Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 104 Jodoh Adalah Cerminan Diri Sendiri


__ADS_3

Safir hanya bisa menunduk. Sadar diri kalau semua luka yang Queen rasakan saat ini adalah karena dirinya. Sadar diri kalau hatinya sendiri terluka karena keputusan yang sudah dirinya buat sendiri. Sadar atas perasaan kagum yang Safir miliki untuk Divya. Perempuan cantik, tinggi, dan juga se*ksi. Kulit Divya yang dominan sawo matang benar-benar membuat paduan wajah Divya yang menjadi cantik dan juga manis.


Kalau di ingat lagi keawal pernikahan, bukan niat hati Safir yang ingin mendustai Tuhan. Disaat hatinya di berikan jawaban yang tepat. Ingin rasanya Safir menuruti kata hatinya.


Safir bisa saja bersikap egois untuk menyelamatkan perasaannya sendiri. Tapi setelah itu, apakah ada kemungkinan perempuan yang Safir cintai berkenan bersama dengan dirinya. Setelah Safir dengan tanpa sadar sudah menyakiti Queen, lalu menyakiti Divya yang juga mencintai dirinya. Belum lagi dua keluarga yang sudah pasti akan menanggung malu dan juga kecewa di depan banyak orang jika Safir mengikuti kata hatinya.


Dalam sekejap saja, Safir sudah harus mempertimbangkan semuanya. Mengingat resiko yang sudah kemungkinan besar akan terjadi. Terlebih lagi Zantisya yang sudah mengingatkannya. Ruby yang memintanya untuk berpikir ulang. Dan juga Reina yang mencoba untuk menelisik hatinya. Tapi dengan sangat percaya dirinya, Safir tetap memantapkan hati dan akan bertanggung jawab dengan semuanya.


Safir mengaku salah. Mungkin semua orang akan mengutuk dirinya yang jadi menyakiti banyak orang seperti ini. Tapi, hanya ini yang menjadi keputusan Safir dan yang menurut Safir benar. Yeah, kata benar yang ternyata belum tentu tepat. Tapi memang beginilah hidup, akan selalu banyak pilihan dan perbandingan.


"Tunggu apa lagi?" ucap Ruby saat menoleh kebelakang dan melihat Safir yang menunduk diam karena terpaku di tempat.


Safir menghela nafasnya dalam-dalam. Benar kata Ruby. Dirinya harus tetap terlihat biasa saja agar dirinya tidak meyaiti Queen lagi.


Dengan kedatangannya kesini saja sudah pasti membuat Queen kembali terluka. Lalu bagaimana jadinya jika kejujuran hati Safir terungkap. Kalau boleh memilih dan mengulang waktu, maka Safir akan pasti menolak ajakan Divya datang ke Jakarta. Atau setidaknya secara diam-diam dirinya memberikan kabar pada Ruby saat akan datang kesini. Penyesalan memang selalu di akhir. Karena kalau di awal itu namanya pengisian formulir.


"Iya Kak."


Queen yang lebih dulu memasuki rumah, tentunya ia menuju ke ruangan keluarga dimana Oma dan Opanya berada, bersaman dengan ketiga sepupu yang jadi hiburan Queen saat di rumah.

__ADS_1


"Opa, Oma. Queen pulang," ucapnya sambil menebar senyuman pada Yusuf dan Nissa.


"Queen," gumam Nissa dan Yusuf saat cucu mereka usai mencium punggung tangan mereka.


Yusuf dan Nissa yang tahu keberadaan Ruby di ambang pintu dan langsung lari begitu saja, membuat keduanya berharap agar Ruby bisa menahan Queen untuk tidak pulang ke rumah. Keduanya jelas tidak ingin jika Queen kembali sakit hati karena kedatangan Queen di sini untuk menengakkan diri dan melanjutkan pendidikan.


Perkiraan Yusuf dan Nissa, yang biasanya datang ke Jakarta itu adalah Reina dan Hendri. Tapi sekarang jadi Divya dan juga Safir.


