Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 54 Kamar Divya


__ADS_3

Sekitar pukul 15.00 wib, Safir baru saja sampai di kediaman kedua orang tuanya. Ia langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi mobil ke bagian paling belakang agar tidak mengganggu mobil lainnya yang setiap hari selalu di gunakan.


Sedangkan Zantisya, karena mendengar suara ramai-ramai, perempuan tersebut langsung keluar. Betapa terkejutnya Zantisya saat di halaman rumahnya ada mobil angkutan mobil yang datang.


"Mobil siapa Fir?" tanya Zantisya penasaran.


"Mobil Safir, Bun."


"Kamu tukar tambah mobil? Bukannya mobil kamu itu masih bagus? Jangan boros-boros Fir," ucap Zantisya yang mulai mengomel untuk mengingatkan anaknya tersebut.


"Mobil Safir ada kok Bun. Safiir nitip mobil Safir yang itu karena mulai sekarang Safir mau menggunakan mobil ini saja."


Begitu banyak kenangan yang tertinggal di dalam mobil tersebut. Karena Safir tidak ingin jika dirinya terus mengingat Queen. Makan Safir memilih menggunakan mobil lainnya.

__ADS_1


"Mobil itu bukannya masih bagus. Baru 2 tahun loh Fir. Kalau memang sudah tidak suka, kenapa tidak di gunakan untuk tukar tambah saja."


Sepertinya Zantisya dan Arjuno itu sama. Tidak menyukai jika memiliki kendaraan hanya untuk pajangan garasi saja. Maka setiap ada kendaraan yang sudah tidak di gunakan, pasti akan Arjuno jual.


"Safir bukannya tidak suka Bun. Mau di jual juga sayang, itu mobil pertama yang Safir beli dari hasil ternak."


Setelah mobil baru Safir sudah berhasil di turunkan, orang yang bertugas langsung berpamitan. Setelah saling terlibat percakapan perihal mobil dengan Zantisya, pada akhirnya Zantisya berusaha memahami anaknya tersebut.


Safir bergegas memasuki rumah dan menuju kamarnya. Ia harus mengambil beberapa baju, secukupnya dulu karena setelah ini dirinya akan tinggal di kediaman mertuanya. Sebenarnya ingin sekali Safir tinggal terpisah. Tapi mau bagaimana lagi jika Safir memilih menuruti maunya Divya saja.


"Ya. hati-hati."


Sejak melihat Safir pulang tadi, sebenarnya hati Zantisya di buat kalut sendiri. Ia melihat kedua mata anaknya yang sebab dan mata yang memerah seperti orang yang baru saja menangis. Ingin rasanya Zantisya bertanya tapi tadi pembahasan lebih dulu terlanjur mengenai mobil.

__ADS_1


Kini Safir sudah melaju menggunakan mobil barunya. Rasanya sungguh aneh. Bahkan sekalipun mobil barunya ini juga di beli dengan menggunakan uangnya sendiri, nyatanya mobil ini tidak terasa nyaman seperti mobilnya tadi. Safir kembali menggelengkan kepalanya pelan. Ia harus fokus dengan jalanan dan bisa menikmati suasana saat mengendarai mobil barunya ini. Sampai pada akhirnya, Safir telah tiba di kediaman mertuanya.


Begitu keluar dari mobil, Safir bergegas memasuki rumah. Ia mulai celingukan karena ruang keluarga dalam keadaan sepi. Sedangkan tadi dirinya dan Divya belum sempat menuju kamar Divya.


"Selamat sore, Mas," sapa Art yang kini mulai terlihat canggung karena bertatapan dengan Safir.


"Sore. Mbak, Divyanya apa ada di kamarnya ya?"


"Loh, Non Divya tadi ikut Pak Yusuf dan Bu Nissa ke rumah Pak Adam. Kalau Ibu dan Bapak baru saja keluar, Mas."


'Kok enggak bilang sama aku kalau dia pergi ke rumah Om Adam,' gumam hati Safir. "Saya ingin istirahat, Mbak. Kamar Divya ada di sebelah mana ya?"


"Mari saya antar. Mas."

__ADS_1


"Tidak perlu. Cukup beritahu saya di mana letak kamar Divya. Setelah itu, Mbak silahkan melanjutkan pekerjaan, Mbak yang belum selesai."


__ADS_2