
Masih di acara perayaan kelahiran Jade Nobel de Niels, putra kedua Rouge dan Marisha. Semua tamu undangan menatap Geya dengan raut wajah yang berbeda-beda. Ada yang kagum, ada yang penasaran, ada yang sinis, dan juga ada yang terang-terangan menghina Geya. Claude yang mendengar itu cukup tersinggung, ketika semua orang menatap istrinya dengan raut wajah yang terlihat menyebalkan bagi Claude.
" Baby... Itu mata semua orang kenapa lihat kami begitu? Pengen aku congkel matanya.. " bisik Claude mengeram kesal.
" Hahahahaha... Jangan dad,, lagian itu hak mereka daddy mau lihat aku lek gimana. Kenapa daddy jadi marah? " Geya mengelus rahang suaminya berharap emosi dari hot daddy milik Geya ini bisa diredam.
" Ck.. Aku nggak suka kalau mereka lihat kamu sinis begitu.. Lagian ada apa sih kok jadi begitu lihatnya padahal tadi nggak ada masalah apa-apa.. " lagi, mulut claude masih terus mengomel.
" Mereka yang kebanyakan disini itu teman Marisha dan Rouge dad. Kali aja mereka lagi ngomongin aku yang tiba-tiba menghilang setelah Rouge kasih pengumuman mau nikahin Marisha. Dan sekarang tiba-tiba aku datang dan bawa suami lagi... Mereka mungkin sinis karena itu dad.. " Geya mencoba menerka, pasalnya dia sendiri tidak yakin kenapa mereka semua berbuat seperti itu padanya.
" Awas aja kalau mereka berani macam-macam, lawan mereka itu aku...!! " Claude menatap tajam satu per satu tamu undangan yang memandang Geya dengan ekspresi wajah yang menurut Claude itu sangat menyebalkan. Tamu undangan yang mendapat tatapan tajam dari Claude langsung menunduk takut, singa jantan sudah terusik ketika singa betinanya di tatap para pemburu.
Claude sejak mengenal Geya selalu ingin yang terbaik untuk Geya. Claude paling anti jika ada gosip ataupun perilaku orang yang berhubungan dengan Geya, tanpa menampilkan kesan negatif sang istri. Jika sampai hal itu terjadi, Claude tidak akan segan membuat orang-orang yang berada di belakang itu semua menerima akibatnya.
Geya memaklumi ketika semua orang menatap nya dengan pandangan yang berbeda-beda. Geya paham betul pasti semua orang menyalahkan kepergiaannya yang mendadak termasuk kepulangan yang mendadak ini. Tapi niat Geya itu bukan untuk menjadi orang ketiga dalam pernikahan sepupunya dan sahabatnya ini. Geya kembali ke Milan karena daddy-nya sakit meskipun dia tidak bisa mengungkap alasan sesungguhnya. Tapi bagi Geya yang terpenting orang-orang disisinya tahu, itu sudah cukup.
Claude mendekati Rouge yang menggendong Jade, berdiri bersama dengan papa Theo dan mama Vinda. Claude tersenyum sopan, pada yang lebih tua tapi ketika menatap Marisha, ekspresinya berubah dingin sekali. Tapi dia kembali tersenyum ketika melihat Jade dalam gendongan Rouge.
__ADS_1
" Boleh aku menggendongnya? " tanya Claude membuat Rouge terkejut.
" Oh ya... Tentu saja... Tentu kau boleh menggendongnya.. " Rouge tergagap karena saking terkejutnya. Rouge pikir Claude akan mengibarkan bendera perang padanya, namun kenyataannya justru kebalikan dari itu.
" Thanks.... Look baby,, he is very handsome... Dia akan menjadi orang yang besar suatu saat nanti. Percayalah pada ku.. " Claude mengusap pipi Jade, membuat anak itu menggeliat nyaman semakin mendekat.
" Hoho... Ge, lihatlah keponakan kecilku, dia menyukai suami mu... Sepertinya kalian suka hal yang sama... " Roseline menimpali begitu dia ikut bergabung.
" Terima kasih telah lahir, boy... I'm your uncle, Claude.. anda this beautiful women is your aunty, Geya... " Claude terus mengajak bicara Jade seolah-olah anak Rouge ini sudah dewasa.
