Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 55 Menunggu Safir


__ADS_3

"Kamar Non Divya ada di atas, Mas. Di deretan kiri, pintu nomor dua. Nah kalau yang nomor satu itu kamarnya Mas Vian. Terus kalau sebelah kanan nomor dua itu kamar Non Queen. Lah depan kamar Mas Vian itu biasanya digunakan untuk saudara yang menginap di sini, Mas," jawabnya terlalu lengkap.


Safir justru pusing mendengarkan penuturan Art tersebut. Padahal dirinya hanya perlu mengetahui di mana kamar Divya saja. Kenapa semua kamar di jelaskan satu persatu.


"Ya sudah, terima kasih ya Mbak," ucap Safir kemudian beranjak dari sana.


Rasanya lelah sekali. Semalam dirinya kurang tidur, dan rencana jual beli tanah juga gagal total. Yang ada di pikiran Safir saat ini adalah dirinya harus istirahat cukup untuk merelaksasi otaknya yang terasa lelah.


"Kamar nomor dua kan?" gumam Safir sambil berdiri di antara dua pintu kamar yang saling berhadapan. Tanpa pikir panjang lagi, Safir langsung memasuki kamar tersebut.


Baru saja masuk, Safir sudah di suguhkan dengan aroma ruangan yang begitu manis. Ia meletakkan begitu saja tas jinjing yang berisi pakaiannya. Aroma kamar benar-benar mampu menghipnotis Safir. Belum lagi cahaya remang-remang yang bermodalkan terpaan dari jendela kaca yang tertutup. Tanpa pikir panjang lagi, Safir segera mendaratkan tubuhnya di atas ranjang. Memeluk salah satu bantal guling ya ada di sana.


"Wanginya sangat familiar," gumam Safir. Ia tidak ingin memikiran apapun lagi sekarang. Safir yakin, di luar sana Divya akan aman karena pergi dengan Opa dan Oma-nya. Yang mendominasi pikiran Safir adalah tidur dan tidur. Berharap setelah bangun nanti, Safir sudah bisa mengabaikan kegagalan transaksi jual beli tanah hari ini.


*


...Kamu sudah pulang?...


...Aku sedang di rumah Om Adam. Aku rindu sama Shanum, Shaka, dan Shaki jadi aku ikut ke sini....


...Fir....

__ADS_1


...Safiiirrr....


...Kalau kamu sudah mau pulang, kabarin aku ya? Aku juga pasti akan pulang....


Itulah deretan pesan yang di kirimkan Divya setiap 5 menit sekali. Divya merasa aneh kenapa Safir tidak juga membaca pesannya.


"Apa pekerjaannya belum selesai ya?" gumam Divya.


"Kenapa Kak?"  tanya Ruby saat menghampiri Divya yang nampak resah sendiri.


"Ini loh By, Safir. Sejak tadi aku WA kok tidak membalas pesanku ya?"


"Mungkin urusannya belum selesai, Kak."


"Iya Shaki."


Grep!


Ruby langsung menggendong anaknya yang baru saja memeluk kedua kakinya. "Ada apa?"


"Shaki mau ituuu ..." Tunjuknya ke arah Shanum yang entah sedang mainan apa.

__ADS_1


"Memangnya Shanum mainan apa?" tanya Ruby sambil mendekati Shanum yang sepertinya sedang asik dengan buku gambar.


Divya hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia merasa bingung karena akhir-akhir ini Safir selalu tidak tepat waktu saat membalas pesan darinya. Padahal dulu Safir tidak seperti ini.


Merasa kalau rindunya sudah terobati dan sudah puas bermain dengan Shanum, akhirnya Divya memilih untuk pulang saja. Ia berpamitan dengan semua orang dan segera memasuki mobil yang di kemudikan Sopir. Sepertinya menunggu Safir di rumah akan lebih baik.


Begitu sampai rumah, Divya langsung menuju kamarnya. Ia membersihkan diri terlebih dahulu barulah Divya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memainkan ponselnya sambil menunggu balasan pesan dari Safir.


Jarum jam terus berputar. Satu jam sudah berlalu. Divya langsung keluar kamar dan menuju ke ruang makan karena sudah bisa di pastikan kalau orang tuanya juga sudah ada di sana.


"Loh, Safir mana?" tanya Reina karena merasa heran melihat anaknya yang datang seorang diri.


"Safir belum pulang, Ma," jawabnya dengan air muka yang nampak tidak bersahabat.


"Apa mengurus jual beli tanah sampai semalam ini?" kini giliran Hendri yang bertanya.


"Entahlah, Pa. Sudah Divya WA, telpon juga. Tapi Safir enggak terima panggilan dari Divya."


Art yang tadi berpapasan dengan Safir itu jelas terkejut saat mendengar obrolan majikannya. Kenapa Divya bilang kalau Safir tidak ada di rumah. Sedangkan ia sendiri yang memberi tahu Safir di mana letak kamar Divya.


"Maaf, Bapak, Ibu, dan Non Divya. Tapi Mas Safir tadi sudah pulang. Saya sendiri yang memberi tahu Mas Safir di mana kamar Non Divya."

__ADS_1


Deg!


__ADS_2