
Lorong rumah sakit terbesar di Los Angeles tanpa dipenuhi orang banyaknya orang yang berlalu lalang, mulai dari pasien, keluarga pasien, dan juga beberapa tenaga medis di sana. Semua orang di lorong itu menatap sedikit heran seorang wanita yang tengah hamil nampak berlari di Koridor rumah sakit. Hal yang tidak boleh dilakukan, tapi melihat bagaimana wajah panik wanita yang sedang berlari itu, tidak ada satupun yang berani menghentikannya.
Geya, berusaha sekuat tenaga untuk bisa segera tiba di ruangan tempat dimana seseorang yang begitu berarti untuknya tengah dirawat di sana. Beberapa orang berpakaian hitam terlihat ikut berlari di belakang Geya sambil terus meneriaki nona mereka yang tengah berlari dalam kondisi hamil. Jika sampai terjadi sesuatu pada nyonya mereka, Bila-bila mereka akan dilempar ke rumah Kitty, milik tuan mereka.
Tiga puluh menit yang lalu,
Geya yang tengah disibukkan oleh segala macam pikiran tentang masa lalunya, membuatnya terlihat termenung di balkon kamarnya. Entah karena apa tiba-tiba saja Geya merasa tidak enak, jantungnya berdetak begitu cepat seperti seseorang yang baru saja selesai lari maraton. Keringat dingin keluar dari dahi dan telapak tangan serta kakinya. Perut Geya pun terasa kencang sekali, dan itu rasanya menyakitkan sekali.
Geya hendak masuk ke kamarnya dan mencoba berbaring, terkejut karena dikagetkan oleh suara ketukan di pintu kamar pribadinya. Geya heran dengan siapa yang mengetuk karena ketukannya seperti seseorang yang tidak sedang dalam suasana baik. Geya pun perlahan membukakan pintu kamarnya dan terlihat pak Nam disana dengan raut wajah yang tidak bisa ditafsir.
" Nyonya.... " suara pak Nam terdengar bergetar.
" Ada apa pak Nam? Kenapa bapak sepanik ini? Apa daddy sudah pulang? " tanya Geya berusaha untuk berpikir positif.
" Tuan... tuan.... saya... mendapatkan kabar bahwa tuan... tuan... " pak Nam tergagap tidak mampu bicara. Lidahnya terlalu kelu untuk menyampaikan berita yang baru pak Nam dengar dari seseorang yang menghubunginya.
" Pak Nam ada apa... Katakan daddy kenapa? " Geya sampai membentak pak Nam karena perasaannya dan perutnya semakin tidak enak.
" Tuan....mengalami kecelakaan nyonya... "
" Apa? .... Pak Nam.... " tubuh Geya langsung merosot hampir terjatuh dilantai kalau saja pak Nam tidak menahannya.
" Ke rumah sakit.... kita ke rumah sakit... " gumam Geya saking terlalu shock...
__ADS_1
Dan disinilah sekarang Geya, di depan ruangan IGD tempat dimana suaminya sedang diperiksa. Jantung Geya rasanya sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya gemetaran karena merasa takut, sangat takut bahwa nanti dia tidak akan lagi bisa melihat suaminya berada di sampingnya lagi. Perut Geya pun juga sakit, namun dia tahan karena ingin mendengar langsung dari dokter yang menangani suaminya saat ini.
" Nyonya... Anda bisa duduk disini... " seorang pengawal pribadi Geya mendekat untuk mengajak nyonya nya duduk di kursi tunggu.
" Tidak... Aku ingin disini,, aku ingin melihat.... "
" Jika terjadi sesuatu dengan Anda, maka tuan akan semakin merasa bersalah.. Kondisi tuan juga tidak akan membaik jika melihat kondisi Anda saat ini. " pengawal tadi segera memotong ucapan Geya.
Geya menatap pengawal khusus yang disediakan oleh Claude. Pengawal yang akan menjaga dan memenuhi semua keinginan Claude saat suami Geya ini tidak ada di samping sangat istri. Bisa dikatakan pria pengawal ini adalah pengganti Thalita. Namun karena baru Geya juga belum terlalu akrab, tapi melihat berada pengawal ini perhatian padanya dan juga pada Claude, akhirnya Geya pun tersentuh dan memilih duduk seperti apa yang dikatakan pengawal ini.
" Maaf jika saya telah membuat Anda tidak nyaman.. " pengawal itu membungkukkan badannya di depan Geya.
" Tidak apa... Jangan begitu.... Maaf, karena panik aku sampai tidak mengindahkan kata-kata mu sejak tadi... " Geya mencoba tersenyum meski terlihat begitu kaku.
