
Waktu tempuh yang harus dilalui oleh mobil yang membawa Marisha hanya beberapa jam saja ke kota. Siang sesudah jam makan siang, Marisha sudah sampai di kantor Urusan sipil untuk mendaftarkan gugatan cerainya. Salah alasan yang menjadi bulatnya keputusan Marisha untuk menggugat cerai suaminya adalah kata-kata Geya saat dia dan Geya bertemu hari itu. Benar yang dikatakan Geya, dan Marisha sudah tidak ingin lagi terjebak dalam pernikahan yang toxic ini, demi kedua buah hatinya.
Tidak butuh waktu lama, semua bukti dan juga gugatan yang Marisha buat sudah selesai dan pihak kantor Urusan sipil ini akan membantu Marisha segera memproses gugatannya. Semua bukti memang memberatkan Rouge, apalagi selama beberapa minggu terakhir ini Rouge sama sekali tidak mengunjungi anak-anaknya.
" Baik bu Marisha.. Saya akan membantu Anda agar secepatnya gugatan anda diproses.. " ucap pengacara Dettus yang akan membantu Marisha.
" Terima kasih pak.. Saya mengandalkan anda disini.. " Marisha tersenyum menjabat tangan pengacara Dettus.
" Lihatlah kak.. Pencapaian mu sangat luar biasa, kau bahkan memiliki pengacara yang hebat itu di bawah naungan perusahaan mu.. " puji Marisha terlihat senang.
" Hm.. Karena kau terlalu sibuk mengurusi hidup mu sendiri kau sampai tidak memperhatikan ku.. " v. cibir Dettus. Marisha hanya tersenyum dan mengangguk. Benar karena terlalu sibuk dengan obsesinya, dia melupakan orang-orang yang mencintainya apa adanya.
" Kita pergi makan dulu ya.. Marellyn sudah makan belum? " tanya Dettus yang mengendong putri kecil Rouge itu.
" Apar ceali... Au inin mam, yam oyeng paman... " seru Merellyn terlihat menggemaskan dimata Dettus.
" Ayam goreng ya... Boleh tidak ya.?? " Dettus pura-pura seperti sedang berpikir. Padahal niatnya hanya ingin menggoda Marellyn saja.
" Ao lah... Ya paman,, ya... I want it.. " Marellyn menghujami pipi Dettus dengan ciuman untuk menyogok agar diizinkan makan ayam goreng.
" Oke deh.. Karena paman sayang Marellyn jadi ayo kita makan ayam goreng... " Dettus berseru sambil membawa lari Marellyn yang ada digendongannya.
__ADS_1
Marisha tersenyum melihat putri kecilnya itu bisa tersenyum kembali setelah rentetan kejadian yang membuat mereka jauh dari daddy nya. Marisha merasakan sesak di dadanya karena putri kecilnya justru mendapatkan kebahagiaan dari pria lain yang bukan ayah kandungnya. Betapa malangnya putra dan putri kecil Marisha, karena harus menderita karena ulah kedua orang tuanya begini.
" Mommy... Ao cepat... Anti ditindal lho sama paman...!!! " Marellyn berteriak memanggil Marisha.
Marisha terkejut karena melamun justru sekarang ditinggalkan buah hatinya yang sudah masuk ke dalam mobil yang tidak jauh terparkir di depannya. Marisha menggeleng dan tersenyum, menertawakan dirinya sendiri yang pasti terlihat aneh jika dilihat orang lain. Dengan menggendong Jade yang sekarang sudah berumur hampir enam bulan itu, Marisha melangkah menuju ke mobil yang sudah ada anak dan kakak angkatnya disana.
Senyum Marisha menghilang saat menyadari ada sesuatu yang menuju ke arahnya dengan kecepatan yang diluar batas. Marisha menenggok ke arah samping kirinya, disana ada sebuah mobil berwarna hitam tengah melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Marisha menatap ke arah Marellyn dan Dettus, kemudian dia tersenyum menatap buah hatinya dan pria yang begitu mencintainya itu.
