pernikahan Rouge. Terbukti karena adanya Galen, dirinya tidak begitu kepikiran dengan pernikahan Rouge dan Marisha, teman baiknya.
Kemarin Galen sudah kembali ke Milan, setelah satu hari satu malam menginap di rumah Geya. Galen terpaksa harus kembali mesti berat hatinya karena pekerjaannya di Milan tidak ada ditunda atau diwakilkan. Geya mencoba mengerti karena bagaimana pun Galen adalah pimpinan tertinggi JN Group, perusahaan milik keluarganya.
Hari ini Geya kembali masuk bekerja setelah kemarin mengambil cuti karena kedatangan Galen yang serba mendadak itu. Beruntung kepala panti bisa memberinya izin meski Geya meminta izinnya secara dadakan kemarin. Dan disinilah Geya sekarang, duduk melihat anak-anak mengerjakan tugas yang dia berikan.
" Miss Geya, bisa ke ruangan kepala panti sebentar? Beliau ingin membicarakan sesuatu dengan anda.. " ibu Nana datang ke kelas Geya.
" Baik bu, bisa saya titip anak-anak sebentar? " tanya Geya. Tidak enak jika meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan.
" Tentu saja... Anda bisa menemui ibu kepala sekarang.. "
Geya langsung menuju ke kantor kepala panti. Meski tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh kepala panti, Geya tetap berusaha berpikiran positif tentang hal itu. Dia tidak ingin menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh kepala panti.
Tok... tok...
" Masuk... " sahut ibu Ela dari dalam ruangannya saat Geya mengetuk pintu kantornya.
" Anda ingin bicara dengan saya bu? " tanya Geya.
" Iya... Masuk lah Ge dan duduk di sini!! " ibu Ela meminta Geya untuk duduk di hadapannya yang sekarang ini sudah pindah duduk di sofa yang ada di ruangan kantornya.
" Ada masalah apa bu? Apa karena saya mengambil cuti mendadak kemarin? " tanya Geya merasa tidak enak.
" Bukan karena itu. Saya bisa menerima alasan kamu saat mengatakan saudara mi datang mendadak. Yang ingin saya bicarakan adalah ini... " ibu Ela memberikan sebuah undangan untuk Geya.
" Undangan apa ini bu? " tanya Geya heran.
__ADS_1
" Ini adalah undangan untuk kamu menjadi bagian dari pesta ulang tahun perusahaan pemilik panti Ge. Saat ultah oma Cecil beliau melihat mu bermain piano, dan langsung menyukai permainan piano mu. Jadilah undangan ini ditujukan untuk mu. Kau mau kan memenuhi undangan itu? " ujar ibu Ela menjelaskan.
" Tapi.... saya bukanlah pianis terkenal bu. Saya hanya sekedar senang bermain piano. Saya merasa tidak pantas menerima undangan ini.. " Geya menolak karena takut membuat malu pemilik pesta.
" Beliau memaksa Ge, ingin kamu yang mengisi acara itu dengan permainan piano mu.. Saya juga akan ada disana, jadi kamu akan ada teman disana. Bagaimana? " ibu Ela mencoba merayu Geya.
" Ehmmm.... " Geya masih berpikir saat tiba-tiba ibu Ela mengucapkan sesuatu yang sukses membuat dirinya menyetujui undangan itu.
" Anggap saja kamu perwakilan panti, Ge. Biasanya setiap tahun perusahaan pemilik panti ini merayakan ulang tahunnya. Yayasan pasti mengirim satu perwakilan ke sana, anggap saja kamu adalah perwakilan kami. Mau ya Ge? " pinta ibu Ela memelas.
" Huft.... Baiklah bu, saya akan memenuhi undangan ini.. "
" Terima kasih ya Ge... " ibu Ela terlihat senang. Misinya telah sukses dia laksanakan.
Geya puji berpamitan untuk kembali ke kelas musiknya karena jam mengajarnya masih belum usai. Sambil memikirkan penampilannya dalam pesta nanti, Geya berjalan kembali ke kelas. Tanpa Geya tahu sepasang mata hitam yang tajam bagai elang tengah memperhatikannya dari kejauhan.
