Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 170 Niat Pergi


__ADS_3

Begitu sampai apartemen, tangisan Queen semakin kencang. Queen seolah ingin meluapkan isi hatinya yang terluka. Jika memang Safir akan menceraikan dirinya, lalu untuk apa kalau sejak awal Queen berusaha mengambil alih perasaan Safir. Toh pada akhirnya semua akan sia-sia.


Queen sungguh tidak mampu jika sampai kata mengerikan itu keluar dari mulut Safir. Sejak dulu, keinginan Queen agar bisa menikah dengan orang yang ia sukai. Maka sekarang, untuk menghindari semuanya, akan lebih baik jika Queen meninggalkan apartemen ini.


Keputusan Queen seolah sudah bulat. Karena kini, perempuan tersebut memilih untuk mengambil koper yang ada diatas lemari. Queen harus menata sebagian pakaiannya secepat mungkin. Queen takut kalau tiba-tiba Safir pulang dan rencananya untuk pergi menjadi gagal.


Dreeettt ... Dreeettt ...


Mendengar getaran ponsel, membuat Queen meraih benda canggihnya tersebut.


"Kakaaakkk ..." begitu menerima panggilan suara dari Vian, Queen kembali menangis lagi. Memangnya dengan siapa lagi Queen mau mengadu tentang perasaannya kalau bukan pada  Vian. Terlebih lagi, sejak dulu Vian adalah seseorang yang menjadi tempat curhatnya Queen.


"Loh, ada apa Queen?"


Niat hati Vian menelpon Queen karena ingin menawari sesuatu makan karena dirinya sedang berada diluar kota, tapi sekarang Vian justri mendengar adiknya itu menangis.


"Sepertinya Safir mau ceraikan Queen Kak," ucapnya kemudian lanjut menangis.


"APA!" pekik Vian yang begitu terkejut. Bagaimana mungkin? Sedangkan ia sendiri juga tahu kalau Safir menyukai Queen.


"Kenapa Safir enggak kasih kesempatan sama Queen, Kak? Apa perlu Queen memohon agar Safir melihat Queen. Agar Safir tahu, kalau Queen suka dia? Harus bagaimana lagi Queen ini, Kak?"

__ADS_1


"Tunggu dulu, Queen tahu kalau Safir berniat seperti itu dari siapa?"


*


Setelah saling berbincang dengan Ruby, Safir segera menyelesaikan urusan pribadinya. Meski tidak ada pekerjaan yang harus Safir selesaikan lagi, tapi Safir tidak memilih pulang karena kini dirinya justru tidur siang. Safir mengabaikan jadwal makan siang. Karena Safir berharap, dengan istirahat, Safir bisa lebih tenang dan yakin. Niatnya saat pulang nanti, Safir ingin bicarakan semuanya dengan Queen. Jujur sejak sekarang adalah jalan yang paling tepat.


Safir kembali terjaga saat waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Benar saja, pikiran Safir sekarang jauh lebih tenang. Safir segera menuju kamar mandi untuk kembali melakukan kewajiban. Setelah itu ia keluar dari ruang kamar karena ingin segera pulang ke apartemen untuk bicara dengan Queen tentunya.


"Loh, itu apa?" gumam Safir saat melihat rantang yang ia beli kemarin bersama dengan Queen. "Apa dia tadi datang kesini?"


Klek!


"Kak Vian."


"Safiiirrr ..." geram Vian yang sudah tersulut emosi.


Bug


Bug


Bug

__ADS_1


Tanpa pikir panjang lagi, Vian langsung mendaratkan pukulan pada Safir. Vian seolah sudah tidak bisa sabaran lagi dengan apa yang harus Queen hadapi.


Setelah selesai bicara dengan Queen, Vian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sebisanya. Yang Vian pikir, ia harus membuat perhitungan dengan Safir.


"Augh Kak."


Bukannya Safir tidak bisa melawan ataupun menghindar dari pukulan Vian. Tapi Safir yakin, kalau Vian melakukan ini semua karena ada alasan yang jelas.


"Apa yang sebenarnya ada diotak kamu, Fir?" sentak Vian sambil mendorong Safir. "Kurang apalagi Queen nungguin kamu selama ini? Sudah menikah bukannya dimanfaatkan sebaik mungkin, bisa-bisanya kamu berniat menceraikan adikku."


"Hah! Siapa yang mau menceraikan Queen, Kak?" tanya Safir tidak terima. Ia bangun karena kini dirinya harus menanggapi ucapan Vian.


"Bukankah kamu bicara dengan Ruby kalau kamu berniat menceraikan Queen?" sentak Vian dengan kedua mata yang sudah berapi-api. "Kurang apa adikku buat kamu, Fir? Sekalipun aku tidak setuju dengan pernikahan kalian, tapi mau bagaimana lagi. Kalau kamu merasa minder tentang diri kamu sendiri, coba bicara dengan Queen baik-baik. Kalau memang dia bisa menerima, lanjutkan. Kalau tidak, baru berpikir agar kalian berpisah. Adikku juga berhak mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari kamu."


Deg!


'Apa Queen tadi datang kesini dan mendengar semuanya?' gumam hati Safir menebak.


"Maaf, kak. Aku harus pulang sekarang."


Tanpa membereskan barang pribadinya, Safir langsung meraih kunci mobil dan lari keluar dari ruang kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2