
Aris sempat mengira salah melihat Queen yang kini sudah menggunakan pakaian serba tertutup. Membuat Queen yang memang pada dasarnya sudah cantik, kini semakin terlihat semakin cantik dan juga anggun. Tanpa pikir panjang lagi, Aris segera menghampiri Queen yang baru saja memesan makanan.
Rasanya sore ini Arie seolah mendapatkan rezeki nomplok. Datang ke Jakarta karena mengurus beberapa pekerjaan. Dan sekarang dirinya bisa bertemu dengan gadis yang sejak dulu Aris sukai. Entah sudah berapa kali Aris menyatakan cinta pada Queen, tapi sekalipun Queen tidak pernah memberikannya kesempatan, dan menolak Aris dengan tegas. Aris bahkan bingung dengan bagaimana caranya agar Queen luluh. Aris harus mencari celah. Apalagi lelaki yang Queen sukai sejak dulu sudah menikah. Bukankah ini adalah peluang yang sangat besar untuk Aris.
"Queen," panggil Aris setelah Queen memesan beberapa menu untuk makan sore ini.
"Eh, Aris," Queen sedikit terkejut karena melihat lelaki tersebut. Tapi kini Queen tersenyum kecil agar dirinya tetap ramah dengan siapapun.
"Aku pikir tadi aku salah melihat. Karena setahu aku, kamu kuliah di Australia kan?" tanyanya setelah mendaratkan tubuhnya dikursi tepat di depan Queen. "Sorry, aku boleh gabung disini kan?"
Sungguh, Queen sebenarnya sedang tidak ingin di ganggu ataupun berbasa-basi dengan orang lain. Tapi mau bagaimana lagi kalau sekarang Aris sudah duduk bersama dengannya. Tidak sampai hati juga Queen mau meminta Aris untuk mencari meja lain.
"Tidak masalah."
"Jadi, kenapa sekarang berada di Jakarta?" tanya Aris ulang karena Queen belum memberikan jawaban untuknya.
__ADS_1
"Hanya tidak jadi saja. Sepertinya kuliah disini juga tidak kalah menyenangkan."
Aris mengangguk saja, sekalipun dirinya tidak begitu puas menerima jawaban dari Queen. Aris memilih memesan makanan terlebih dahulu agar nanti mereka berdua bisa makan bersama.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aris serius. "Maksudnya aku, kalau kamu kuliah di sini, masih rawan untuk kamu bertemu dengan Safir."
"Memangnya kenapa Ris, kalau aku bertemu dengan Safir? Tidak akan ada masalah kok," ucap Queen santai. Queen memang tidak bisa membicarakan masalah pribadinya pada sembarangan orang. Entah kenapa, kalau orang itu bisa terlihat positif di mata Queen, mungkin Queen akan bersikap biasa saja dan cenderung terbuka.
"Aku pikir tujuan kamu mau kuliah ke Australia itu untuk melupakan Safir. Maka menurutku kalau kamu di sini, kamu bisa saja dengan mudah kembali bertemu dengannya."
"Mau dilupakan seperti apapun pasti tidak akan bisa kecuali kalau aku amnesia," ucap Queen kemudian terkekeh sendiri. "Lagian aku sudah bertemu dengannya lagi, dan aku masih baik-baik saja sekarang. Oh iya, kamu ada keperluan apa datang kesini?" tanya Queen. Sebenarnya Queen tidak ingin tahu kepentian Aris. Hanya saja untuk mengalihkan pembicaraan tentang dirinya, sekarang Queen berusaha ingin tahu perihal Aris saja.
"Maaf, Aris. Tapi besok aku punya pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Mungkin lain kali ya?"
"Selama di Jakarta, aku menginap di hotel ini kok. Jadi kabari aku ya kalau kamu punya waktu luang."
__ADS_1
"Ok!" jawab Queen singkat saja.
Tidak lama kemudian, pesanan makanan Queen sudah sampai. Karena sudah terlalu lapar, Queen meinta maaf pada Aris kalau dirinya makan lebih dulu. Selang beberapa menit, pesanan makan Aris juga datang. Kini keduanya nampak tenang menikmati menu milik mereka masing-masing.
Hanya obrolan kecil yang terjadi diantara mereka berdua. Itupun yang lebih banyak membuka pembicaraan adalah Aris. Queen cukup menanggapi saja dengan ramah.
Queen menghargai Aris yang menyukainya. Karena perasaan seseorang memang tidak bisa di kendalikan. Tapi mau bagaimanapun cara Aris, Queen memang tidak suka Aris yang terlalu gencar menyatakan perasaan terang-terangan tanpa melakukan pendekatan dengan cara yang baik. Ini bukan soal Queen yang menyukai Safir. Tapi ini memang penilaian pribadi Queen terhadap Aris.
Hingga tidak lama kemudian, seluruh menu yang sejak tadi mereka nikmati sudah habis tanpa sisa. Membuat perut keduanya terasa begitu kenyang.
"Biar aku saja yang bayar," Ucap Aris yang ingin mentraktir gadis pujaan hatinya.
"Tidak perlu Aris, aku makan disini gratis kok. Terima kasih ya? Aku duluan," ucap Queen dan segera berlalu dari sana.
"Apa ini hotelnya DS Group? Tapi nama hotelnya saja tidak ada kaitanya dengan nama besar keluarga Pak Yusuf," gumam Aris menerka-nerka.
__ADS_1
Kini kedua mata Aris terpaku pada punggung Queen yang semakin menjauh. Gadis cantik yang sulit sekali untuk Aris dapatkan selama Queen menjadi adik tingkatnya semasa kuliah, hingga saat ini. Saingan terberat Aris memang Safir.
"Bagaimana cara aku bisa memilikinya ya?" gumam Aris sambil mengusap dagunya. Sedangkan kini pikiran Aris jadi berkelana untuk menemukan jalan keluar.