Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 48 Pulang Ke Rumah Ortu Divya


__ADS_3

Begitu selesai makan, keduanya memutuskan untuk meninggalkan hotel dengan menaiki taksi. Padahal sebenarnya Safir dan Divya masih bisa sepuasnya berada di hotel untuk menikmati kebersamaan mereka berdua. Tapi Divya memilih mengajak Safir pulang karena tiga hari lagi, Yusuf dan Nissa serta yang lainnya akan kembali ke Jakarta.


Setelah Safir membayar argo taksi, sepontan saja Divya menggandeng tangan Safir. Keduanya melangkah beriringan memasuki rumah utama.


"Assalamualaikum ..." Salam Safir dan Divya bersamaan.


"Waalaikum salam. Loh, pengantin baru kok siang-siang begini sudah pulang," Nissa yang berpapas dengan kedua cucunya tersebut, tentu menyambut dengan senyuman ramah seperti biasanya.


"Divya sudah ngajakin pulang, Tante," jawab Safir setelah bergantian dengan Divya mencium tangan Nissa.


"Loh, kok Tante lagi?"


Padahal saat makan sore kemarin, Safir sudah di beri tahu untuk tidak memanggil Nissa dan Yusuf dengan sebutan Tante dan Om. Tapi sepertinya Safir masih canggung dan belum terbiasa.


"Maaf, O-oma," ucapnya ulang dengan air muka yang nampak ragu.


"Oma tinggal sebentar lagi di Malang kan? Jadi Divya milih pulang sekarang saja."

__ADS_1


"Owalah, jadi kalian pulang karena Oma dan Opa? Padahal nanti kami mau bermalam di rumah Adam."


"Yaaahhh ..." Seketika Divya menjatuhkan kedua pundaknya dan mengerucutkan bibirnya.


"Kalau begitu cukup semalam saja kami di sana. Dua malam terakhir kami akan kembali ke sini."


"Oma tinggal di Malang lebih lama lagi ya," pintanya sambil meraih tangan Nissa. "Toh yang kerja Om."


"Yang kerja memang Om. Tapi kalau Ruby kuliah, siapa yang jaga Shaka, Shaki, Shanum?"


"Loh, kalian sudah pulang?" kini giliran Reina yang mengajukan pertanyaan. Ia pikir Divya dan Safir akan menghabiskan waktu berdua di hotel hingga beberapa hari. Siapa yang menduga kalau keduanya pulang secepat ini. Sebagai yang sudah melewati masa pengantin baru, Reina tentu paham dengan keinginan yang menggebu.


Kini semua orang berkumpul di ruang keluarga. Tentunya mereka kembali membicarakan perihal Safir dan Divya yang akan tinggal di mana kedepannya. Safir hanya mengiyakan saja saat Divya benar-benar memutuskan untuk menetap di rumah Hendri tersebut. Karena Divya merasa kalau Reina berharap mereka akan tinggal di sini. Padahal Reina juga mempersilahkan kalau memang mau tinggal di rumah sendiri. Reina dan Hendri paham dan menuturkan kalau orang yang berumah tangga pasti memiliki cita-cita untuk tinggal di istana kecilnya sendiri.


Sedangkan Reina tentu saja merasa senang mendengar anaknya akan menetap di sini, selama di antara kedua adik Divya belum ada yang pulang ke rumah ini.


Hingga tidak lama kemudian, Safir meninggalkan ruangan keluarga karena ia harus menerima panggilan suara dari Yusman. Seorang lelaki berusia 37 tahunan yang telah menggantikan pekerjaan Queen.

__ADS_1


"Di, aku harus keluar sekarang," pamitnya pada Divya dan tentuya di depan semua orang.


"Mau kemana?" rasanya Divya tidak rela mendengar Safir berpamitan seperti ini. Baru saja mereka menikah, yang benar saja Safir mau bepergian.


"Aku harus pergi dengan Pak Yusman, Di. Kami mau menemui seseorang yang ingin menjual tanahnya," tutur Safir memberi tahu. Proyek baru Safir, yang ingin memelihara sapi perah sesuai dengan rencana yang sudah lama ia buat bersama dengan Queen. "Tanah itu berdekatan dengan tanah ternakku, Di. Mumpung beliau sudah mau membuat janji temu."


"Owh, ya sudah kalau begitu."


"Minta sopir antar saja Fir. Jangan mengendarai mobil sendiri. Pasti masih lelahkan karena acara kemarin?" ucap Reina.


"Tidak juga Ma. Safir bisa menggunakan taksi saja. Sekalian mau mengambil mobil Safir di rumah."


"Lah wong di rumah ini ada banyak mobil dan juga sopir kok mau pakai taksi. Suruh saja sopir mengantar pulang kalau mau ambil mobil," kini giliran Hendri yang menanggapi Safir.


"Baik, Pa."


Siapapun pasti bangga melihat Safir yang sudah sukses di usia muda. Walau jalan kesuksesanya bisa di bilang tidak benar-benar dari nol karena orang tua Safir adalah Arjuno, tapi kegigihan usaha lelaki tersebut patut di acungi jempol. Karena tidak semua anak muda yang punya pemikiran dan pintar memanfaatkan peluang seperti Safir. Siapapun pasti bangga, terutama Divya yang sudah menjadi istri Safir.

__ADS_1


__ADS_2