Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 60 Pesan dari Queen


__ADS_3

Padahal Vian sudah meminta Queen untuk tidak mengikutinya, tapi siapa yang menduga jika kini Queen ingin ikut kemana Vian pergi. Mungkin karena ini adalah tempat baru untuk Queen. Maka wajar jika Queen merasa takut jika harus seorang diri.


"Siapa suruh ikut. Capekkan?" bukannya perihatin dengan adiknya yang sejak tadi menepuk kakinya, tapi kini Vian justru terdengar seperti sedang mengejek Queen.


"Kalau Queen berani juga pasti Queen milih di rumah saja Kak. Lagian juga Kakak tadi bilang dekat, tapi ini itu jauh banget loh Kak," padahal biasanya keliling kandang dengan Safir saja Queen tidak mengeluh walau selama apapun. Bisa-bisanya Queen bersikap manja seperti ini saat bersama dengan Vian.


"Jauh apanya? kita jalan belum ada sepuluh menit Queen. Kamu ini kaya enggak pernah jalan kaki saja. Jadi ini kita mau makan apa? Di sana ada orang jual sate. Yang itu nasi goreng. Yang itu pecel lele. Yang mana?" tanya Vian sabil menunjuk tempat makan satu persatu


Hingga pada akhirnya, keduanya memutuskan pilihan. Queen membeli pecel ayam. Sedangkan Vian membeli pecel lele. Tidak lama mereka menunggu pesanan di sediakan. Karena kini keduanya nampak hikmat menikmati makanan pesanan mereka masing-masing. Terlihat sekali kalau mereka berdua sedang kelaparan karena keduanya makan dengan sangat lahap.


"Ini nanti sampai kontrakan Queen lapar lagi Kak," ucapnya saat mereka sudah menuju pulang.


"Mau aku bungkusin?" tawar Vian. Padahal saat ini mereka sudah menjauhi tempat makanan yang mereka beli tadi.

__ADS_1


"Tidak mau. Gemuk nanti Queen kalau terlalu banyak makan."


"Gemuk dari mana? Badan kurus kering kerontang seperti di rumah tidak di beri makan begitu, bisa-bisanya takut gemuk."


"Ejek saja terus," ucap Queen sambil mendahului langkah kaki Vian.


"Hei, mau kemana?" Vian yang awalnya tidak enak hati karena takut adiknay itu marah, kini dirinya jadi terkekeh karena Queen jalan sampai melewati gang menuju rumah kontrakan mereka.


"Haiiisss ... Kakak sih, kenapa enggak kasih tahu Queen kalau sudah waktunya belok," protesnya lagi. Bahkan kini Queen seperti anak kecil yang sedang kesal dengan Vian. Karena Queen berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Meski tubuh sudah terasa lelah. Rasa kantuk sudah mendera. Tapi Queen masih saja kesulitan tidur. Ia hanya menatap langit-langit ruang kamar yang gelap gulita. Terpaksa Queen tidur dengan keadaan seperti ini karena Vian memang tidak memiliki lampu temaram.


"Mikir apa sih aku? Ayo tidur. Jangan memikirkan hal-hal yang sudah tidak bisa di harapkan lagi. Sekarang kamu sudah bersama dengan Kakakmu, Queen. Nikmati waktu yang ada, setelah itu ayo kita lanjut kuliah," ucap Queen mengajak dirinya bicara seorang diri. Memperingati diri agar kuat dengan tujuan yang ingin Queen capai. Hingga tidak lama kemudian, Queen terlelep terbuai mimpi.

__ADS_1


*


Esok paginya, semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Sejak pagi Reina sudah bangun. Bukan untuk mengisi waktunya untuk membuatkan menu masakan yang ingin Reina suguhkan. Tapi Reina hanya terus memandang ponselnya. Sesuai dengan perkiraan Reina. Seharusnya Queen saat ini sudah memberikan kabar padanya kalau sudah sampai di Australia.


Dreeettt ... Dreeettt ...


Reina yang baru saja mengambilkan lauk untuk Hendri, ia segera meletalkkan begitu saja mangkuk yang ia pegang. Ia harus segera mengetahui siapa yang kini sedang mengiriminya pesan.


...Selamat pagi Mama. Semalam Queen sudah sampai. Maaf karena Queen baru memberi kabar. Oh iya, untuk beberapa hari ini, maaf jika Queen tidak setiap saat memberikan kabar pada Mama. Queen ingin liburan kemanapun, selama di sini. Queen harap, Mama memaklumi. Queen janji kalau Queen akan jaga diri baik-baik. Jangan khawatir ya Ma. Salam sayang untuk Mama dan Papa. Emmmuuuaaahhh...


"Queen, sudah kasih kabar Mas," ucap Reina memberi tahu Hendri. "Queen baru memberi tahu kita kalau sudah datang sejak semalam. Mungkin karena baru pagi ini dia membeli kartu ponselnya yang baru."


"Syukurlah. Biarkan saja dia menikmati waktu liburannya di sana."

__ADS_1


Safir yang baru beberapa suap melahap makanannya, ia seketika menghentikan gerak tangannya yang akan kembali menyuapkan makanan saat Reina memberitahukan perihal Queen.


Ada rasa lega karena Queen sudah sampai Australia dengan selamat. Tapi ada juga rasa khawatir, karena ia tahu, ini kali pertamanya Queen bepergian jauh seorang diri. Jauh yang memang begitu sangat jauh. Tidak mau hanyut dengan perasaannya sendiri, Safir hanya tersenyum samar di saat hatinya kembali tidak menentu. Jalan hidup mereka sudah berbeda. Maka sekarang Safir hanya akan mendoakan untuk kebaikan Queen.


__ADS_2