
Siapa tidak terharu ketika melihat anak kecil yang begitu bahagia bertemu dengan orang tuanya, jelas tidak ada. Itulah yang sekiranya Geya dan Claude rasakan saat ini. Melihat bagaimana Rouge memeluk tubuh putri kecilnya, membuat Claude tiba-tiba merindukan kedua buah hatinya yang sedang berkeliling dunia bersama dengan kedua orang tua Geya.
Sejak mendengar tentang berita yang Marisha ungkap ke media dan daddy Joaquin kembali terkena serangan jantung, semua anak daddy Joaquin memaksanya untuk mengambil liburan keliling dunia bersama dengan ketiga cucu mereka. Salah satu tujuan mereka adalah ke tempat Gaffi dan Kate berada. Setidaknya jika di sana, maka semuanya tidak akan merasa tertekan dengan berita yang ada. Daddy Joaquin dan mommy Noura bisa merilekskan pikiran mereka di tempat lain yang lebih indah dan tenang dari di mansion utama.
Kembali ke kamar rawat Marellyn dan Jade. Suasana haru antara Rouge dan Marlleyb harus diinterupsi oleh tangisan Jade. Sepertinya bayi kecil itu sedang kehausan dan lapar karenanya dia menangis. Geya yang terbiasa merawat bayi pun turun tangan menggendong Jade dan Claude yang selama ini membantu Geya dalam merawat ketiga buah hati mereka, ikut membantu dengan membuatkan susu untuk Jade.
Apa yang dilakukan sepasang suami istri itu menjadi perhatian Rouge yang berada di ranjang tepat di samping box Jade. Bisa Rouge lihat betapa Claude yang seorang pria itu begitu terlatih membuat susu untuk anak kecil. Berbeda jauh dengan dirinya yang bahkan membantu menenangkan anaknya yang menangis pun sudah tidak pernah lagi sejak Marellyn besar.
Rouge disadarkan oleh kenyataan yang dia lihat saat ini, kenyataan yang membuat Geya tidak bisa meninggalkan pria tua itu dan memilih bersama dengannya. Ternyata Geya lebih nyaman berada disisi pria itu ketimbang dirinya, Geya juga merasa begitu dicintai oleh pria itu sehingga terlampau sulit bagi Geya untuk melepas pria itu dari hidupnya. Kata-kata yang pernah Geya ucapkan terngiang di kepalanya.
" Aku tidak bisa dan tidak mungkin meninggalkan nya. Dia adalah pria yang menyerahkan seluruh dunia nya pada ku ketika aku bahkan kehilangan semua dunia ku.. Lalu jika sekarang aku meninggalkan nya maka dia akan mati, karena seluruh dunia nya ada pada ku.... "
Awalnya Rouge kesal setengah mati mendengar kalimat itu meluncur dengan santainya dari mulut Geya. Tapi kini dia benar-benar paham maksud dari Geya berucap seperti itu. Pria di depannya ini telah memberikan hidupnya untuk Geya, terbukti dengan sebesar apa pengorbanan dan terlihat dari cari pria ini melindungi Geya.
" Heh... Aku sudah kalah sejak awal ternyata... " batin Rouge tertawa miris.
" Daddy kenapa? Apa daddy sakit? Mommy dimana dad? Mare lihat tadi ada mobil yang nabrak mommy sama Jade.. Gimana mommy daddy? " Rouge langsung beralih menatap Marellyn, putri kecilnya. Lidah Rouge terasa kelu ketika harus menyampaikan kondisi mommy dari putri kecilnya ini. Kondisi Marisha terlalu menyedihkan untuk diceritakan pada Marellyn yang masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan.
" Mommy... mommy... " ujar Rouge bingung.
__ADS_1
" Mommy masih istirahat little princess. Doa kan mommy ya, semoga mommy lekas bangun... Mommy sedang lelah saat ini, jadi mommy memilih tidur.. " Dettus mendekat mengusap kepala keponakan kecilnya ini.
" Benarkah? Kalau begitu Mare tidak akan ganggu mommy istirahat. Boleh Mare bermain dengan daddy saja uncle? " Marellyn menatap Dettus menggunakan jurus puppy eyes miliknya, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan meleleh dibuatnya.
" Of course... Kita akan main bersama little princess.. " Rouge memanggil Marellyn dengan panggilan khusus yang Rouge sematkan untuk putri kecilnya.
" Yeayyy... Mare senang sekali.. Akhirnya Mare bb isa bermain dengan daddy... " seru bocah kecil itu gembira sekali.