" Apalah yang nantinya akan aku mainkan saat di pesta? Aku kan bukan pianis terkenal dan berbakat.. " gerutu Geya.
" Kau itu kenapa Ge, sejak pulang dari yayasan kau terus melamun? " tanya Thalita yang ikut bergabung duduk di teras bersama Geya.
" Aku mendapatkan undangan di pesta ini. Tapi aku tidak tahu akan menampilkan apa? " Geya menyerahkan undangan yang sejak tadi dia pegang pada Thalita.
Thalita terlihat memperhatikan undangan itu, alisnya menukik tajam kala melihat nama perusahaan yang mengundang Geya.
" Harley Ekspedition? " beo Thalita.
" Itu adalah perusahan pemilik panti.. " Geya menjelaskan.
__ADS_1
" Bukankah itu adalah perusahaan ekspedisi terbesar di Amerika. Dan pemiliknya ada pemilik panti, bukankah itu terdengar luar biasa Ge... " seru Thalita karena kagum.
" Karena itulah yang membuat aku bingung harus menampilkan apa di pesta nanti. Itu adalah pesta yang pastinya besar dan banyak mengundang orang ternama. Aku tidak bisa membuat malu yayasan dan pemilik panti kan... " ujar Geya lemah.
" Ge, ingat saat pesta pelantikan mu dan saudara mu di pesta ulang tahun pernikahan tuan dan nyonya besar? Mainkan saja lagu itu Ge... " usul Thalita ketika mengingat penampilan Geya di pesta keluarga de Niels sekitar setahun yang lalu.
" Kau benar,, kenapa aku bisa lupa ya.... Terima kasih kak atas idenya.... " Geya langsung memeluk Thalita saat itu juga.
...***********...
Los Angeles, Harley Ekspedition,
Malam ini banyak orang-orang dari kalangan atas yang datang ke Harley Ekspedition sebagai tamu undangan pesta perayaan ulang tahunnya yang ke 10. Dalam sepuluh tahun terakhir, Harley Ekspedition berkembang dengan sangat pesat hingga menjadi salah satu perusahaan terbaik yang bergerak di bidang ekspedisi di Amerika.
Geya merupakan salah satu dari sekian banyaknya tamu undangan yang hadir di malam ceria ini. Geya merasa benar-benar gugup saat ini saat melihat lautan manusia berada di aula tempat pesta berlangsung. Geya tidak menyangka sebanyak ini tamu undangan yang hadir, hingga membuatnya gugup setengah mati takut membuat kesalahan.
" Tenang Ge, kau pasti bisa... " ibu Ela yang ikut hadir sebagai tamu undangan, memberi semangat pada Geya.
" Kenapa banyak sekali yang diundang, bu... Aku gugup sekali jadinya... " protes Geya yang hanya mampu dia ungkapkan pada ibu Ela.
" Kamu pasti bisa Ge... Anggap aja kamu tampil di depan anak-anak dan para orang tua di yayasan.. " meski sudah diyakinkan oleh ibu Ela, namun Geya masih saja belum bisa menguasai dirinya agar berhenti gugup.
Acara pesta pun dimulai, seorang pria yang didapuk sebagai MC terlihat mulai membuka acara pesta ini. Satu per satu petinggi perusahaan dipanggil ke depan untuk melakukan pidato, hingga pada petinggi terakhir yang adalah seorang pria yang wajahnya tidak asing bagi Geya.
" Terima kasih atas kehadiran tamu undangan semuanya, Saya Claude Smith Harley selalu CEO dan pemilik Harley Ekspedition dengan ini pesta dimulai... "
" Pria itu... " Geya menelan ludahnya kasar saat tahu siapa yang sedang berdiri di podium memberikan sambutan itu.
__ADS_1
Geya sungguh tidak percaya, bahwa beberapa hari yang lalu dia baru saja berkenalan dengan pria itu. Kini pria itu kembali muncul di hadapan Geya dengan identitas yang lain. Geya merasa dirinya telah ditipu oleh pria yang ada di podium itu