Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 145 Makan Siang Romantis


__ADS_3

"Sudah pernah makan disini?" tanya Safir saat melihat Queen yang melihat kesana kemari.


"Belum. Mau dengan siapa juga aku datang kesini?" tanya Queen kemudian tersenyum karena menatap Safir. "Tempat ini sepertinya memang pas untuk perkumpulan keluarga, muda mudi bersama kelompoknya dan juga orang yang berpasangan. Karena nunggu kamu aku jadi berasa obat nyamuk tahu enggak?" keluh Queen.


Sekilas Safir memperhatikan pengunjung yang memang nampak berpasangan.


"Lagian kamu dapat rekomendasi dari mana restoran ini?" tanya Queen.


"Sengaja mencari digoogle untuk rekomendasi restoran yang paling nyaman saja."


Queen mendekatkan wajah. Safir yang paham kalau Queen akan berbisik, membuat Safir juga ikut mendekatkan wajahnya.


"Bukannya apa-apa, tempat ini terlalu mewah. Kamu pasti terkejut saat melihat harga menunya. Nanti kita bayarnya patungan saja ya?" tawar Queen berbisik.


Safir seketika terkekeh. Sejak dulu dirinya dan Queen memang selalu memilih-milih tempat jika ingin makan diluar. Karena mereka pikir segala sesuatu harus di perhitungkan, apalagi mereka sedang dalam tahap mengembangkan bisnis yang sedang mereka jalani dulu. Yang terpenting tubuh mereka mendapatkan gizi seimbang. Kecuali kalau ingin bertemu dengan klien, karena mereka akan menuruti klien inginnya bertemu dimana.


"Aku yang mengajakmu jadi aku yang bayar. Sudah jangan membahas ini. Jarang-jarang aku baik hati seperti inikan?"


"Benar juga."


"Oh ya, Pak Sopir yang antar kamu tadi dimana?" tanya Safir, karena berniat mengajak makan sekalian. Sekalipun nanti akan Safir pilihkan meja lain, karena Safir memang ingin bersama dengan Queen saja.


"Sudah aku suruh pulang. Nanti antar aku pulang ya. Aku ingin naik busway," pinta Queen.


Sudah lama Queen ingin menaiki angkutan umum tersebut. Hanya Saja, Queen tidak berani kalau sendirian. Mengingat cukup ramainya penumpang busway. Selain itu, kemanapun perginya Queen, memang selalu diantar jemut oleh sopir. Begitulah yang berlaku selama ini.


"Kalau sopir sudah pulang sedangkan kamu belum, apa Oma dan Opa tidak akan cari kamu?"


"Loh, lah iya ya?" ucap Queen saat baru saja menyadari. "Aku telpon sopir aku dulu biar enggak langsung pulang ke rumah, dan nanti jemput aju di halte saja. Tapi kamu maukan temani aku naik busway?" tanya Queen untuk memastikan dulu.


"Ya!" jawab Safir singkat. Sekalipun Safir senang, tapi sebisa mungkin dirinya tetap harus terlihat seperti biasanya.


Tidak lama kemudian, pesanan makan siang mereka sudah di sajikan. Tanpa perlu menunggu lagi, mereka segera menikmati makanan mereka. Tidak ada pembicaraan kecil, karena terlihat sekali kalau Queen memang sedang lapar.


"Ih, kok tumben aku makannya habis lebih dulu?" tanya Queen. Karena biasaya Safir memang lebih cepat menghabiskan porsi makanan. Sedangkan sejak tadi, Safir terus mencuri pandang pada Queen. Sungguh, antara malu dan berusaha tetap biasa saja dengan lagak Queen yang apa adanya di depan Safir.


"Kelaperan, Bu."


"Lumayan. Soalnya tadi pagi aku cuma minum susu hangat saja. Malas mau ikut sarapan."


Safir hanya mengangguk pelan. "Kalau masih lapar, pesan lagi saja. Atau mau punya aku ini? Enggak aku acak-acak kok makananya," tawar Safir karena takut kalau Queen masih lapar.


