
Mendengar tentang daddy Claude yang tidak sadarkan diri, semua anaknya langsung menuju ke rumah sakit tempat dimana Quon berada. Bahkan Quon yang baru selesai melakukan tindakan operasi pada pasien langsung berlari menuju ken ruangan IGD tempat dimana daddy Claude di tangani.
Pihak keluarga sudah menunggu di ruang tunggu IGD dengan perasaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Mommy Noura bahkan sudah lemas karena terus menangis sejak tadi. Quella sudah menangis di dalam pelukan Gamma, suaminya. Sedangkan Alrescha, dia memilih untuk bersandar di dinding berada di tempat yang sedikit jauh dari keluarganya. Matanya tertutup, tapi tidak bisa menutupi lelehan air mata yang terus keluar membasahi pipi.
Kejadian seperti bukan kali pertama terjadi, tapi entah kenapa perasaan yang sedang dirasakan oleh keluarga SH sungguh berbeda dari apa yang mereka rasakan waktu pertama kali daddy Claude mendapatkan serangan jantung. Semuanya diliputi ketakutan yang sangat besar, akan sesuatu hal yang buruk, yang mana mungkin saja terjadi.
Ceklek..
Mendengar pintu terbuka, semua anggota keluarga SH segera menghampiri dokter yang selama ini menjadi dokter yang menangani daddy Claude. Ketika mereka ingin bertanya, mereka semua dikejutkan dengan raut wajah dokter yang menangani daddy Claude ini. Raut wajahnya terlihat sangat sedih, tak lama Quon keluar dengan wajah yang sudah berderai air mata.
Melihat hal itu, mommy Geya langsung histeris. Perasaannya seketika mencelos begitu mengetahui maksud tatapan dari dua orang yang berdiri dengan ekspresi wajah yang sama-sama ingin menyampaikan berita duka.
" Nggak... Itu nggak mungkin... Daddy... Daddy.... Daddy... " mommy Geya memberontak ketika Alrescha memeluknya.
" Mom... " bisik Alrescha yang juga menangis karena berita yang sepertinya merupakan berita paling tidak ingin dia dengar seumur hidupnya.
" Dokter... Kak... Daddy..? " hanya tiga kata yang keluar dari mulut Alrescha, tapi seolah Quon paham, dia pun maju untuk menjelaskan situasi saat ini.
" Maaf... Kami... Kami.. Sudah berusaha... Tapi... hiks... hiks... daddy... da-ddy memang sudah tiada bahkan sebelum sampai di rumah sakit... hiks.. hiks.. " Quon menunduk dalam. Air matanya terus mengalir seperti air terjun, rasanya di dadanya begitu sesak saat ini.
" Nggak mungkin... Quon... Kamu bohong kan... Nggak mungkin daddy nggak ada.... Nggak mungkin... daddy.... daddy.... dad.... " ucapan mommy Geya terhenti ketika melihat sebuah brankar di dorong keluar dari ruang IGD. Brankar itu, terdapat daddy Claude yang tengah terbaring tidak lagi bernyawa. Matanya terpejam, terlihat begitu damai sekali, seolah ini adalah hal yang membahagiakan untuk daddy Claude.
" Daddy... Dad... bangun... Bangun daddy..!!!! JANGAN TINGGALKAN AKU DAD.. JANGAN TINGGALKAN AKU DADDY,, AKU NGGAK BISA TANPA DADDY.. BANGUN DADDY... "
BRUGH..
Tubuh mommy Geya pingsan, beruntung ada Alrescha yang dengan sigap langsung menggapai tubuh mommy Geya. Alrescha pun tak kalah kacaunya melihat tubuh sang daddy yang tidak lagi bernyawa. Rasanya tubuhnya seperti dihantam batu yang sangat besar, hanya satu kata yang melukiskan Alrescha saat ini, hancur.
__ADS_1
Quella sendiri sudah langsung memeluk tubuh daddy nya yang tidak lagi bernyawa. Dalam tangisnya, Quella tidak hentinya memanggil sang daddy. Berharap jika dirinya yang memanggil, maka sang daddy akan tersadar dari tidur panjangnya.
" Daddy... wake up... Daddy sayang Quel kan... hiks.. hiks.. so, please wake up daddy.. I need you, hiks.. hiks.. we are need you, dad.. " Quella membisikan kata-kata ini di telinga sang daddy.
" Maaf, nyonya, nona dan tuan.. Kami akan segera membawa mendiang tuan besar untuk proses pemakaman.. Kami harap kerja samanya.. " suster yang ikut mendorong brankar daddy Claude berucap.
" Jangan bawa daddy!! " sentak Quella mendorong suster tadi hingga terhubung ke belakang.
