
Tidak ada satu pun manusia yang bisa melawan takdir yang sudah Tuhan tetapkan untuk siapapun m yang ada di muka bumi ini. Karena semuanya akan kembali pada garis takdir yang sudah di tetapkan untuk manusia itu sendiri. Biar bagaimanapun manusia melawan takdir, tapi Tuhan punya cara sendiri untuk mengarahkan hambanya ke jalan yang tepat. Hal ini berlaku untuk semua yang hidup di dunia ini.
Begitu keluar dari kamar mandi, Safir tersenyum samar saat melihat Divya yang sudah menunggu dirinya dan juga menatapnya. Safir melihat jam yang ada di ruangan tersebut. Pikiran Safir jadi memperkirakan kalau mungkin saja sekarang Queen sudah pergi ke bandara untuk melakukan penerbangan ke Australia.
"Kalau sudah lapar sejak tadi, kenapa tidak makan lebih dulu saja."
Safir memilih mengambil ponselnya di atas meja. Melihat dengan baik kalau mungkin saja salah satu keluarganya telah memberi kabar kalau Queen telah pergi. 'Mengharap apa aku sebenarnya?' gumam hati Safir, karena tidak ada satu keluargapun yang mengirimkan pesan singkat. Yang ada adalah pesan dari banyaknya rekan kerja yang memberikan ucapan selamat. Setelah meletakkan ponselnya secara asal, Safir mendaratkan tubuhnya di sofa. Tepat di samping Divya yang sudah duduk di sana.
"Kita baru menikah. Bukankah menikmati apapun lebih enak berdua?" Divya tersenyum begitu manis pada Safir. Terlihat sekali kalau Divya seperti sangat mencintai Safir.
"Yah. Kamu benar."
Divya menghela nafasnya pelan. Ia menggelengkan kepalanya pelan saat Safir sudah tidak menatapnya lagi. Lelaki yang sudah menjadi suaminya ini memang sangat tampan. Melihat matanya yang tajam dan juga bibir yang berwarna kemerahan, membuat Divya menelan salivanya secara kasar. Sungguh sangat mengoda sekali. Sayangnya, Safir tidak bereaksi berlebihan seperti bayangan Divya dulu. Yang Divya yakini sekarang, Safir pasti masih canggung. Seperti dirinya yang memang menahan rasa canggung. Tapi sebisa mungkin Divya membuang jauh-jauh rasa canggungnya tersebut. Mereka sudah menjadi suami istri. Melakukan apapun pada pasangan, bukannya akan menjadi masalah kan?
"Enakkan?" tanya Divya saat Safir mulai menikmati makanan.
"Enak," puji Safir singkat. 'Aku harus melakukan apa sekarang?' batin hati Safir yang kembali kalut. Melihat Divya yang sejak tadi terus menebar senyum manis, membuat Safir semakin merasa bersalah. Safir akui Divya cantik. Tapi pikiran Safir belum bisa konsentrasi untuk memikirkan Divya saja.
"Nih cicipin punya aku," Divya mengarahkan suapan sendoknya pada mulut Safir, Karena menu yang sedang mereka nikmati jelas berbeda.
"Sebentar," ucapnya tidak begitu jelas karena Safir sedang mengunyah makanan. Tidak lama kemudian, Safir melahap suapan dari Divya.
__ADS_1
"Bagiamana?" wajah Divya sangat antusias dan terus tersenyum manis pada Safir.
Safir terus mengunyah dan mengangguk pelan. "Enak," nilainya singkat. Perbuatan Divya tersebut membuat Safir inisiatif untuk melakukan hal yang sama. Kalau dirinya tidak memaksa diri untuk lebih dekat dengan Divya, lalu bagaimana caranya hubungan ini ada perkembangan. Safir harus membiasakan diri pada Divya. "Coba punya aku," tawarnya. Tanpa Divya tahu kalau tangan Safir bergetar karena melakukan ini.
