
"Pak, minggu depan kita coba survey lokasi lagi lahan tanah yang kemarin kita lihat ya Pak," ajak Safir yang sejak tadi sedang berbincang dengan Yusman.
"Mas, tertarik dengan lahan tersebut?" tanya Yusman memastikan.
"Tidak terlalu sih, Pak. Tapi kalau lokasinya memang cukup jauh dari pemukiman penduduk, sepertinya tidak ada masalah juga kalau kita membeli tanah tersebut dan mencoba memulai ternak sapi perah. Kalaupun nantinya belum bisa di jual setidaknya untuk konsumsi kita juga kan bisa Pak. Namanya masih coba-coba. Kecil-kecilan dulu saja."
"Baik, Mas. Kalau begitu nanti saya buat janji dengan pemilik tanahnya dulu."
Lokasi tanah yang beberapa hari lalu memang sudah Safir lihat. Namun, karena terlalu buru-buru perihal pekerjaan lainnya, membuat Safir kurang memperhatikan jarak antara tanah dengan rumah penduduk. Safir hanya tidak ingin jika nanti usahanya membuat penduduk lainnya menjadi terganggu.
Setelah Yusman keluar dari ruang kerjanya, tidak lama kemudian Safir juga keluar dari sana. Tujuan Safir justru menuju ke ruang kerja yang seharusnya di tempati oleh Queen.
Sudah dua bulan yang lalu Safir bertemu dengan Queen di Jakarta. Setiap kali Safir menunduk dan melihat tangannya, rasanya Safir ingat lagi saat dirinya menggenggam tangan Queen. Kalau saja hati Safir berani mengikuti arah hati yang sebenarnya, mungkin pertemuan hari itu bukanlah komunikasi Safir yang terakhir pada Queen. Karena sampai saat ini, baik Safir maupun Queen tidak saling memberi kabar. Sadar diri tentang dirinya sendiri tentu membuat Safir bisa menyadari batasannya.
Kedua mata Safir mengedar. Ia duduk di kursi kerja yang seharusnya menjadi tempat Queen. Senyum Safir tercetak samar saat dirinya melihat sebuah bingkai foto dirinya dengan Queen. Gadis cantik yang menggunakan gaun berwarna pink di hari pesta pernikahannya kala itu.
__ADS_1
'Maaf ya, mungkin saat ini aku belum bisa menyingkirkan apa yang sebenarnya ingin aku singkirkan dari ruangan ini. Sekarang aku sudah sedikit lebih baik dan sudah bisa mengerti diriku sendiri. Sebentar lagi, ruangan ini akan aku fungsikan sebaik mungkin agar tetap ada manfaatnya. Toh, kamu juga enggak akan datang kesini lagi,' gumam hati Safir.
"Safir disini?" tanya Zantisya.
"Eh, Bu-bunda," ucapnya sampai tergagap. Spontan saja tangannya memasukkan bingkai foto Queen di dalam laci meja kerja.
Safir yang sejak tadi melamun dan hanyut dengan pikirannya sendiri, tentu terkejut dengan kehadiran Zantisya yang tiba-tiba. Safir takut kalau Zantisya sampai tahu kalau sejak tadi dirinya terus memandangi fotonya bersama dengan Queen.
Sedangkan Zantisya datang ke kantir ini karena ingin melihat anaknya sekaligus membawakan makan siang.
"Bunda tahu kalau itu foto kamu dengan Queen saat di pesta pernikahan itu. Tidak perlu di sembunyikan lagi," ucap Zantisya kemudian tersenyum.
Tatapan Safir berubah sendu. Lagipula untuk apa ditutupi lagi, kalau kedua orang tuanya juga sudah mengetahui semuanya.
"Safir hanya ingin datang kesini saja kok, Bun. Tidak ada niat tertentu," jelasnya karena Safir tidak ingin jika Zantisya jadi mengira kalau dirinya mengharapkan lebih dari perasannya.
__ADS_1
"Apa Bunda tanya alasan Safir datang kesini?" tanya Zantisya kemudian tersenyum tenang. "Kalaupun berharap juga tidak apa-apa, kok. Kalian juga saling suka. Kalaupun memang jodoh, bagaimanapun kamu menghindar pasti akan bertemu jalannya sendiri."
"Tapi Safir tidak berniat melewati jalan itu, Bun. Bunda tahu kenapa Safir mempunyai keputusan ini."
Zantisya menghela nafasnya dalam. Ia paham betul kalau Safir trauma dengan pernikahannya bersama dengan Divya.
"Sembuhkan dulu perasaanmu, Nak. Tidak perlu memaksakan diri cepat-cepat. Cari kenyamananmu jika memang itu yang membuatmu merasa aman dan tenang. Tapi Bunda beritahu Safir. Allah sudah memberi Safir jawaban. Dan mungkin memang itulah takdir yang seharusnya Safir ambil. Mau sejauh apapun Safir lari, pada akhirnya semuanya akan tetap bertemu dengan takdirnya sendiri dan mencari jalannya sendiri. Ingat, Nak. Apapaun masalahnya ada solusinya. Ayo kita makan siang dulu. Bunda datang kesini karena ingin ajak Safir makan siang."
Safir segera beranjak. Agar dirinya dan Zantisya segera keluar dari ruangan tersebut.
"Maaf, Mas. Saya baru saja menghubungi pemilik tanah itu," ucap Yusman yang baru saja keluar dari ruang kerja.
"Bagaimana Pak?"
"Tanah itu sudah di DP orang lain, Mas."
__ADS_1
Safir hanya mengangguk pelan. "Ya sudahlah, Pak. Sepertinya memang tanah itu bukan rezeki kita. Mungkin juga ini tanda yang baik karena hati saya juga enggak begitu sreg."