" Nama saya, Sanditian, tuan biasan memanggilnya saya Sand... Saya dulu adalah adik beliau ketika masih berada di panti asuhan. Setelah saya dewasa, saya memutuskan untuk menjadi pengawal tuan untuk bisa membayar semua jasa yang telah tuan berikan pada saya dana adik-adik saya. " ucap Sand.
" Oooh.. Begitu rupanya,, lalu dimana adik mu tinggal? " tanya Geya.
" Mereka berdua sudah menikah... Yang kedua tinggal di Toronta, dan si bungsu di New York... "
Obrolan Geya dan Sand terhenti ketika pintu IGD terbuka dari dalam dan keluar lah seorang dokter pria yang sepertinya adalah dokter yang menangani Claude. Geya bergegas maju untuk bertanya bagaimana kondisi suaminya. Perasaan takut yang sejenak tadi hilang karena obrolannya dengan Sand, kini kembali menyelimuti hati dan pikirannya.
" Dokter... Suami saya? " tanya Geya... Kedua tangannya saling meremas karena saya takut mendengar kabar yang akan disampaikan oleh dokter pria di depannya ini.
__ADS_1
" Tidak perlu khawatir nyonya Harley, kondisi Tuan Harley sudah stabil. Beliau mengalami shock dan juga patah tulang kaki. Selebihnya kondisinya normal. Saya dengar karena berkendara di atas rata-rata, beliau jadi harus membanting stir karena ada nenek dan seorang anak kecil menyeberang... " terang dokter bernama Chris itu bercerita kronologinya.
" Sebentar lagi akan ada beberapa perawat yang akan memindahkan tuan Harley ke kamar rasanya.. Anda tidak perlu khawatir berlebihan lagi... Dan segera Anda periksakan diri ke dokter obgyn... " Geya langsung terkejut mendengar ucapan dokter di depannya ini.
" Terlihat dari bentuknya, sepertinya kandungan Anda sedang tegang, apa itu benar? " Geya pun mengangguk membenarkan.
Sand meminta temannya untuk mengurus semua administrasi serta mengurus kepindahan tuan mereka ke kamar rawat inap. Sedangkan dirinya sendiri akan mengantar Geya ke dokter obgyn untuk memeriksakan kandungan Geya. Memang tadi Sand melihat nyonya nya beberapa kali mendesis tidak nyaman. Mungkin perutnya kencang sehingga menimbulkan sakit.
" Apa Anda tadi sempat berlari nyonya Harley? x tanya dokter obgyn. Dokter ini bukanlah yang biasa menangani Geya karena berbeda rumah sakit.
" Maaf dok, tapi saya tadi panik sekali... Suami saya kecelakaan dan dirawat di rumah sakit ini... " terang Geya penuh sesal.
" Tolong lain kali jangan diulangi nyonya, Anda mengandung bayi kembar, dan itu bukanlah pekara gampang. Saran saya selama beberapa hari ini Anda bedrest terlebih dahulu ya,, jangan terlalu banyak kegiatan berat. Saya meresepkan beberapa vitamin termasuk vitamin penguat kandungan. Dan juga semoga baby twins dan mommynya baik-baik... " ucap dokter kandungan itu ramah.
Sand dan Geya langsung menuju ke tempat dimana Claude dirawat. Tadi seorang pengawal lain mengabarkan bahwa suami Geya itu sudah sadar dari pengaruh biusnya. Geya pun bergegas ke sana kerena gedung tempat dokter obgyn dan juga tempat suaminya dirawat berbeda. Berjalan pun pasti butuh waktu lima belas menit, bisa lebih.
Mata Geya memanas melihat bagaimana tubuh suaminya terbaring dengan beberapa luka, dan yang paling parah adalah kakinya memakai gips. Geya tidak lagi mampu menahan tangisnya karena tou Geya lekas berlari mendekat ke arah Claude berbaring dan memeluknya.
" daddy.... Aku takut daddy meninggalkan aku... Aku takut dari.... huawaaaa..... " tangisan Geya semakin menjadi ketika Claude membalas pelukannya.
" Maaf Ge,, maafkan aku... Aku ceroboh Ge.. " ucap Claude yang terdengar lemah.
" I love you dad... I love you,,, don't leave me alone, dad... Please... "
__ADS_1
Jantung Claude serasa di remas ketika dalam tangisnya Geya mengatakan untuk tidak meninggalkannya. Claude merasa begitu bersalah karena telah membuat istri kecilnya ketakutan sampai seperti ini.