Divya tentu tersenyum senang. Wajahnya memerah karena menahan rasa gugup. Ia segera melahap suapa dari Safir. Tatapan Divya bahkan tidak mau lepas dari Safir yang masih menatap dirinya. "Enak juga. Apapun makanan yang di sajikan di hotel ini, aku jamin memang selalu enak," puji Divya untuk pelayan hotel milik Om-nya tersebut.
Safir sedikit tersentak saat Divya menggenggam tangannya. Pergerakan Divya memang sangat halus. Bahkan kalau ia tidak jeli, mungkin Safir tidak akan sadar kalau kini secara perlahan wajah Divya sudah semakin mendekat karena sejak tadi Safir menatap Divya dan kalut dengan pikirannya sendiri.
'Apa aku akan menjadi lelaki brengsek karena aku menyentuh perempuan yang sebenarnya belum ingin aku sentuh. Tapi kalau aku terus menahan diri, Divya pasti akan curiga padaku. Tolong tenangkan hatiku, ya Allah. Aku tidak bisa melukai Divya karena kebodohanku sendiri. Aku ikhlas karena sejak awal dia adalah perempuan pilihanku. Engkau adalah pembolak balik hati manusia. Tolong balik hatiku agar aku sepenuhnya mencintai perempuan yang ada di hadapanku ini,' kata hati Safir.
Akan sangat memalukan bagi Divya jika sampai dirinya menolak Divya agar mereka tidak melakukan apa yang mungkin sekarang ada di pikiran Divya.
"Bukankah kamu tadi bilang kalau sedang lapar? Perutku juga lapar, Di," untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi pada dirinya, Safir mengusap kepala Divya pelan.
"Iya. Kita makan dulu."
Untuk beberapa saat mereka saling diam dan kembali menikmati makanan yang ingin mereka nikmati. Sedangkan Divya kembali menenangkan detak jantung yang tadi sudah mulai bekerja cepat.
"Oh ya. Kita belum beli rumah. Untuk sementara waktu, kita tinggal dulu di apartemen, bagaimana?" tawar Safir.
"Kamu keberatan enggak kalau kita ikut tinggal sama orang tuaku, Fir? Vian sudah lama tidak pulang bahkan tidak memberikan kabar sama sekali. Sedangkan Queen, sekarang sudah pergi ke Australia."
__ADS_1
Deg!
Pergerakan tangan safir seketika berhenti saat mendengar ucapan Divya. Ia hanya tersenyum samar menggambarkan dadanya yang terasa sangat sesak. Mau bagaiamanapun keputusan Queen, dirinya tidak ada hak apapun.
"Lalu?"
"Kamu pasti tahu kalau Queen sudah berangkat ke Australlia kan? Aku dapat kabar dari Mama. Dia kirim pesan ke kamu enggak?" tanya Divya dengan air muka yang sama sekali tidak menanggung rasa cemburu atau khawatir akan sesuatu.
"Enggak. Untuk apa juga Queen kirim pesan ke aku.Kan dia sudah pamitan kemarin. Yang aku tanyakan barusan, lalu kita mau tinggal di mana? Di rumah orang tua kamu?"
"Owh, aku pikir tadi kamu sedang menanyakan Queen," ucapnya kemudian tersenyum tak bermakna. "Kalau kamu tidak keberatan, kita tinggal di rumah orang tua aku. Bagaimana? Aku enggak tega Fir sama orang tua aku. Kedua adik aku sudah enggak di rumah. Kalau saja Queen tetap kuliah di sini, aku pasti ajak kamu untuk cari rumah."
"Kalau kamu dan orang tua kamu sudah saling membicarakan hal seperti ini, ya sudah. Aku tidak masalah."
"Serius?" tanya Divya antusias untuk memastikan.
"Ya."
"Terima kasih, suami aku," ucap Divya kemudian mendaratkan kecupan di pipi Safir.
Apa yang di mau Divya, sebisa mungkin akan Safir turuti. Walau sebenarnya dulu Safir sudah mengatakan kalau ia akan membeli rumah setelah Safir menikahi Divya. Siapapun pasangan suami istri, sudah pasti inginnya tinggal di rumah sendiri.
__ADS_1