Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 76 Pikiran Melayang Hingga Ke Paris


__ADS_3

Acara pernikahan berjalan dengan lancar. Banyak tamu undangan yang ikut menyaksikan secara langsung acar sakral tersebut. Sampai pada akhirnya, seluruh tamu khusus mulai maju karena pemilik acara mengajak mengabadikan momen penting tersebut.


"Kak, Queen ke toilet dulu ya?" pamitnya saat baru saja Yusuf dan Nissa maju untuk mengambil foto bersama.


"Iya. Cepat kembali ke sini."


Queen hanya mengangguk saja. Ia bergegas beranjak untuk meninggalkan Vian. Padahal saat ini tujuan Queen untuk meninggalkan ruangan tersebut. Selama jalannya acara, Queen bahkan hanya terdiam saja. Matanya memang terpaku ke arah sepasang pengantin yang akan melakukan ijab kabul, tapi pikiran Queen melayang hingga ke Paris.


Queen sadar, dirinya tidak boleh lagi seperti ini. Tapi bagaimana bisa Queen memungkiri hati yang memang sangat khawatir. Sudah benar ia bisa menahan air mata agar tidak terlihat siapapun kalau ia belum bisa melupakan Safir. Hanya hatinya yang masih berada di jalan yang selama ini ia buat sendiri.


Queen memilih duduk di kursi yang ada di taman hotel tersebut. Ia merogoh ponselnya. Tanpa pikir panjang lagi, yang Queen buka saat ini adalah aplikasi galeri untuk melihat salah satu foto Safir yang ia abadikan secara diam-diam dan memang belum ada satu foto pun yang Queen hapus. Queen tau ini salah. Tidak seharusnya ia seperti ini. Tapi Queen berjanji kalau ia akan melepaskan perasaannya dengan caraya sendiri.


"Kamu sakit apa Fir?" tanyanya. Sekarang, buliran bening yang sejak tadi Queen tahan pada akhirnya luruh juga. "Maafin aku karena aku khawatir seperti ini. Bodoh sekali aku, bisa-bisanya aku kembali nangis lagi."

__ADS_1


"Wajar. Karena melupakan cinta pertama itu sangat sulit."


Queen terkejut karena secara tiba-tiba ia mendengar suara laki-laki. Dengan cepat Queen mematikan layar ponselnya kemudian Queen mengusap air matanya.


"Aris," Queen terkejut karena kini dirinya melihat keberadaan Aris.


"Boleh ikut duduk?"


Tanpa menjawab Queen segera menggeser posisi duduknya. Sekali lagi Queen mengusap ke dua matanya karena ia tidak ingin jika Aris melihatnya yang sedang patah hati. Sekalipun pada kenyataannya Aris sudah melihat semuanya.


"Ngomong apa sih kamu, Ris."


"Selama ini aku tahu kok kalau kamu menolak aku karena kamu menyukai Safir. Perasaan yang kamu miliki sendirian. Seperti aku yang menyukaimu sendirian tanpa pernah mendapatkan balasan."

__ADS_1


"Aris, tolong jangan bicara seperti ini. Hati tidak bisa di paksakan. Mau seperti apapun, aku memang tidak bisa membalas perasaan kamu. Aku harap kamu akan mendapatkan perempuan yang baik yang sangat mencintai kamu."


"Ingat Queen, dia sudah menikah. Dia sudah menjadi Kakak ipar kamu. Jangan terus memendam perasaanmu seperti ini karena itu hanya akan menyiksa batin kamu sendiri. Kamu harus ikhlas untuk melepaskannya."


"Tanpa kamu bilangpun aku tahu, Aris. Aku sedang berusaha sebisaku. Aku hanya butuh waktu."


"Kamu yakin bisa?" tanya Aris untuk memastikan.


"Harus bisa. Kalau mereka hidup bahagia karena cinta yang mereka punya, aku juga harus mendapatkan kehidupanku sendiri suatu saat nanti. Aku harus bahagia juga, entah bagaimana caranya."


"Jika waktu itu sudah tepat dan kamu bisa melupakan semuanya. Apa kamu mau memberikan aku kesempatan Queen?"


"Aris."

__ADS_1


"Satu kali saja. Tolong beri aku kesempatan. Atau kamu mau memperalat aku untuk membantumu melupakan dia. Aku bersedia Queen."


__ADS_2