
Aris jalan berdampingan dengan Queen. Ia melirik ke atas panggung. Menyadari kalau Safir juga melirik ke arah mereka. Sejak tadi, mereka berdua memang berbincang tidak begitu jauh dari pelaminan. Membuat Aris dengan jelas kalau sejak tadi Safir terus
melihat ke arah mereka berdua.
"Fir, aku sama Queen mau minta foto bersama boleh kan?" tanyanya saat sudah berada di dekat sepasang mempelai pengantin.
"Boleh," jawab Safir singkat. Seperti biasanya, suara Safir akan tidak enak di dengar saat sedang berhadapan dengan Aris.
"Tentu saja boleh, karena sejak tadi pagi juga Queen belum berfoto bersama kami," suara Divya bahkan terdengar sangat bahagia dengan air muka yang nampak berseri.
"Wah, benarkah? Berarti aku orang yang paling beruntung dong karena sudah mengajak Queen ke sini?" Aris memasang wajah senang dan begitu antusias.
"Mau mengobrol atau mau foto? Katanya tadi ingin cepat foto karena ingin cepat ketularan menikah," sengaja sekali Queen berucap seperti itu. Ia seolah ingin menunjukkan kalau dirinya bisa akrab dengan siapa saja, selain Safir.
"Aku maunya sama kamu, bagaimana?"
Safir yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, membuatnya terbakar api cemburu yang sudah sulit ia cegah. Bahkan kini, demi membuat mulutnya tidak berucap kata-akat pada siapapun yang biasanya mendekati Queen, membuat kedua telinga Safir mulai memerah.
"Aris," Queen berharap kalau Aris tidak sembarang bicara.
__ADS_1
"Aris? Jadi kamu Aris yang memberikan buket bunga sama Queen saat wisuda?" tanya Divya semakin antusias.
"Iya. Apa dia tidak mengatakan kalau itu dariku?"
"Tidak. Aku doakan kalian berjodoh. Siapa yang tahu kan?" ucap Divya dengan senyuman yang ia tebar untuk Queen dan Aris.
"Katanya doa pengantin baru itu selalu di kabulkan. Aku aaminkan doamu barusan, Divya."
"Bukankah tadi kalain datang ke sini untuk berfoto?" tanya Safir dengan suara acuhnya yang jelas menahan amarah. Bahkan volume suara Safir terdengar sedang menyentak. Padahal sebisa mungkin dirinya menahan diri, nyatanya sangat sulit untuk Safir. Karena saat ini Queen jelas di depan matanya dan bersama lelaki lain.
"Kamu marah, Fir?" Divya jelas terkejut dengan reaksi wajah dan suara Safir barusan.
Kini Divya menggandeng tangan Safir. Queen ada di samping Divya. Sedangkan Aris ada di samping Safir.
"Cemburu?" tanya Aris singkat.
Safir mengepalkan tangannya kuat. Hatinya sudah terasa panas bersamaan dengan detak jantung yang di buat bekerja cepat. Tapi Safir harus bisa menahan amarahnya. Safir cukup sadar diri kalau rasa ini tidak pantas ia tunjukkan lagi. Sadar kalau semua sudah terlambat. Tapi ini benar-benar menyiksa hati.
"Maksudmu?"
__ADS_1
Aris tersenyum samar. Tapi tatapannya terarah pada fotografer yang bertugas. "Bagaimana rasanya menyadari perasaan yang tidak kamu sadari selama ini? Sekarang aku jadi merasa bebas untuk mendekati Queen karena kamu sudah tidak bisa mengekangnya lagi."
Ucapan Aris seolah sedang menuang minyak ke dalam api yang sedang berkobar. Membuat sulutan api menjadi semakin membara dan sulit untuk di padamkan. Kalau saja Safir tidak sadar diri dengan posisinya, mungkin saat ini dirinya sudah memukul Aris dan membawa Queen turun dari atas pelaminan dan menyembunyikan gadis tersebut agar tidak menjadi pandangan banyak orang.
"Kamu pintar dalam pendidikan dan juga bisnis. Tapi kurangmu hanya satu. Tidak peka dengan perasaan diri sendiri. Aku harap kamu bisa hidup bahagia," ucap Aris pelan lalu beranjak dari sana.
Safir menunduk. Menarik nafasnya dalam-dalam agar apa yang menyala sejak tadi segera padam. Ia memejamkan kedua matanya. Hatinya mengutarakan doa. Berharap diri yang bisa sadar dengan posisinya saat ini yang sudah tidak pantas untuk mencintai Queen. 'Aku sungguh minta maaf, sama kamu Queen,' gumam hati Safir.
"Mau kemana?" Divya menahan tangan Queen yang akan turun dari atas pelaminan bersama dengan Aris. "Ayo foto bertiga dan juga berdua. Sejak tadi pagi kita belum foto bersama. Aris, aku pinjam adikku dulu ya?"
Queen menatap Divya dan Safir bergantian. Jujur, Queen ingin menolak. Tapi mana mungkin ini ia lakukan. Hingga kini, Queen sudah berdiri di antara Divya dan Safir. Sedangkan Safir, sejak tadi masih saja menunduk.
'Kenapa aku sebodoh ini, Queen? Ternyata sangat menyakitkan. Rasa cemburu yang sekarang aku sadari. Aku sungguh minta maaf sama kamu, Queen. Sungguh, aku benar-benar minta maaf. Seandainya aku mendengarkan saat semua orang memberiku nasehat. Tapi sekarang aku harus bertanggung jawab atas semua pilihan yang aku buat selama ini. Tolong maafkan aku,' ucap hati Safir.
"Kamu bicara sesuatu?" sejak tadi, Queen seperti mendengar Safir bicara, Tapi entah apa. Awalnya Queen ingin abai, tapi entah kenapa kini dirinya menoleh menatap Safir karena penasaran.
"Hah!" Safir terkejut. Apa mungkin Queen mendengar keluhan hatinya. Tapi mana mungkin. Dan kini justru Safir membalas tatapan Queen.
Cekrek!!!
__ADS_1