"Queen," gumam Divya yang terkejut karena melihat keberadaan Queen. Untuk sesaat, Divya terdiam karena memikirkan keadaan. Tidak lama kemudian, Divya beranjak untuk mendekati adiknya tersebut. "Queen, bukannya kamu kuliah di Australia? Kenapa jadi di sini?" tanya Divya yang jadi sangat ingin tahu.


"Kakak," sebelum menanggapi ucapan Divya, Queen segera memeluk Divya terlebih dahulu. Bagaimanapun keadaannya, tidak bisa di pungkiri kalau Queen sangat merindukan kakak perempuannya tersebut. "Kakak apa kabar?"


"Awalnya memang Queen mau kuliah di sana, tapi karena Queen dan Maira punya sebuah janji, jadi Queen memutuskan untuk kuliah di sini. Lebih enak di sini, dekat sama Oma dan Opa dan juga Tante sekaligus sahabat Queen. Terutama dekat dengan tiga bocil usil itu," terang Queen sambil menunjuk tiga balita yang sepertinya sedang rebutan krayon.


Divya tersenyum samar. Tapi tangannya mencubit ujung bajunya sendiri. "Kamu benar, Queen. Untuk apa kuliah jauh-jauh karena memang enakkan di sini. Padahal tidak ada salahnya juga sebenarnya mencari pengalaman di luar negeri."


"Kakak benar. Mungkin nanti saja saat Queen lanjut S3."


"Masih mau lanjut S3? Kakak kira setelah lulus S2 kamu mau menikah."

__ADS_1


Queen yang awalnya tersenyum tulus, kini jadi berubah canggung. Pernyataan Divya memang ada benarnya. Karena ketika Queen lulus S2, usianya sudah pas untuk menikah. Tapi masalahnya sekarang ini Queen jadi belum memiliki rancangan pernikahan, karena semua yang sudah pernah Queen bayangkan sudah lebur bersama kisah yang sudah tidak mungkin untuk Queen miliki.


"Emmm soal itu ..."


"Di, ajak Safir ke kamar yang mau kalian tempati. Setelah penerbangan, Oma yakin kalian pasti sudah sangat lelah," ucap Nissa yang sengaja memutus perbincangan kedua cucunya tersebut.


Safir yang sejak tadi berdiri di ambang pintu bersama dengan Ruby, justru tidak menyangka dengan segala ucapan Divya. Bukan hanya Safir, karena Ruby juga merasakan hal yang sama.


'Ini aneh. Apa Divya memang jodohku, karena tabiatnya juga sama sepertiku? Tidak peka dengan perasaan Queen. Tapi merekakan kakak dan adik. Kak By saja lebih tahu perasaanku ketimbang aku yang bodoh ini. Apakah Divya juga? Atau ...' gumaman hati Safir mengambang karena memikirkan banyak hal. 'Ah, mungkin benar. Karena jodoh adalah cerminan diri sendiri,' lanjut kata hati Safir. Ia tersenyum miris karena mengingat perangainya sendiri.


"Baik, Oma."


"Oh iya, Kakak kesini karena pekerjaan atau karena ingin liburan?" tanya Queen saat Divya belum beranjak. Sedangkan yang lainnya juga jadi penasaran.


"Karena urusan pekerjaan sekaligus honeymoon tipis-tipis. Kamu tahu sendirilah Queen, acara kami di Paris tidak berjalan lancar karena Safir sakit," terangnya secara gamblang. Divya menahan diri karena itu adalah kesalahannya.


"Owh, have fun ya, Kak."


"Terima kasih, Queen," ucap Divya sambil mengusap pipi lembut Queen.

__ADS_1


Sebelum ikut ke atas, tentunya Safir menyapa Nissa dan Yusuf terlebih dahulu. Setelah itu, Safir menghampiri ketiga keponakannya yang begitu menggemaskan. Untuk sesaat, Safir jadi berpikir ingin memiliki anak kembar juga. Tapi bagaimana caranya, kalau dirinya saja jadi lelaki begitu lemah untuk mengga**gahi Divya. Yassalam Fiiirrr ...


__ADS_2