Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 154 Sadarkan Diri


__ADS_3

"Kita mau kemana sih, Mas?" tanya Reina.


Sepanjang jalan. Saat mobil dikendarai sopir, Hendri masih enggan memberikan jawaban pada Reina. Dirinya sendiri saja sangat terkejut saat Vian memberikan kabar singkat terkain keadaan Divya saat ini. Hendri bahkan melarang Vian untuk memberikan kabar pada keluarga lainnya sebelum dirinya dan Reina sampai Semarang.


Reina semakin bingung dengan Perasaannya yang semakin tidak enak, karena Hendri tidak juga memberikan jawaban. Apalagi sekarang mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di bandara. Dan kini Hendri mengajak Reian untuk menaiki sebuat helikopter yang sepertinya memang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Mas."


"Sayang, kita bicara nanti. Yang penting sekarang kita sampai dulu di tempat tujuan kita. Tenang!" ucap Hendri dengan suaranya  yang lembut agar Reina bisa menahan emosinya.


"Bagaimana aku bisa tenang sih, Mas. Kalau sekarang aku jadi berpikir tentang banyak hal yang tidak-tidak. Mas enggak mendapatkan kabar yang tidak baik tentang Ayah atau Nda kan?" tuntur Reina yang masih belum siap jika sampai dirinya kehilangan Yusuf ataupun Nissa.


"Beliau baik-baik saja."


Sepanjang penerbangan, Reina memilih diam. Percuma juga rasanya meminta jawaban dari Hendri kalau suami Reina itu masih tetap diam tanpa mau memberikan informasi tujuan mereka sekarang ini. Sampai pada akhirnya, helikoter mendarat diatas sebuah gedung. Setelah itu Hendri mengajak Reina untuk segera turun dan menuju ke rumah sakit.


"Semarang?" gumam Reina saat melihat pinggiran jalan. "Mas, Vian dan Divya baik-baik saja kan?" tanya Reina menuntut. Apalagi saat dirinya mengingat kalau tadi tangannya tidak sengaja menyempar foto ketiga anak mereka.


"Kita bicara nanti ya. Kita harus segera sampai tujuan dulu agar tahu mereka bagaimana sekarang."


"Ya Allah, ada sih Mas? Kenapa kamu jadi bikin aku ketakutan seperti ini?" tanya Reina. Padahal Reina  tidak tahu apa penyebabnya. Tapi kedua mata Reina sudah terasa pedih karena ini sudah pasti berkiatan dengan kedua anaknya.


Hingga tidak lama kemudian, mobil sudah sampai di loby rumah sakit. Tubuh Reina terasa lemas saat keluar dari mobil. Pikirannya sudah mulai menduga-duga.


"Mas," Reina menggenggam tangan Hendri kuat. Kakinya terasa lemas. Entah ada masalah apa lagi sekarang. Kesehatan Divya saja belum sepenuhnya membaik. Tapi sekarang sepertinya Reina harus menghadapi ujian lagi.


"Ayo, Sayang. Divya dan Vian butuh kita."


Walau kedua kakinya terasa lemas, kini Reina mengikuti langkah kaki Hendri. Setelah mereka bertanya dimana ruang perawatan Divya. Kalau saja Reina tidak berusaha menguatkan diri, mungkin sekarang ini dirinya akan kehilangan kesadaran. Tapi Reina harus bertahan karena dirinya harus memastikan keadaan seperti apa yang sedang dialami Divya. Kenapa sampai Hendri tidak memberikan penjelasan apapun padanya sepanjang menuju ke Semarang.


"Papa ... Mama ..."


Vian langsung beranjak. Ia melangkah cepat untuk menghampiri kedua orang tuanya. Sedangkan Hendri langsung memeluk anak lelakinya itu. Hendri tahu, dan bisa merasakan kalau sejak tadi pasti Vian sudah sangat ketakutan.