"Aku sudah kenyang. Kamu makan saja."

__ADS_1


"Serius?"


"Iya. Setelah ini juga masih akan ketambahan es krim. Cepat habiskan makanmu."


"Bagaimana dengan kuliahmu, lancar?" tanya Safir sambil memotong seluruh daging yang memang masih Safir makan separuh saja.


"Lancar. Kamu enggak berniat lanjut S2?"


"Mungkin tahun depan. Kamu serius enggak mau habiskan, sudah aku potongi?" tawar Safir sambil beranjak. Ia memindahkan piring Queen dengan piringnya. Ia tahu kalau Queen masih belum sepenuhnya merasa kenyang. Mungkin karena melihat harga menu yang tidak sesuai dengan target mereka dulu, membuat Queen memesan makanan hanya sekedarnya saja. "Sejujurnya aku tadi sudah makan siang dengan klienku. Tidak enak kalau aku tidak ikut makan. Maaf ya karena aku sudah membuat kamu menunggu."


"Kamu niat bikin aku gemuk apa gimana?" omelnya. Merasa kalau mereka setiap makan tidak pernah menyisakan makanan agar tidak terbuang sia-sia, membuat Queen segera melanjutkan makanan milik Safir.


"Gemuk dari mana? Apa kuliah S2 begitu menyiksa pikiran kamu, sampai kamu terlihat kurus seperti itu?"


"Kamu akan merasakannya kalau jadi aku," ucap Queen. Hanya untuk beberapa detik saja Queen menatap Safir serius, karena setelah itu Queen tersenyum. "Makanya kamu lanjut S2 biar tahu rasanya."


"Ok! Akan aku coba tahun depan."


Setelah menu utama selesai Queen habiskan, menu terakhir pun disajikan. Keduanya menghabisan es krim sambil membicarakan beberapa hal terkait kuliah Queen, dan sedikit pekerjaan Safir. Safir membahas pekerjaan juga karena Queen yang bertanya. Safir hanya ingin menjadi pendengar untuk Queen.


Sampai beberapa jam kemudian, keduanya memilih menumpang solat terlebih dulu di tempat restoran tersebut. Setelah Safir membayar tagihan makanan mereka, kini keduanya segera meninggalkan tempat tersebut.


"Cukup jauh kalau kita jalan menuju halte. Mau tetap jalan saja, atau naik taksi?" tawar Safir.


"Boleh jalan saja enggak?" tanya Queen yang masih ingin bersama Safir lebih lama.


Keduanya jalan beriringan. menikmati suasana Ibu Kota yang tentu saja masih terasa panas walau waktu sudah sore. Sampai akhirnya, keduanya sudah sampai halte tujuan mereka.


"Kamu sudah punya kartu busway juga?"


"Ini punya Pak Sopir. Aku tadi sengaja minjam."


"Owh," Safir hanya mengangguk saja.


Bersama dengan penumpang lainnya yang sedang menunggu kedatangan busway, Safir dan Queen hanya saling diam karena sudah bingung mau membicarakan apalagi. Hingga setengah jam kemudian, busway yang sejak tadi mereka tunggu sudah datang.


Begitu memasuki busway, Safir berdiri di bagian tempat yang di dominasi dengan laki-laki. Begitu juga dengan Queen yang berdiri di bagian bus yang di dominasi perempuan.


Awalnya Busway belum begitu ramai penumpang, tapi seteleh melewati beberapa halte, penumpang jelas semakin bertambah dan hampir bercampurnya penumpang laki-laki dan perempaun.


Sejak tadi Queen hanya menunduk sambil memainkan ponselnya. Ia mengabaikan orang sekitar karena Queen hanya perduli dengan rasa penasarannya saja.


Sedangan Safir sejak tadi juga bermain ponsel karena sedang membalas pesan Yusman dan pesan lainnya yang masuk. Sampai pada akhirnya Safir sadar kalau ada beberapa lelaki yang sejak tadi menatap ke arah Queen. Entah apa yang lelaki tersebut bisikkan tapi Safir tidak salah tanggap karena yang di lihat, lelaki itu mematap ke arah Queen.