" Quella... Suster ini cuma melalukan pekerjaannya sayang.. Jadi mohon mengertilah.. " ucap Gamma mencoba menenangkan sang istri.
" Kenapa mereka mau bawa daddy? Daddy nggak apa mas.. Daddy bentar lagi bangun, daddy cuma tidur aja karena daddy lelah.. Daddy... "
" QUELLA SADAR... DADDY SUDAH TIARA, JANGAN MEMPERSULIT ORANG.. MINGGIR.. " Quon membentak adik kembarnya sendiri.
" Quon... " Gamma menegur iparnya. Tidak perlu juga harus berteriak untuk mengingatkan Quella. Siapa saja di posisi keluarga ini juga pasti akan sedih karena kehilangan. Tidak ada yang menginginkan kejadian di hari ini terjadi, tapi nyatanya, pria yang selama ini menjadi penguat keluarganya pada akhirnya telah meninggal dunia.
Di apartemen mewah yanga ada di pusat Los Angeles, seorang pria tengah berlarian kencang untuk segera sampai ke penthouse milik bosnya. Pria ini ingin mengabarkan berita yang baru saja dia dengar dari orang-orangnya. Entah apa yang akan terjadi nantinya pada bosnya ini, tapi kabar ini memang harus segera di sampaikan.
" Bos... " pekik pria ini memanggil bosnya yang tengah membaca laporan dari orang-orang nya di perusahaan.
" Tidak bisa lebih sopan kau? Setidaknya ketuk pintu dahulu...!! " hardik pria yang dipanggil bos ini.
" Maaf bos.. Tapi ini masalah penting, saya tidak ada waktu untuk mengetik pintu ruangan anda.. " ucapnya tidak gentar menatap mata yang kini melihatnya dengan tatapan tajam.
" Kau... Berani kau dengan ku sekarang.. Mau ku kirim kau ke Afrika untuk menja... "
" Tuan Claude Smith Harley.... Telah meninggal dunia.. "
__ADS_1
Deg...
BRAK..
BRAK..
**********
Suasana pemakaman begitu ramai sekali, banyak orang-orang dari teman dan rekan bisnis daddy Claude semasa hidupnya datang untuk memberikan penghormatan terakhir bagi pria yang telah menorehkan banyak prestasi di dunia bisnis. Siapa yang tidak kenal Claude Smith Harley, pria yang begitu piawai karena berhasil membawa H. E menjadi perusahaan maju dengan kedua tangannya sendiri. Belum lagi kebaikan hatinya, hingga dia mendapat julukan malaikat tanpa sayap.
Claude tidak pernah enggan untuk mengulurkan tangannya pada orang-orang yang membutuhkan. Dia tidak kenal pilih-pilih dalam memberikan bantuan. Siapa saja, yang datang padanya dan benar-benar membutuhkan, Claude tidak akan menolak untuk membantu. Tapi kini, pria dengan julukan malaikat tanpa sayap itu, telah tiada.
" Tuan muda.. Kami turut berduka, atas berpulangnya tuan besar Smith Harley..
Semoga keluarga di tabahkan.. "
" Kami sungguh tidak menyangka, tuan besar akan pergi secepat ini.. Kami ucapan duka yang mendalam untuk kepergian beliau.. "
" Kami turut berduka, semoga saja arwah beliau berada di sisiNya. "
Masih banyak langit ucapan para tamu yang hadir untuk mengantar kepergian tuan besar Smit Harley, untuk yang terakhir kalinya.
Saat ini, Geya tengah menatap satu persatu orang yang hadir, yang berniat memberikan penghormatan terakhir pada suaminya. Sungguh Geya merasakan de javu dengan pemandangan yang dia lihat saat ini. Quella yang menangis dalam pelukan Quon, lalu Alrescha yang diam menunduk tapi sebenarnya dia sedang menangis.
Mata Geya terus menatap satu per satu orang yang hadir, hingga dia melihat seorang pria berambut pirang yang memakai pakaian serba hitam serta kacamata hitam. Pria itu juga memberikan penghormatan terakhir pada seorang Claude Smith Harley.
Geya tersentak kaget ketika ingatannya jatuh ke hari dimana dia tengah berkemah dengan suaminya di mansion utama de Niels saat dirinya sedang mengandung Alrescha. Mimpi itu, ya... Mimpi yang Geya lihat ketika dia ketiduran saat menunggu suaminya membangun tenda untuk mereka.
__ADS_1
" Jadi... Jadi saat itu... Bukan... mimpi.... Daddy.. bagaimana bisa kau melakukan ini pada ku... Daddy... hiks... Hiks... "