"Mana Kakak kamu, Vian?" tanya Reina sambil melihat ruangan yang ada disana. Reina bingung karena yang terlihat dimatanya bukanlah ruangan perawatan biasa. Tapi ruangan perawatan khusus.


"Maafin Vian, Pa, Ma. Vian enggak bisa jaga Kak Di dengan baik. Sekarang Kak Di sedang dirawat disana," terang Vian sambil menunjuk salah satu ruangan.

__ADS_1


"Ma," Hendri langsung menahan punggung Reina karena seperti dugaan Hendri kalau Reina akan kembali syok menerima kabar buruk ini.


"Apa yang sudah terjadi, Vian?" tanya Reina sambil menangis. Reina segera mendekati ruangan khusus tersebut, "Ya Allah, Diii ..."


Lemas rasanya tubuh Reina. Karena kini dirinya hanya bisa  melihat Divya yang tergeletak didalam ruang perawatan. Belum lagi beberapa alat kesehatan yang menempel pada tubun Divya. Membuat tubuh Reina terasa lemas. Tapi sebisa  mungkin Reina harus tetap muat. Karena Reina ingin mendengarkan keterangan Vian tentang apa yang sudah terjadi.


Sungguh, Reina masih trauma dengan hal-hal yang berkaitan denfan rumah sakit. Terkait Yusuf yang pernah masuk ruangan seperti ini.


"Obat Kak Di sudah habis, Ma. Jadi tadi Vian pergi untuk tebus obat. Karena Kak Di enggak mau Vian ajak, jadi Vian tinggal saja Kak Di dengan ..."


Tubuh Reina terasa lemas. Apalagi saat Reina harus mengetahui kenyataan bahwa anaknya itu diperkirakan mendapatkan tindakan pelecehan. Di duga kalau Divya akan menjadi korban pemer**kosaan.


''Ya Allah, Maaasss."


Entah cobaan apalagi yang harus dihadapi oleh Reina dan keluarganya. Kalau saja Reina tidak ingat bahwa dirinya harus sehat karena ingin melihat anak pertamanya kembali pulih, mungkin saat ini Reina sudah kembali kehilangan kesadaran.


Hendri sendiri sudah geram dengan semua ini. Kalau saja Reina bisa bertahan akan kekuatan drinya sendiri, Hendri akan memilih untuk pergi dari sini dan mencari tahu siapa pelakunya.


"Maafin Vian, Ma, Pa. Ini semua salah Vian. kalau saja tadi Vian ajak paksa Kak Di. Ini semua pasti tidak akan pernah terjadi. Tolong maafin Vian."


"Sudah, ini semua musibah. Ini bukan salah Vian. Sekarang kita menunggu saja kabar dari polisi bagaimana," ucap Hendri sambil menepuk punggung Vian.


"Karena Mama dan Papa sudah ada disini, Vian mau kembali ke villa sebentar. Vian harus ikut campur dalam hal ini. Karena Vian tadi meminta orang suruhan untuk mengintai semuanya di area Villa.


Setelah mendapatkan izin dari Hendri dan Reina, Vian segera meninggalkan rumah sakit. Ia segera kembali ke Villa untuk melihat rekaman cctv.


"Di waktu kejadian, lelaki ini yang kami dapatka mendekati area villa tempat Mas Vian tinggal," ucap petugas operasional villa.


"Coba cari di bagian cctv yang lebih jelas,"


"Sebentar, Mas. Sejak tadi juga saya sedang mencari kemana perginya lelaki tersebut setelah dari villanya Mas Vian."


Vian menghela nafasnya secara kasar. Rasanya dirinya sudah tidak sabaran lagi untuk mendapatkan informasi yag tepat.


"Sedangkan penyewa Vila di area terdekat itu atas nama perempuan semuanya, Mas."


"Ini," ucap petugas yang lain. "Ini yang lebih jelas, Mas. Bagaimana?" tayanya saat Vian beralih mendekatinya.

