Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 153 Rumah Sakit


__ADS_3

Begitu sudah mendapatkan obat yang Vian tebus, Vian bergegas untuk kembali ke Villa. Sebenarnya ini bukan kali pertama Vian meninggalkan Divya dengan Art dan sopir yang datang seperti ini. Tapi Vian memang selalu khawatir sendiri jika harus meninggalkan Divya terlalu lama.


Baru saja Vian keluar dari dalam mobilnya, betapa terkejutnya Vian saat melihat sopir yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Paaakkk," panggil Vian khawatir. Ia beberapa kali menepuk tubuh sopir tersebut, tapi tetap saja belum mau sadarkan diri. "Kakaaakkk ..."


Vian berteriak karena kini pikirannya sudah tertuju pada Divya. Merasa kalau sopirnya masih bernafas dan tidak terluka sedikitpun, membuat Vian segera lari memasuki villa.


"Kak Di ..."


Teriakan Vian semakin kencang. Hatinya semakin khawatir karena saat akan menaiki anak tangga, vian melihat Art yang juga tergeletak. Tanpa perlu melihat keadaan Art tersebut, karena Vian yakin kalau Art itu masih bernafas, membuat Vian lari menuju kamar Divya.


"Kakak," panggil Vian kuat. Hatinya terasa sakit saat meliat kamar Divya yang nampak berantakan. "Kak Di," panggil Vian dengan suaranya yang terdengar bergetar. Melihat Divya yang tidak ada disana membuat Vian langsung menuju balkon. Karena pintu balkon terbuka lebar. "Kak Diii ..."


Betapa terkejutnya Vian, karena saat dirinya menunduk, Vian mendaoati tubuh Divya yang sudah tergeletak di bawah kursi dan meja. Kakinya sudah terasa lemas. Tapi Vian berusaha untuk lari cepat. Entah apa yang sudah terjadi.


"Kak Di," panggil Vian mendekat. Kini dengan jelas kedua mata Vian melihat darah yang sudah mengalir dari kepala Divya. "Kakaaakkk."


Dengan sangat kasar, Vian menyempar kursi kayu yang terbuat dari pohon jati tersebut. Dengan tubuh yang terasa lemas dan juga bergetar, tapi Vian berusaha menyadarkan diri kalau kini Divya sedang membutuhkan pertolongan.

__ADS_1


"Apa yang sudah terjadi, Kak?" tanya Vian. Ia menggendong Divya untuk memasuki mobil.


Dengan celat Vian mengemudikan mobilnya agar segera sampai rumah sakit. Sebelum itu, Vian memberikan kabar singkat dan meminta tolong pada petugas operasioanl villa disana untuk menolong sopir dan Artnya. Serat Vian juga meminta untuk mengecekkan cctv dan melaporkan kejadian ini pada polisi secepatnya.


Saat sudah di rumah sakit, Divya sudah mendapatkan pertolongan utama di ruang UGD. Vian hanya bisa duduk dengan tubuh yang lemas. Ia menunduk dan melihat tangannya yang terkena jejak darah.


"Ini semua salah aku. Coba saja tadi aku memaksa Kak Di untuk ikut, pasti ini semua tidak akan terjadi."


Vian menangis pelan. Mengingat usahanya selama dua bulan ini dan dirinya hanya tinggal berdua dengan Divya di Villa tersebut. Semua usahanya jelas membuat Vian tidak ingin mendapatkan hasil yang sia-sia. Karena tujuan akhirnya saat ini adalah membuat Divya sehat kembali dan menjalin hubungan baik dengan Queen.


"Keluarga pasien atas nama Divya," ucap salah satu petugas kesehartan.


"Ya Allah, kok belum cuci tangan toh, Mas. Ini saya mau kasih alkohil biar tangan Mas tidak terkena infeksi kalau ada yang terluka juga."


"Setelah ini saya akan cuci tangan, Sus. Bagaimana Kakak saya?"


"Dokter saat ini sedang menangani Kakaknya, Mas. Namun, karena pasien datang dengan keadaan yang tidak sadarkan diri dan sepertinya terdapat cidera di tulang leher. Hingga membuatnya kesulitan bernafas, pasien Divya harus di pindahkan keruangan khusus agar mendapatkan perawatan yang tepat. Dan nantinya pasien juga kan mendapatkan pemeriksaan rontgen karena di perkirakan kalau pasien mengalami patah tulang belakang."


"Lakukan apapun yang terbaik untuk Kakak saya ya, Sus. Apapun. Sekarang saya mau menghubungi orang tua saya dulu."

__ADS_1


"Baik kalau begitu. Yang sabar ya, Mas."


*


Prank!


Baru saja Reina selesai meeting dan kembali keruang kerjanya. Reina tidak sengaja menyenggol bingkai foto kecil yang terdapat gambar Divya, Vian, dan Queen.


"Eh!"


Meski hanya sekedar foto, tapi Reina jelas terkejut saat melihat bingkai foto terjatuh dan membuat kacanya pecah, hingga berserakan kemana-mana.


"Astaghfirullah, ada apa ini?" gumam Reina sambil mengusap dadanya. Bahkan kini degup jantung Reina bekerja cepat tanpa tahu apa alasannya.


Reina menghela nafasnya, ia duduk untuk menenangkan dirinya. Petasaan Reina tiba-tiba menjadi tidak enak.


Klek!


"Mas," siapa yang menduga kalau orang yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya adalah Hendri. Padahal biasanya Hendri akan memberi kabar dulu, setiap kali akan datang kesini.

__ADS_1


"Sayang, ikut aku sekarang juga."


__ADS_2