
Milan, Italia..
Pesawat dengan logo JN FAM, sudah terparkir rapi di landasan pesawat di bandara kota Milan. Beberapa menit lagi, pesawat ini akan lepas landas membawa beberapa anggota keluarga de Niels untuk pergi ke sebuah negara, benua yang berada di tempat yang sangat jauh dari Eropa.
Jarak kedua kota ini sangatlah jauh, 16.556 km dan jika menggunakan pesawat dengan kecepatan sedang, mereka membutuhkan waktu 23 jak 39 menit. Hampir satu hari, jika dengan kecepatan sedang. Beruntung kepergian kali ini, keluarga de Niels akan menggunakan jet pribadi mereka, jadi jarak waktu tempuh mereka akan menjadi 18 jam 23 menit.
Setelah mengalami perdebatan yang cukup sengit antara dua wanita dan beberapa pria ini, akhirnya keputusan diambil jika Marisha akan ikut, sedangkan Geya akan tinggal karena dokter mengatakan Geya tidak bisa melakukan penerbangan dikarenakan kandungnya yang masih rentan. Membuat istri Claude ini terus saja menekuk wajahnya sejak keputusan itu diambil hingga hari keberangkatan.
Yang akan berangkat selain pasangan Marisha dan Rouge, ada Claude dan juga Ghadi yang menjadi wakil dari keluarga utama de Niels. Lagipula, bocah tua satu itu sudah sangat familiar dengan lingkungan kota Sydney lantaran lima tahun hidup di luar sebagai orang tanpa identitas keluarga. Ghadi tinggal di Sydney selama satu tahun, dan disini dia memiliki beberapa restoran dan apartemen. Jadi untuk mengirit ongkos pengeluaran, jadilah mereka memilih untuk mengajak Ghadi dan menginap di apartemen milik pria itu.
" Sudahlah Ge, hentikan ekspresi wajah mu yang seperti pantat ayam begitu.. " tegur Ghadi yang kini berdiri di samping Geya.
" Aku ingin ikut, Di... " rengek Geya.
" Ck... Ingat kondisi tubuh mu itu,, lalu siapa yang akan menjaga baby Alrescha? Kau akan mengajaknya? Tentu saja tidak boleh.. " ujar Ghadi cepat sebelum Geya mengeluarkan ucapannya.
Geya mencebikan bibirnya semakin maju, sudah mood nya jelek beberapa hari ini karena suaminya sibuk ke sana dan kemari, sekarang dia harus ditinggal suaminya ke luar negeri untuk jangka waktu yang tidak diketahui. Paling cepat, sekitar dua minggu mereka baru akan kembali ke Milan. Bayangkan saja, dua minggu tanpa suami, terasa saja Geya itu mirip jablay..
" Tenang saja Ge,, aku janji akan mengawasi suami ku itu.. Dan akan menendang bokong wanita yang berani tebar pesona dengannya.. " Marisha berucap sambil menggoda Geya.
" Ck... Kalian semua menyebalkan... " seru Geya begitu keras sampai Claude yang berada di jarak. beberapa meter dari sang istri terkejut mendengar seruannya. Belum lagi kini Geya menghentakkan kakinya dan pergi dari sana.
__ADS_1
" Oh God... Ada apa lagi ini? " Claude menepuk pelan dahinya. Semalam dia sudah merayu sang istri hingga luluh, dan kini istrinya balik merajuk lagi. Claude tidak pernah menyangka, jika Geya akan berkali-kali lipat lebih sensitif di kehamilan ini dibandingkan dua anak sebelumnya.
" Baby.... Baby wait.... Baby wait... " Claude berlari kecil mengejar sang istri.
Geya yang kesal dengan semua orang yang ada disana, berjalan begitu saja tanpa ada yang ingin dia dengarkan. Geya berjalan dengan sangat cepat, dan tidak melihat ke depan, hingga...
BRUKKK
" Aaaooww.. " terdengar pekikan seseorang setelah suara benturan dengan orang itu.
" Sshhss.... " Geya pun merasa kesakitan meski tidak sampai terjatuh ke lantai.
" Oh maafkan aku tuan... Sungguh maafkan kelalaian ku... " ujar Geya berusaha membantu pria yang ditabrak nya tadi.
" Saya tidak apa... Anda baik-baik saja kan.... And..... " ucapan pria itu terhenti ketika dia melihat Geya berdiri di depannya.
" Ya Tuhan... Inilah malaikat yang turun ke bumi.. Cantik sekali.... " batin pria itu kegirangan.
Ketika merasa akan ada kesempatan untuk bisa memiliki seseorang yang akan menemaninya di masa tua ini, seseorang datang dari arah belakang memanggilnya Geya. Langsung saja pria ini lemas karena ternyata cinta pertamanya ini, sudah kandas sebelum mekar.
" Ternyata sudah punya suami... Eh,, rasanya aku pernah melihat pria ini, dimana ya? " monolog pria yang ditabrak Geya itu dalam hati.
__ADS_1
" Baby,, are you okay... Jangan berlari seperti itu, jika kau jatuh bagaimana dengan kandungan mu.. " omel Claude yang memutar mutar badan Geya untuk melihat apakah ada yang luka atau tidak.
" Aduh..... Malah sudah hamil,, semakin kandas cinta ku... " batin pria itu ngenes karena keberadaannya sudah tidak diindahkan dua anak manusia di depannya ini.
" Maaf tuan.. Apakah anda terluka, maafkan kecerobohan saya.. " alis pria itu terangkat ketika mendengar ucapan pria di depannya ini.
" Istrinya yang salah kenapa dia mengaku ini kecerobohannya.. Bucin akut nih pastinya,, " batin pria itu, " Oh tidak apa tuan., saya baik-baik saja.. Tolong lain kali lebih di hati-hati saja.. " pria itu tersenyum menatap Claude dan Geya bergantian..
" Kak Claude.... Ayo,, pesawat sebentar lagi akan berangkat!!!! " seru Ghadi dari tempat keluarga de Niels menunggu pesawat nya akan lepas landas.
" Oke.... " sahut Claude, " Maaf tuan, sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini.. Dan saya serta istri saya permisi dulu.. " pamit Claude membungkuk sopan di depan pria yang ditabrak Geya itu. Seorang pria yang tampan dengan usia matang, mata yang sipit dan kulit yang putih bersih. Sepertinya berasal dari Asia Timur, melihat dari matanya yang sipit.
" Silahkan... Semoga perjalanan anda menyenangkan.. " pria itu ikut menunduk membalas Claude.
Melihat Claude dan Geya sudah berjalan jauh, apalagi melihat Geya yang terus mengomel dan Claude yang hanya tersenyum dan mengangguk, seperti sedang menenangkan sang istri, membuat pria ini begitu tertarik pada dua sosok itu.
" Tuan.. Anda tidak apa? " tanya asisten pria yang bermata sipit itu.
" Yah... Aku baik, tapi tidak dengan hati ku.. " ujar pria bermata sipit masih terus menatap Claude dan Geya.
" Pria itu adalah Claude Smith Harley,, anda pasti tahu nama itukan, tuan.. " pria bermata sipit itu langsung menatap asistennya dengan raut wajah terkejut.
__ADS_1
" Heh.... Mungkinkah ini jalan ku mendapatkan cinta pertama ku? Tapi bagaimana bisa aku memisahkan mereka yang terlihat saling mencintai itu... Tapi kira-kira, apa yang bisa aku minta darinya ya,, sebagai ganti pertolongan ku dan aku tetap bisa memiliki sebagian dari cinta pertama ku... " pria bermata sipit itu tersenyum menatap Claude dan Geya.