" Look baby... Dia itu menggemaskan sekali... " Claude mencium gemas pipi Jade, namun anehnya cucu papa Theo ini sama sekali tidak menangis. Biasanya Jade akan menangis jika ada yang mencium pipinya, bahkan jika itu Rouge dan Marisha.
" Sudah tujuh bulan lebih 3 minggu, rencana akan lahir di Milan, sebagai pelipur rindu daddy dan mommy. Untuk jenis kelamin kami sengaja ingin mengetahui nanti ketika dia lahir... " jawab Geya dengan cepat sambil mengusap perutnya.
Rouge tertegun sejenak ketika melihat Geya mengusap perutnya. Rasanya ada sebagian dalam dirinya yang berharap Geya bisa mengandung anak-anaknya dan dia bahagia karena itu. Rouge tersenyum masam saat menyadari keinginannya itu tidak akan terwujud karena Geya sudah memiliki suami dan sekarang tengah mengandung.
Lain Rouge lain Marisha, wanita yang dulunya sahabat Geya ini merasa iri pada Geya karena bisa mendapatkan pria yang begitu mencintainya. Marisha bisa melihat bagaimana gesture dari Claude yang terlihat begitu meratukan Geya. Membuat siapa saja wanita iri melihat hal itu, karena lelaki yang bisa meratukan seorang wanita itu sangat jarang ditemui.
__ADS_1
Benarkah merebut Rouge dari sisi Geya adalah hal yang terbaik untuk membuat Geya terluka. Karena nyatanya kini Geya justru bahagia karena berpisah dari Rouge. Dan itu membuat Marisha kesal setengah mati.
" Apa kalian rajin memeriksakan kandungan Geya? Jangan sampai apa yang aku alami akan terjadi juga pada mu Ge,, " ucap Marisha sinis.
Claude langsung memberikan Jade pada Roseline dan menatap Marisha sangat tajam. Membuat istri Rouge itu bergetar ketakutan karena tatapan dari suami Geya yang terlihat begitu menyeramkan.
" Jika benar begitu maka kami akan sangat begitu beruntung... Benarkan daddy, Jade istimewa karena itu orang-orang yang merawatnya juga merupakan orang-orang istimewa yang dipercaya bisa menjaga anak ini. Begitupun kami berdua akan merasa spesial jika benar kami memiliki anak yang istimewa seperti Jade... " ucap Geya tegas.
" Kau benar baby... " Claude mencium pelipis Geya kemudian mengajak Geya untuk ke tempat makanan tersaji. Roseline tadi bercerita bahwa ada beberapa kue kesukaan Geya yang tersaji. Jadilah Geya pergi bersama suaminya dan sepupunya itu mencari kue favoritnya.
Marisha menatap tidak percaya pada Geya dan Claude. Marisha tidak yakin bahwa keduanya bisa menerima situasi yang terjadi padanya kini. Berucap saja tanpa ada pembuktian semua orang juga pasti bisa. Padahal tanpa Marisha ketahui, bagi Claude asal kan anak itu lahir dari rahim Geya maka baik buruknya itu adalah anaknya. Besar dipanti asuhan membuat Claude selalu ingin memiliki keluarga besar agar bisa meramaikan istananya. Jadi mau seperti apa anak itu, jelas Claude akan sangat menyayanginya.
Mama Vinda melihat dan mendengar semua yang terjadi antara Marisha dan Geya. Mama Vinda kagum dengan jawaban Geya tentang penyataan yang dilontarkan Marisha tadi. Kini mama Vinda merasa tenang dan mulai bisa memaafkan dirinya sendiri setelah melihat Geya justru bahagia bersama dengan pria yang dia temui setelah berpisah dari Rouge.
" Mama senang karna kamu terlihat lebih bahagia Ge.. Semoga saja kamu akan selalu diliputi kebahagiaan karena telah menjadi wanita yang hebat... " batin mama Vinda.
Semua tamu undangan tetap bisa menikmati pesta perayaan ini tanpa sedikit pun peduli dengan perdebatan yang terjadi antara keluarga de Niels itu. Namun ketika semuanya tengah asyik dengan kegiatan mereka masing-masing, semuanya terpaksa menoleh ke sumber keramaian yang baru saja memasuki ruangan pesta.
__ADS_1
Semua menatap terpana pada orang-orang yang baru saja hadir dan langsung disambut dengan meriah oleh pemilik pesta...