
Keluarga de Niels adalah keluarga yang memiliki bisnis diberbagai bidang. Semua itu sudah menjadi keputusan kepala keluarga, Joaquin de Niels, ketika anak-anaknya lahir dua puluh sembilan tahun yang lalu. Joaquin sengaja melakukan itu semua agar nantinya kelima anaknya memiliki masing-masing satu perusahaan dimana yang tertua menjadi pemimpin di pusatnya.
Setelah dulunya, keluarga de Niels tinggal di mansion besar yang ada di tengah hutan, kini mereka sudah memiliki mansion yang mewah, di daerah kota Milan. Di kawasan itu, tidak hanya anggota keluarga utama saja yang tinggal. Masih ada anggota keluarga dari Gilbert de Niels dan juga Matheo de Niels. Sedangkan Daniel de Niels dan keluarganya tinggal di Roma untuk mengurus bisnis yang ada di sana.
Ketika kaki Geya melangkah masuk ke mansion mewah milik keluarga utama, air matanya langsung luruh begitu saja. Kerinduan pada tempat dimana dia dibesarkan. Tempat dimana sebagian dirinya tinggal di tempat itu, sebagian dirinya yang tertinggal.
" Kenapa nangis? Hm... ? " Claude langsung merengkuh Geya ke dalam pelukannya.
" Aku rindu mansion ini dad... Sebagian hidup ku, dilewati di dalam mansion ini, rasanya seperti bertemu dengan diriku yang dulu.. "
" Baby.... Jangan menangis ya,, karena mulai sekarang mansion ini kana diisi juga dengan kenangan kita berdua dan anak-anak nantinya. " Claude menghibur istri kecilnya ini dengan mengusap punggung yang bergetar itu.
" Hm... Daddy benar... " Geya mengangguk senang saat suaminya berkata seperti itu.
" Sekarang ayo kita masuk dan istirahat... Aku sudah tua baby,,, aku sangat mudah sekali lelah... " terdengar seperti candaan, namun nyatanya memang begitu. Claude tidak sebugar empat tahun lalu saat bertemu Geya. Hal itu membuat dirinya sedikit minder ketika bertemu para pria muda.
" Tua ya dad.... Tapi meski tua, paling pinter kalau disuruh bikin baby lho... " Claude tergelak... Lucu sekali istri kecilnya saat bicara seperti itu.
Di sore harinya, saat Geya terbangun, dia melihat sang suami masih tidur dengan pulas. Geya pun tidak tega membangunkannya, memilih untuk segera membersihkan diri dan melihat kedua buah hatinya. Ketika Geya bertemu dengan twins Q, mereka tengah asyik bermain dengan Ghadi dan Gafar. Geya pun akhirnya ikut bergabung, sambil menunggu suaminya terbangun.
Quon yang terbiasa diam sampai terpingkal karena mendengar kepolosan Ghadi. Hal itu membuat pria yang lahir hanya beda dua menit dari Geya itu cemberut dan merajuk. Quon yang pendiam saja menertawakan Ghadi, apalagi si aktif Quella, bahkan gadis kecil itu sudah berguling-guling di lantai.
__ADS_1
" Kalian seneng ya, melihat hiburan dari makhluk langka... " Gafar mencium gemas pipi gembul Quella.
" Uncle four,, sangat lucu sekali... " terang Quella.
" Uncle four? " beo Geya keheranan dengan panggilan yang Quella sebut.
" Hm... Dia bilang Galen itu, uncle first, aku uncle two, Gaffi uncle three dan Ghadi uncle four... " Gafar menjelaskan.
" Kenapa begitu? Panggil dengan namanya dong princess,, bukan dengan angka... " protes Geya menatap sedikit tegas putri kecilnya.
" Aku nggak bisa bedain mom,, mana yang namanya uncle Galen dan mana yang uncle Gaffi. Begitu juga dengan mereka berdua, karena wajah mereka begitu mirip... " Geya tergelak mendengar jawaban sang putri kecilnya. Ada-ada saja tingkah nya yang selalu membuat semua orang disekitarnya tertawa.
Geya tahu sejak tadi di rumah sakit bahwa penyakit yang diderita daddy Joaquin bukan hanya penyakit jantung saja. Pasti ada penyakit lainnya meski Geya belum tahu apa saja itu. Tapi melihat sekarang mereka ada di mansion utama, Geya memberanikan diri untuk bertanya pada kedua kakak kembarnya ini, tentang kondisi daddy nya.
