Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 64 Menyiksa Batin


__ADS_3

Begitu memasuki kamar, Divya segera meraih aerphone bluetooth untuk melihat film yang baru saja di kirimkan oleh teman Divya yang kini menetap di Amerika. Divya nekat untuk menonton film blue tersebut karena dirinya ingin mempelajari banyak hal. Divya memang memiliki banyakk imajinasi. Tapi yang Divya bayangkan tidak sejauh selerti yang Santi ucapkan.


Awalnya Divya nampak santai saja saat melihat film yang baru saja mulai. Namun, kini Divya hanya bisa tercengang saat adegan utama di perlihatkan. Divya sampai menghentikan putaran video sejenak. Siapa yang bisa menduga jika di video tersebut sampai di perlihatkan inti tubuh pasangan yang sejak tadi bercumbu mesra. Saat film menampilkan adegan berciuman saja, seluruh tubuh Divya sudah semakin panas karena terlihat begitu brutal dan peran yang begitu menikmati momen cumbuan mereka. Lalu bagaimana jika Divya melihat semuanya. Sedangkan selama ini, Divya hanya melihat yang seperti ini, tidak sampai memperlihatkan anggota tubuh yang begitu detail.


Divya menarik nafasnya dalam-dalam. Ia harus segera melanjutkan film agar tahu adegan selanjutnya. Pikiran Divya semakin melayang kemana-mana saat matanya melihat film dan imajinasinya mulai liar. Divya jadi berpikir kalau mungkin saja dirinya bisa melakukan seperti apa yang perempuan di video lakukan. Mungkinkah Safir akan menyukai hal seperti ini?


Seluruh tubuh Divya di buat merending. Inti tubuhnya terasa berdenyut ketika bayangan liar itu mulai ia perankan. Membuat seluruh tubuh Divya sempat terasa panas untuk beberapa saat. Apalagi saat Divya mendengar dengan jelas suara desa*han yang terdengar sangat er**otis dan begitu mendebar.


Divya menoleh. Melihat punggung Safir yang sejak tadi sudah tidur lelap. Divya jadi berpikir, mungkin saja saat ini Safir sedang menahan diri karena dirinya sedang bulanan dan takut keinginan itu tidak bisa tuntas jika menyentuhnya sampai jauh.


Divya menggeser posisi tidurnya. Ia memeluk Safir dari belakang secara perlahan. "Cukup pikirkan aku saja. Aku cinta kamu, Fir,' gumam Divya. Sampai pada akhirnya Divya mulai terlelap terbuai mimpi.


*


Esok paginya. Sejak beberapa hari tinggal di rumah Hendri, Safir memang selalu bangun lebih awal. Ia akan pergi ke masjid terdekat bersamaan dengan Hendri dan beberapa pekerja lelaki yang ikut tinggal di sana. Sedangkan Divya, begitu mengetahui kalau Safir sudah keluar kamar, ia bergegas bangun untuk mencuci wajah dan kembali menggosok giginya. Ia merapihkan penampilan dan menggunakan make up tipis untuk mempercantik diri. Tidak lupa pula Divya menggunakan wewangian yang begitu menyenangkan aromanya, berharap Safir nanti menyukai semuanya.


Klek!


Divya langsung menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Jantungnya sudah berdegup kencang karena membayangkan kalau mungkin saja semuanya akan terjadi seperti yang ada di film semalam.

__ADS_1


"Tumben kamu sudah bangun?" tanya Safir saat melihat Divya tersenyum. Setelah meletakkan peci di tempatnya, Safir langsung mendaratkan lagi tubuhnya di atas ranjang. Rasanya Safir ingin olah raga seperti kebiasaan yang telah ia lakukan selama di rumah. Tapi beberapa hari tinggal di rumah ini, yang ada di pikiran Safir adalah tidur lagi. Safir yang memang selalu tidur cukup waktu, membuatnya kekurangan tidur selama tinggal di sini, hanya perkara cahaya kamar.


