
"Enggak sangka bisa ketemu di sini," ucap Dafa kemudian tersenyum senang pada Divya.
"Iya. Perasaan kita sering sekali tidak sengaja bertemu ya Mas," ucap Divya ramah pada lelaki yang katanya mau menetap di Malang.
Jika di ingat lagi, sepertinya dalam satu minggu, dalam waktu hampir dua bulan ini, mereka sering sekali tidak sengaja bertemu. Rasanya dunia ini begitu sempit sekali.
"Mungkin karena jodoh," ucapan Dafa seketika membuat senyum Divya mulai memudar. "Jodoh yang gagal, hehehe ... Bercanda aku, Di. Dengan Safir?" tanyanya saat melihat satu gelas kosong.
"Enggak. Aku baru saja bertemu dengan Lusi. Silahkan duduk, Mas."
"Enggak apa-apa ini aku temani kamu nongkrong?" tanyanya memastikan. Dafa ingin sekali langsung duduk. Karena ini adalah tawaran yang tidak bisa di tolak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa dong Mas. Mbak ..." Divya memanggil salah satu pegawai restoran untuk membereskan gelas bekas Lusi dan meminta Dafa untuk memesan minuman dan camilan sebagai teman mengobrol mereka.
"Perasaan setiap kali kita tidak sengaja bertemu, kamu selalu sendirian, Di. Jarang jalan dengan Safir ya?" tanyanya karena ingin menyelidiki.
"Jarang. Dia sibuk dengan bisnisnya, aku juga sibuk dengan pekerjaanku. Tapi kami selalu Quality time kok setiap kali sudah di rumah," ucap Divya santai seolah itu adalah hal biasa yang harus ia sampaikan.
Sedangkan tangan Dafa yang ada di bawah meja hanya bisa mencengkram kuat lututnya. Hati Dafa rasanya terbakar api cemburu yang tidak seharusnya.
"Sibuk itu hanya alasan saja, Di. Kalau kamu yang utama, sesibuk apapun Safir pasti akan meluangkan waktunya untuk kamu. Tinggal mana saja yang menurut Safir menjadi prioritasnya," ucap Dafa yang sepertinya berniat mengompori hati Divya. "Eh, maaf. Aku tidak bermaksud apapun loh, Di. Semua orang punya kesibukan masing-masing dan cara penyelesaian hidup masing-masing. Mungkin memang seperti ini kalian merealisasikan cinra kalian," ucap Dafa agar dirinya tidak terlihat buruk dimata Divya.
"Mas benar. Lagi pula kami saling menghargai profesi kami kok. Jadi tidak masalah. Oh iya, bagaimana kerja sama Mas dengan klien kemarin?" tanya Divya yang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Divya hanya tersenyum samar tak bermakna karena kalut dengan pikirannya.
__ADS_1
Divya dan Dafa membicarakan perihal pekerjaan dan bercampur dengan obrolan santai. Sampai membuat mereka tidak sadar waktu kalau mereka berbincang sudah selama 2 jam.
"Enggak terasa waktu sudah sore. Kita sudahi obrolan kita ya Mas. Sepertinya suami aku sebentar lagi sudah mau pulang," ucap Divya sambil memasukkan tablet dan juga ponselnya kedalam tas.
"Aku senang ngobrol dengan kamu, Di. Rasanya kita itu nyambung saja terus kalau sedang ngobrol," ucap Dafa dengan air muka bahagia.
"Aku juga senang ngobrol sama Mas Dafa. Aku pulang duluan ya Mas."
"Hati-hati ya, Di."
Dafa hanya bisa menatap punggung Divya yang sudah keluar dari ruangan restoran. "Bagaimana aku bisa memiliki kamu, Di? Apa aku harus menunggu jandamu dulu? Karena aku bisa menilai kalau Safir tidak mencintai kamu. Tapi mau sampai kapan aku nungguin kamu, Di? Aku lihat, kamu juga enggak sepenuhnya bahagia," gumam Dafa yakin.
__ADS_1