__ADS_1


Vian sampai tidak berkedip karena dirinya tidak menyangka melihat wajah Dafa di dalam rekaman cctv. Lelaki yang menggunakan baju yang sama dengan lelaki yang nampak melarikan diri dari Villa tempatnya.


Padahal, jika mengetahui keterangan dari Divya, Dafa sepertinya memiliki perasaan cinta yang tulus pada Divya.


Sekilas harapan Vian kalau suatu saat nanti Divya bisa menjalin kedekatan dengan Dafa lebih jauh lagi. Vian pikir, akan lebih baik kalau Divya dicintai oleh lelaki dengan tulus. Namun, sepertinya Vian sudah salah berharap.


"Kalian cari keberadaan Dafa sekarng juga. Aku akan mengambil ponsel Kak Di dulu."


Jalan satu-satunya sekarang ini adalah melacak keberadaan Dafa melalui nomor ponsel Dafa. Beruntung keluarganya memiliki banyak koneksi untuk melakukan semuanya agar segera mengetahui keberadaan Dafa. Setelah mengambil ponsel Divya dari kamarnya, Vian kembali mencari bukti. Siapa tahu ada yang tertinggal di kamar Divya.


Bersama dengan polisi, Vian dan orang-orang suruhannya terus melaju menuju dimana keberadaan Dafa saat ini. Sangat beruntung karena nomor ponsel Dafa aktif sehingga mudah untuk dilacak. Tidak perduli malam yang sudah semaki larut. Vian dan yang lainnya masih menuju tempat lokasi Dafa.


"Bukankah lokasinya disini?" tanya Vian karena setelah melajukan mobil hingga beberapa jam, kini semuanya mendapatkan titik yang mereka dapatkan.


"Benar, Mas," polisi segera menekan bel sebuah rumah hunian. Hingga beberapa kali, karena yang tingga disana tidak juga membukakan pintu.


Sayangnya, sang pemilik rumah mengaku tidak mengenal siapa Dafa. Mereka justru terkejut karena didatangai polisi di tengah malam seperti ini. Bahkan, pemilik rumah juga memperbolehkan mereka untuk masuk guna menggeledah jika memang mereka tidak percaya.


Karena dipersilhkan, vian dan polisi benar-benar menggeledah rumah tersebut. Sedangkan Vian memilih keluar lebih dulu dan meminta maaf karena membuat pemilik rumah merasa tidak nyaman. Vian memilih keluar dari dalam rumah lebih dulu. Ia mengobrol dengan orang-orangnya untuk melacak sekali lagi orang yang bekerja dibelakang mereka.


Sampai pada akhirnya, Vian melihat sebuah mobil yang melintas dengan cukup kencang. Vian yang jelas melihat nomor polisi mobil itu, tentu segera mengajak anak buahnya untuk mengejar mobil itu. Sedangkan polisi juga segera mengikuti Vian dan yang lainnya.


Karena waktu memang sudah larut malam. Sedangkan jalan yang dipilih mobil yang diikuti Vian memilih jalanan sepi, membuat semua mobil melaju dengan kencang.


Sudah hampir 2 jam, Vian terus melajukan mobilnya. Seolah dirinya sudah tidak perduli lagi kalaupun haru mati malam ini. Karena memiliki celah, Vian langsung menambah kecepatan.


BRAK!


*


"Maaf, Pak Hendri dan Ibu Reina, pasien Divya sudah sadarkan diri dan saat ini sedang mendapatkan pemeriksaan dari dokter."


Sejak tadi, Hendri dan Reina hanya terus duduk di kursi tunggu. Bersama dengan dua orag penjaga lainnya yang memiliki keluarga yang dirawat satu ruangan dengan Divya. Keduanya sedikit lega karena kini mereka sudah mendengar kalau Divya sudah sadarkan diri.


"Alhamdulillah. Lalu bagaimana keadaan anak kami Sus?"


"Apa keluarga yang bernama Queen ada disini?"

__ADS_1


__ADS_2