__ADS_1


"Eh!"


Baru saja bus berhenti di halte selanjutnya, kini Queen di buat terkejut karena Safir menarik tas slempangnya secara tiba-tiba. Benar saja, pergerakan tersebut tidak luput dari perhatian lelaki yang mungkin tertarik dengan Queen.


"Kenapa Fir?"


"Kamu berdiri di belakangku saja," ucap Safir. Setelah itu Safir meliihat ke arah lelaki yang memperhatikan Queen sejak tadi. Mereka langsung mengalihkan pandangan mereka saat mendapatkan tatapan dari Safir.


Sedangkan Queen tidak protes. Ia segera berpegangan bus agar bisa tetap aman. Sampai pada akhirnya, bus sudah sampai pada halte tujuan Queen dan Safir.


"Kamu tidak mampir ke rumah?"


"Tidak. Karena besok pagi juga aku sudah mau pulang ke Malang. Tolong jangan bilang sama Oma dan Opa ya kalau aku datang ke Jakjarta. Aku tidak enak karena tidak mampir ke rumah."


Queen mengangguk. Ia menepuk lengan tangan Safir hingga beberapa kali. Seolah Queen sedang ikut bersedih atas apa yang sedang terjadi diantara Safir dan Divya.


"Aku masih belum percaya dengan hubungan kamu dan kak Di yang berakhir seperti ini. Padahal kalian saling mencintai, tapi kenapa kalian jadi begini. Jujur aku ingin marah sama kamu karena sudah menceraikan Kak Di. Aku enggak rela kamu sakiti Kakakku. Tapi setelah dipikirkan ulang, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Pasti masalahnya serius ya, sampai kamu mengambil keputusan seperti itu?"


Safir hanya bisa diam. Mau berbicara seperti apapun masalahnya dengan Divya, tapi pada akhirnya semua berkaitan dengan Queen. Safir hanya tidak ingin Queen ikutĀ  terluka karena masalah pribadinya.


"Apapun masalah yang kamu hadapi, pasti itu sangat melukai hati kamu kan? Tapi yakinlah, apapun masalahnya, kamu pasti bisa melewati semuanya karena semua hal pasti ada solusinya. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Jangan pernah patah semangat dan berkecil hati. Kamu sudah hebat bisa melewati masalah hidup kamu."


"Terima kasih," ucap Safir pelan.


"Aku pulang sekarang ya," ucap Queen karena memang sopirya sudah datang.


"Queen."


Baru saja Queen hendak melangkah, kini ia kembali menatap Safir karena Safir meraih tangannya. "Iya."


Safir masih menunduk karena secara sadar dirinya menggenggam tangan Queen. 'Maaf,' batin hati Safir. Setelah itu Safir menatap Queen. "Hati-hati."


Deg!


Kata yang diucapkan Safir memang sangat sederhana. Tapi entah kenapa Queen melihat sorot mata Safir yang nampak berbeda. Membuat hati Queen terasa tersentuh hanya karena tatapan tersebut. Tatapan yang lebih dari saat mereka bertemu di restoran bersama Fahmi waktu itu.


'Kalau kamu seperti ini, aku akan terus salah sangka sama kamu, Fir,' gumam hati Queen.


"Ya! Kamu juga hati-hati ya?"


Setelah mengatakan itu, Queen segera memasuki mobil. Ia hanya melihat Safir sampai mobil sudah menjauhi Safir yang juga menatap mobil yang ia tumpangi.


'Apa aku boleh berharap lebih sekarang? Kenapa aku merasa ada sesuatu hal yang lain dari Safir. Tapi apa aku boleh percaya diri dengan keyakinan ku ini? Tapi ... Kak Di pasti akan terluka kalau aku seperti ini."

__ADS_1


*


"Kakak, waktunya minum obat," ucap Vian setelah mengetuk pintu kamar Divya.


__ADS_2