Hal mengejutkan Geya dengar ketika ternyata penyakit daddy itu adalah imbas dari apa yang dulu pernah daddy alami. Ya, semua anak daddy Joaquin tahu cerita masa muda kedua orang tua mereka, termasuk daddy Joaquin yang merupakan korban penganiayaan hingga lumpuh.
Karena waktu itu daddy Joaquin terus mengonsumsi obat dengan berbagai dosis untuk bisa bertahan hidup maupun untuk berjuang melawan musuh, membuat kini tubuhnya menjadi rentan. Hal itu dipicu dengan masalah yang akhir-akhir ini terjadi di keluarga mereka. Salah satunya fakta yang baru saja daddy Joaquin ketahui.
" Malangnya daddy... Maaf ya... maaf.. hiks... hiks... seharusnya aku tidak pergi dari sini... " menyesal, hanya itu yang bisa Geya lakukan. Kalau saja, kalau saja saat itu dia kuat menjalani hari-harinya di sini, maka daddy Joaquin tidak akan jatuh sakit.
" Kenapa kau minta maaf? Semua bukan salah mi saja, kita berlima disini yang bersalah. Karena tidak. bisa menjaga daddy dengan baik... " ucap Ghadi.
__ADS_1
Ketiganya sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan tidak terlalu memperhatikan sekitarnya. Padahal saat ini, Rouge sudah berada tidak jauh dari mereka dan memperhatikan mereka. Satu hal yang menganggu Rouge adalah kehadiran anak kembar Geya yang membuatnya merasakan keakraban yang tidak bisa dia jelaskan penyebabnya.
Rouge merasa seperti melihat dirinya dalam diri kedua anak Geya itu. Hingga muncullah pemikiran gila bahwa si kembar adalah putranya. Saat malam dia dijebak itu, dia benar-benar melakukan dengan Geya, bukan lagi Marisha. Dan ya,, Tiba-tiba saja Rouge meyakini hal itu.
" Gege... Aku ingin bicara.. " Rouge sudah menarik tangan Geya untuk berdiri, tanpa melihat kondisi Geya, pria itu menarik Geya begitu saja.
" Oge lepas!!! Lepas Rouge jangan kasar.... " Geya sedikit memberontak karena memang pergelangan tangannya sakit saat ini.
" Rouge lepaskan Geya... " Gafar langsung menghadang Rouge. Terjadi perdebatan sengit di antara keduanya namun akhirnya Gafar mengizinkan Rouge berbicara dengan Geya, namun hanya boleh bicara di ruang itu. Jika tidak Gafar tidak akan memberikan izin Rouge membawa Geya. Hal ini terpaksa Rouge setujui, karena dia memang sangat ingin berbincang dengan Geya.
" Mereka berdua anak ku kan? Mereka berdua adalah anak ku dimana ketika malam pesta terakhir kita dengan klien, aku memperkosa mu... " tanya Rouge dengan sangat lugas, membuat Geya terkejut sebentar.
" Mereka anak ku, Oge.. Bukan anak mu.. " Geya menggeleng mantap, seperti sudah berlatih menghadapi situasi seperti ini.
" Kelahiran mereka dan juga kemiripan mereka dengan ku... Itu sudah membuktikan bahwa keduanya adalah anak ku... Aku akan bertanggung jawab Ge,, karena mereka adalah anak ku aku akan bertanggung jawab... " pinta Rouge memelas.
" Heh... " Geya tersenyum sinis, " Tanggung jawab seperti apa yang kau akan tawarkan pada ku? Menceraikan Marisha kemudian menikahi ku? Aki sudah punya suami dan aku bahagia bersama suami ku. Aku tidak butuh pertanggung jawaban dari mu, karena mereka berdua adalah anak ku... " Geya berujar dengan nada mengejek.
" Ke mana diri mu yang dengan tegas mengatakan bahwa aku adalah sepupu mu, hanya sepupu mu. Lalu kenapa sekarang kau terkesan seperti pria lemah karena keadaan. Aku pergi karena tidak ada sedikit pun urusan dengan mu dan istri mu, aku pergi karena urusan kita selesai di hari itu. Dan aku pergi untuk bersama dengan pria yang bisa menerima ku... "
Geya langsung pergi dari sana, namun ketika berbalik dia terkejut dengan sosok yang berdiri di tangga. Geya berusaha tersenyum melihat sosok itu, meskipun nyatanya air matanya tetap jatuh. Semudah itu Rouge mengatakan akan bertanggung jawab, setelah semua penderitaan yang Geya alami..
__ADS_1