
"Kakak mau kemana?" baru saja Queen keluar dari kamarnya, kini dirinya melihat Vian yang terlihat akan keluar rumah.
"Eh, kamu sudah bangun Queen?" padahal Vian sudah bergerak cepat dan mengira kalau adiknya tidak akan bangun secepat ini. Siapa yang menduga kalau Queen sudah terjaga dan memergoki dirinya. "Kakak mau ke pasar. Beli keperluan untuk jualan nanti sore."
"Ikut. Queen sholat sebentar saja," ucapnya yang langsung berlalu ke kamar mandi.
Vian hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Melihat betapa semangatnya Queen justru membuat Vian semakin tidak tega. Ia sama sekali tidak berniat membuatĀ adiknya tahu bagaimana ia berusaha bertahan hidup selama ini, sejak memutuskan meninggalkan rumah. Tapi mau bagaimana lagi. Mana mungkin dirinya berhenti berjualan sedangkan dirinya juga butuh hidup dan juga butuh untuk memiliki tabungan.
"Ayo," ajak Queen yang sudah kembali keluar kamar. "Lama ya Kak?"
"Enggak kok. Ayo," ajak Vian.
Queen ikut keluar rumah. Ia kembali di kejutkan karena kini Vian mengambil salah satu motor yang terparkir di depan kontrakan. "Itu motor siapa Kak?"
"Punya Kakak lah. Jarang-jarang kan kamu kemana-mana naik motor? Ayo," ajak Vian sambil menggunakan pelindung kepala. "Semoga saja kita menuju pasar tidak bertemu polisi. Nanti di sana baru kita beli halm."
"Iya Kak."
Kini Vian sudah mengendarai motor yang ia beli sejak satu tahun yang lalu. Sekalipun motor bekas, yang terpenting bagi Vian pajaknyaa masih hdup dan masih berfungsi dengan baik untuk menunjang dirinya melakukan pekerjaan setiap harinya.
Ada rasa senang saat Queen menikmati suasana saat ini. Pengalaman baru yang akan ia dapatkan selama ikut hidup bersama dengan Vian. Tapi tidak bisa di pungkiri kalau kini kedua mata Queen terasa perih. Karena merasa bersalah dengan semua keluarga akibat kesalahan masa lalu, apakah Vian harus membayarnya dengan cara seperti ini. Padahal orang tua mereka tidak benar-benar inginkan Vian pergi dari rumah. Tapi mau bagaimana lagi jika memang ini keputusan yang mungkin menurut Vian baik.
"Kenapa?" tanya Vian saat tangan Queen melingkar di pinggang Vian dengan sangat erat.
"Kenapa Kakak kemarin tidak meminta Queen untuk bawain Kakak ijazah? Atau setidaknya Kakak minta bawakan sertifikat penghargaan karena Kakak menguasai bahasa asing atau yang lainnya. Agar Kakak bisa mendapatkna pekerjaan yang jauh lebih baik. Queen kira selama ini Kakak bekerja dengan nyaman."
__ADS_1
"Kakak nyaman dengan pekerjaan Kakak ini. Meski hanya menjadi tukang gorengan yang penting tidak ada yang mengatur waktu Kakak. Kakak juga memang tidak ingin bekerja di bawah aturan orang lain. Ya meskipun sekarang Kakak masih memiliki pekerjaan lain yang masih Kakak lakukan."
"Pekerjaan lain?" Queen segera turun karena mereka sudah sampai pasar.
"Nanti juga Queen akan tahu. Sekarang kita belanja dulu."
Walau baru bisa di hitung dengan jari Queen memasuki pasar, tapi kini dirinya terus melangkah cepat mengikuti arah tujuan Vian. Cukup banyak yang Vian beli. Ada tempe, tahu, berbagai macam sayuran untuk isian tahu dan juga sayuran untuk membuat gorengan bakwan. Ada pisang dan jangan lupa bumbu yang Vian butuhkan, serta bahan lainnya.
"Sini biar Kakak saja yang bawa," ucap Vian yang ingin meraih bahan belanjaan yang Queen bawa.
"Kakak sudah membawa sebanyak itu. Ini biar Queen bawakan."
Setelah Vian membelikan helm untuk Queen, mereka segera pulang. Begitu sampai rumah, Vian segera membersihkan beberapa bumbu agar nanti ia tinggal menggunakan saja. Karena memang ia berjualan hanya saat sore hari hingga jualan habis.
"Ish, suka sekali nyuruh Queen istirahat. Melakukan pekerjaan bersama itu akan mempercepat semuanya."
"Ya ya ya."
Mereka membersihkan bumbu secukupnya saja. Karena setelah itu, mereka segera sarapan dengan nasi uduk yang telah mereka beli tadi. Hingga saat jam menunjukkan pukul 08.00 wib. Kini saatnya Vian untuk pergi ke tempat kerjanya yang lain. Tentunya Queen tidak mau di tinggal. Gadis tersebut harus ikut kemanapun Vian pergi.
"Di sini?" tanya Queen saat motor yang di kendalikan Vian sudah sampai di sebuah carwash.
"Iya. Saat Kakak sampai di Semarang dulu, Kakak bekerja di sini. Ini milik teman Kakak. Jadi Kakak bisa bekerja sesuka hati saat sudah mulai jualan."
"Owhhh ..." Queen hanya menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Hanya saja teman Kakak itu masih di luar negeri. Masih lanjut S2. Ayo."
"Hai brooo ..." sapa salah satu teman Vian yang sedang mencuci motor.
"Hai."
"Siapa? Pacar?" tanyanya sambil menggosok motor agar terlihat bersih dan kinclong.
"Adik, aku."
"Yang benar saja? Cantik kali adik kamu, Vian. Namaku Juli. Kepanjangan Julian," ucapnya memperkenalkan diri pada Queen. tapi tanganya terus saja bekerja.
"Jul, Jul. Julian dari Hongkong. Jangan di tanggepin anak itu, Queen. Sudah, kamu duduk di sana." perintah Vian agar adiknya tidak terus-terusan di goda.
Queen tentu tersenyum ramah. Ia menganggukan kepalanya pelan seolah membalas perkenalan Juli. "Nama aku Queen, Kak."
"Owh. Queen ya? Mau jadi ratu di hati aku enggak?" tanyanya asal bicara.
"Queen. Sawan kamu nanti bicara sama dia. Ayo ke sana," ajak Vian sambil menarik tangan Queen.
Car wash tersebut buka 24 jam. Karena memang lokasunya yang berada di area perkampusan, membuat tempat pencucian kendaraan itu cukup ramai kendaraan yang mengantri untuk di bersihkan.
Beberapa orang yang sedang bekerja di sana. Vian tentu memperkenalkan adiknya dengan teman kerja lainnya. Setelah itu barulah ia menggunakan pelindung diri agar baju yang ia gunakan tidak basah.
"Kamu tunggu sini saja ya?" ucap Vian memberikan pesan.
__ADS_1