BRAKKKKKK
" MARISHA..... " teriakan Dettus menggema di parkiran kantor Urusan sipil.
Dettus dengan lutut bergetar langsung menghampiri tempat dimana tubuh Marisha sudah bersimbah banyak darah. Tangisan Jade membuat Dettus lekas membalik tubuh Marisha, dan semua yang ada disana termasuk Dettus terkejut karena Jade baik-baik saja. Jade dalam kondisi baik hanya ada beberapa lecet kecil saja. Tubuh Dettus bergetar saat menyadari ternyata Marisha melindungi tubuh Jade. Senyum tadi sebelum sekelebat bayangan hitam muncul di depan Dettus adalah senyum. perpisahan dari Marisha.
" Sha bangun... Aku mohon bangun Sha... Marisha bangun!!! " Dettus berteriak seperti orang gila memanggil nama Marisha. Tapi yang dipanggil sama sekali tidak mendengar bahkan Marisha masih hidup atau tidak sama sekali tidak ada yang mengetahui.
...*********...
Geya tiba-tiba saja merasa tidak nyaman akan sesuatu. Perasaannya tiba-tiba tidak tenang dan mata biru cemerlangnya bergerak-gerak tidak menentu karena kecemasan yang secara tiba-tiba merasuki dirinya. Geya lekas mengambil ponselnya, menghubungi suaminya yang tengah berasa di luar karena akan sedang bertemu dengan klien penting. Entah kenapa, sesuatu telah terjadi dan Geya merasakan itu, tapi pada siapa dan kenapa Geya sama sekali tidak tahu.
Ketika panik menyerangnya, Geya tidak lagi bisa berpikir jernih, beruntung di nada sambung kedua Claude sudah mengangkatnya.
__ADS_1
" Daddy di mana? Apa daddy baik-baik saja? " tanya Geya panik.
" Aku baik... Baby ada apa? Suara mu terdengar panik saat ini... " tanya Claude yang langsung memacu kendaraannya sedikit kencang karena saat Geya meneleponnya, Claude sudah dalam perjalanan pulang.
" Entah dad.. Perasaan ku tidak tenang sama sekali.... " jawab Geya lirih.
" Tenang baby, ambil nafas lalu hembuskan, seperti itu perlahan-lahan. Aku sudah dalam perjalanan pulang, tunggu aku ya.. " Geya langsung mematikan panggilannya dan melakukan seperti yang dikatakan oleh Claude.
Memang sedikit berkurang rasa cemas nya, namun tidak benar-benar menghilang. Geya berharap siapapun itu, dimana pun itu, Geya berharap semuanya baik-baik saja. Jangan lagi ada masalah dan musibah yang terjadi, semoga saja semuanya baik.. Batin Geya terus mengucap doa untuk semuanya.
Lima menit, mobil Claude sudah terparkir di depan mansion namun anehnya biasanya pria ini sangat rapi tapi kali ini mobilnya dibiarkan terparkir begitu saja. Claud bahkan berlari memasuki mansion dan langsung mencari keberadaan istrinya. Begitu melihat istrinya, Claude langsung berjalan cepat memeluk Geya dengan erat. Entah apa yang terjadi namun Geya merasa bahwa suaminya ini dalam suasana hati yang buruk.
" Kenapa dad? " tanya Geya. Dia sendiri bingung karena dia yang merasakan cemas tapi suaminya yang bertingkah aneh seperti baru saja terjadi sesuatu buruk pada mereka.
" Kita ke rumah sakit sekarang ya.. Aku mohon kamu kuat saat disana nanti.. " ujar Claude menggandeng tangan Geya menuju ke mobilnya yang terparkir asal tadi.
" Siapa yang sakit daddy? " tanya Geya mulai merasa tidak nyaman lagi.
" Marisha.. Dia.. kemungkinan untuk dia bisa hidup tidak lebih dari 20%..Istri Rouge baru saja mejadi korban tabrak lari, baby... "
Degh...
__ADS_1