Bukan hanya Rouge, tapi semua orang dewasa di ruangan rawat itu kompak menghapus air mata mereka. Sebegitu bahagianya Marellyn ketika daddy nya yang beberapa hari ini cuek kepadanya, kini telah kembali menunjukkan perhatiannya. Semuanya menyayangkan rentetan peristiwa yang menghancurkan hati kedua buah hati Marisha. Meski menyakitkan, ada juga hikmah yang bisa dipetik dari musibah yang menimpa Marisha saat ini.
" Kau tidak perlu khawatir Rouge.. Aku akan bantu carikan donor ginjal untuk Marisha.. " Claude menepuk pundak Claude.
" Hahahahaha... Tentu saja tidak, aku anggap kau itu adik ku yang sedang tersesat dan kini tahu jalan pulang. Kenapa harus membenci? " tawa Claude memenuhi ruangan itu, " Dan lagi, selamanya aku tidak akan membenci mu karena dirimu lah aku bisa memiliki malaikat dalam hidup ku, Geya dan anak-anak ku.. " monolog dalam hati.
" Ck.. Aku tidak sudi menjadi adik mu.. Aku lebih tua satu atau dua bulan dari Geya. Jadi aku ini kakak ipar mu.. " protes Rouge yang sebenarnya malu karena dianggap adik yang tersesat oleh pria tua di depan nya ini.
" Cih.. Papa mu itu yang paling bungsu, jelas aku ini kakak ipar mu.. " Claude mendebat tidak Terima dikatakan adik ipar.
" Terserah yang jelas aku bukan adik mu... " Rouge kekeh tidak mau mengalah.
__ADS_1
Perdebatan para pria tidak sadar usia itu pun terus berlanjut,, Marellyn dibuat bingung dengan sesekali melihat Rouge, kemudian berganti melihat Claude. Selalu seperti itu sekian menit hingga suara dokter menghentikan perdebatan para pria itu. Awal yang baik untuk sebuah hubungan yang baik. Lebih baik berdebat karena masalah sepele daripada saling membenci karena hal sepele. Itulah yang ingin Claude coba tanamkan dalam hubungannya dengan Rouge dan siapa saja yang awalnya memusuhinya.
Kedatangan dokter adalah untuk melihat bagaimana kondisi Marellyn yang sempat pingsan karena shock. Kemudian juga melihat kondisi Jade, apakah ada gejala susulan atau tidak.
" Si cantik sudah bisa senyum nih sekarang. Berarti sudah tidak ada masalah ya daddy. Untuk beberapa hari ke depan jangan ditinggalkan sendiri ya, karena pasti ada sedikit trauma di dalam diri putri anda ini tuan.. " ujar dokter anak itu setelah memeriksa Marellyn.
" Apakah susunya dimuntahkan nyonya? " tanya dokter itu ketika melihat ke arah Jade yang sedang menyusu.
" Ini botol kedua dan belum sama sekali ada tanda penolakan dok.. Ini tadi Jade sempat menangis tapi begitu saya beri susu langsung diam.. Sepertinya dia paham betul bahwa sekarang mommy nya sedang tidak bisa merawat jadi dia tidak rewel sejak tadi.. " ungkap Geya.
" Bagus.. Tolong perhatikan makan dan minumnya ya nyonya. Kita pantau sampai besok, semoga saja kekhawatiran saya tidak terbukti.. " dokter itu memeriksa sebentar suhu dan detak jantung Jade. Dirasa normal, dokter itupun pamit meninggalkan ruangan rawat itu.
" Aku iri pada mu Sha.. Karena kamu adalah mommy terhebat yang aku kenal.. Cepat sembuh dan rawat kembali buah hati mu, jika tidak aku akan mengambil Jade bersama ku kembali ke LA.. " gurau Geya sambil menatap wajah Jade yang mirip Marisha versi cowoknya.
" Kalian akan kembali? " tanya Rouge segera setelah mendengar Geya berucap.
" Hm... Tidak baik terlalu lama meninggalkan perusahaan daddy.. Kapan-kapan mainlah dan ajak keluarga kecil mu berkunjung ke mansion mewah milik suami ku... " Geya sengaja pamer di depan Rouge.
" Ck.. Mewah apanya.. " Rouge melengos mendengar kata mewah dari mulut Geya.
__ADS_1
Claude dan Geya tentu tertawa, karena dirasa Rouge sungguh tidak percaya ucapan Geya. Padahal kalau Rouge melihat, dia tidak akan berani berucap seperti kata barusan.