Sudah tiga kali Safir meminta Divya untuk tidur menggunakan lampu temaram saja jika memang tidak menyukai gelap-gelapan. Tapi Safir memilih mengalah karena malas mendebat Divya yang tetap enggan menggunakan lampu seperti maunya Safir. Mengalah adalah pilihan yang tepat agar tidak terjadi percekcokan. Padahal Safir sudah mengatakan kalau ia tidak bisa tidur di bawah lampu terang. Tanggapan Divya justru meminta Safir untuk terus memejamlkan mata saja karea lama-lama juga Safir akan tertidur dengan sendirinya. Seperti yang sudah terjadi dengan Safir beberapa hari ini.


"Kamu turun dari ranjang tadi aku kerasa, makanya aku bangun."


"Maaf ya karena aku jadi mengusik kamu," ucap Safir yang kemudian mendaratkan tubuhnya.


'Dia enggak merasa aneh kah dengan penampilan aku sekarang? Enggak sadar pa kalau aku sudah lebih segar atau memuji wangi begitu. Memangnya aromaku tidak tercium ya?' gerutu Divya sambil menatap Safir.


Masa bodoh dengan apa yang di lakukan Safi saat ini. Yang terpenting sekarang Divya kembali melancarkan aksinya. Apa salahnya kalau dirinya mengikuti saran yang di berikan oleh Santi. Siapa yang tahu kalau hal itu akan menghilangkan rasa canggung yang masih mendera hati mereka.


"Kamu ngantuk lagi ya?" tanya Divya sambil mengusap dada Safir.


Bahasa tubuh yang begitu berbeda membuat Safir bisa merasakan apa yang kini sedang Divya inginkan. Kalau saja akan terdengar wajar jika ia mengatakan pada Divya kalau mereka menunda dulu untuk melakukan hal-hal yang seperti itu, sudah pasti akan Safir katakan.


'Apa aku harus berlagak seperti kucing yang di suguhi ikan asin dan langsung aku santap saja? Tapi aku tidak bisa seperti itu. Pikiranku benar-benar belum tenang. Tapi sekarang aku jadi merasa bersalah karena pasti Divya meminta hal-hal yang lebih,' batin hati Safir saat merasakan pergerakan Divya yang terasa senang menempelkan dadanya pada tubuh Safir.


Safir hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia hanya harus fokus pada Divya saja. "Tidak juga Aku hanya ingin tiduran saja. Kenapa?"

__ADS_1


"Aku ingin saja pelukan sama kamu," ucapan Divya begitu mendayu-bayu seolah ia ingin sekali di sentuh. Sedangkan tangan Divya semakin bergerak turun.


Grep!


Safir langsung menggenggam tangan Divya. Siapa sih yang tidak ingin melakukan hal-hal yang jauh dengan istri sendiri. Tapi Safir benar-benar belum ingin karena pikirannya runyam akibat perbuatannya sendiri.


"Fir," panggil Divya. Ia membalas tatapan safar dengan begitu sayu karena mau sesuatu.


Kalau mau di pikir ulang juga, wajar jika Divya mau melakukan banyak hal dengan Safir. Hanya Safir saja yang terus menahan diri sampai menyiksa batin Divya.


'Aku yang salah. Dan ini adalah pilihan hidup yang aku mau. Seharusnya aku tahu diri dan sadar diri,' gumam hati Safir.


Divya langsung memejamkan kedua matanya saat bibir mereka kembali bersatu, Ia sangat senang dengan jantung yang begitu berdebar saat merasakan kaitan hangat yang mereka lakukan. Saling menyesap untuk saling bertukar saliva.


Divya mengekang leher Safir. Tangannya menyentuh kepala Safir. Ini adalah pilihannya agar Safir mau berpagut mesra lebih lama lagi dari yang biasanya.


"Fiiirrr ..."


Untuk sesaat, Safir menghentikan perbuatannya saat ia sudah berpindah menyesap leher Divya. Pikirannya kembali runyam lagi. Tapi jika dirinya kembali mengakhiri perbuatannya seperti biasa, maka Divya pasti akan curiga dengan dirinya.

__ADS_1


'Kamu sudah bertekat kan? Maka perlakukan istrimu sebaik mungkin, Safir,' gumam hati Safir mengingatkan diri sendiri.


__ADS_2